Wakaf dengan cara Kapitalis (5)

Kapitalisme
lustrasi: kapitalisme

Wakaf dengan cara Kapitalis (5)

Kisah duka akibat krisis moneter di Indonesia tahun 1997 masih terbayang dengan  jelas. Perekonomian hancur,  negara harus berutang kepada rentenir asing IMF dan Bank Dunia. Perusahaan pelat merah (BUMN) diobral dengan harga murah demi menyelamatkan negara dan rakyat. Hutang pihak swasta dialihkan menjadi hutang publik, kebangkrutan segelintir orang itu harus ditanggung oleh seluruh warga negara. Maka pajak akan semakin luas dan mahal, subsidi dicabut, harga BBM meningkat tajam dan biaya hidup membumbung tinggi. Lembaga donor kehilangan sumber pendapatan, maka “kedermawanan sosial” yang bertumpu pada permainan riba inipun seketika ikut musnah.

Allah Swt dengan tegas menyatakan  “memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS. Al-Baqarah:276). Sistim finansial global yang berlaku saat ini, dan kita ikut serta didalamnya, sepenuhnya berbasis riba. Transaksi ekonomi tidak ditopang oleh harta riil, melainkan hanya angka-angka dalam kertas dan bite komputer, hanya fantasi semata.

Jalan Islam melalui muamalat, adalah solusi penyelamat dari kehancuran sistim riba. Perdagangan di sektor riil merupakan motor penghasil surplus, kekayaan berputar, harta berpindah dari satu tangan ketangan lainnya. Dengan riba, kekayaan menumpuk pada segelintir orang, harta berhenti pada sedikit tangan. Perdagangan dengan sendirinya akan menyuburkan sedekah, surplus perdagangan tidak akan menghasilkan “kedermawanan palsu” sebagaimana yang ditawarkan oleh sistim riba.

Suatu ketika Rasulullah Saw menyembelih seekor kambing dan meminta Aisyah untuk berbagi dengan orang lain, kemudian beliau bertanya, “Apakah masih ada yang tersisa dari kambing itu?” Aisyah menjawab, “Habis Ya Rasulullah, tinggal sampil mukanya saja.” Mendengar jawaban ini Rasulullah Saw berkata, “Semuanya masih tersisa, kecuali sampil mukanya.”  (Dikisahkan oleh Imam Tirmizi).

Begitulah harta yang disedekahkan tidaklah berkurang, ia akan tetap tinggal di akhirat kelak. Harta yang kita makanlah yang akan habis. Dalam hadistnya yang lain, Rasulullah Saw mengatakan, “Dunia adalah rumah bagi orang yang tidak mempunyai rumah di akhirat, dan harta dunia adalah harta bagi yang tidak mempunyai harta di akhirat.”

Untuk bisa memiliki harta dan rumah di akhirat caranya lewat sedekah. Bersedekah dengan harta yang habis sekali pakai pahalanyapun  sekali waktu juga. Berbeda dengan wakaf  yang memberikan manfaat lestari maka balasan pahalanyapun abadi. Selama harta wakaf terus mengalirkan manfaat maka selama itu pula pahala mengalir kepada si wakif walaupun dia sudah meninggal dunia.

*) Disarikan dari buku “Wakaf dengan cara Kapitalis, Ditulis oleh Zaim Saidi

Advertisement