Wakaf dengan cara Kapitalis (7)
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sampai kamu men-sedekahkan
sebagian harta yang kamu cintai” (QS.Ali Imran:92)
Ketika QS. Ali Imran: 92 turun, para sahabat Nabi Saw, seperti Abu Thalhah dan Umar Ibn Khattab kontan men-sedekahkan kebun kurmanya masing-masing. Inilah awal dari sunnah untuk bersedekah dengan tujuan jangka panjang, yaitu wakaf. Rasulullah bersabda: “Membudidayakan pohonnya dan memanfaatkan buahnya”
Dibandingkan dengan sedekah biasa, yaitu sedekah “konsumtif” – sedekah yang langsung dipakai untuk keperluan sesaat, keutamaan wakaf atau sedekah jariyah jauh lebih tinggi, karena pemanfaatannya yang terus-menerus. Kita menyebutnya sebagai wakaf “produktif”, meskipun pada dasarnya semua wakaf haruslah produktif.
Jika atas sedekah biasa yang sifatnya konsumtif, Allah balas dengan 700 kali lipat, apalagi untuk sedekah jariyah, Allah memberikan pahala abadi selama aset wakaf terus mengalirkan manfaat. Dalam ilmu ekonomi, sedekah konsumtif disebut sebagai biaya atau expense, sedangkan sedekah jariyah (wakaf) disebut sebagai cost atau investasi, dikeluarkan sekali waktu namun manfaatnya mengalir berkali-kali tanpa henti.
Dengan adanya Lembaga Amil Zakat (LAZ) maka orang semakin mudah bersedekah jariyah. Sedekah yang kalau diberikan secara individu relatif kecil dan kurang berdampak signifikan, maka akan menjadi lebih bermakna bila sedekah dikumpulkan secara gotong-royong, untuk membangun sebuah aset produktif.
Bersedekah janganlah ditunda-tunda, menunggu tua atau menjelang ajal baru berwasiat untuk bersedekah. Sebab, harta yang ada ditangan seseorang yang diambang ajal, pada dasarnya akan segera menjadi milik ahli warisnya. Karena itulah, Rasulullah Saw membatasi sedekah wasiat maksimal 1/3 dari total harta. Berwakaflah selagi masih muda dan sehat. Sebab bersedekah diwaktu muda itulah yang akan menjadi tabungan hari tua. Terutama wakaf, akan mengalirkan pahala selama para wakif masih hidup dan bahkan terus mengalirkan pahala akhirat manakala mereka telah meninggal dunia.
Pesan Rasulullah Saw itu juga bermakna bahwa untuk mencapai kebajikan yang sesungguhnya, yakni melalui sedekah jariyah, tidak perlu menunggu kita memiliki harta banyak. Tindakan bersedekah adalah perwujudan dari ketakwaan, bukan soal besar atau kecilnya harta yang disedekahkan.
*) Disarikan dari buku “Wakaf dengan cara Kapitalis, Ditulis oleh Zaim Saidi




