BONDOWOSO – Setiap desa dituntut bisa mandiri dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, karenanya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso, Jawa Timur, sudah membentuk 25 desa tangguh bencana.
“Pembentukan destana yaitu membentuk organisasi masyarakat yang peduli dan berperan aktif dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, dan semua komponen dan organisasi masyarakat desa dilibatkan,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (Kabid PK) BPBD Bondowoso Saefudin Suhri di Bondowoso, Kamis (6/10/2016).
Dilansir Antara, ia mengemukakan bahwa pembentukan desa tangguh bencana di Kota Tapai itu sudah dilakukan sejak 2015 dan terbentuk sebanyak 15 desa tangguh bencana dan dilanjutkan di tahun 2016 sebanyak 10 desa.
Dari 209 desa/ kelurahan di Kabupaten Bondowoso, kata dia, jumlah desa yang sudah terbentuk sebanyak 25 desa yang memang benar-benar rawan akan terjadinya bencana longsor, angin puting beliung serta banjir.
Hal tersebut dilakukan karena Bondowoso berpotensi bencana, “Seluruh desa di Bondowoso ini sangat berpotensi terjadi bencana, oleh karena itu BPBD membentuk desa tangguh bencana mulai dari desa yang selama ini kerap dilanda bencana alam,” katanya.
Ia menyebutkan, pembentukan desa tangguh bencana dibagi sejumlah bidang, diantaranya bidang kesehatan, PMI, dapur umum, bidang evakuasi, dan komunikasi. Dab semua bidang tersebut melibatkan komponen masyarakat desa.
Pembentukan desa tangguh bencana, lanjut dia, didahului dengan sosialisasi tentang kebencanaan kemudian dilanjutkan dengan simulasi pelatihan penanggulangan bencana.
“Jadi ketika terjadi bencana di desa, mereka tidak panik dan sudah mengerti apa yang harus dilakukan atau warga tidak pasif menunggu tim dari BPBD apalagi lokasinya jauh dari pusat kota,” ucapnya.
Sementara itu, Supandi Kepala Desa Solor, Kecamatan Cerme, Supandi, mengatakan bahwa dengan dibentuknya desa tangguh bencana di desanya sangat membantu masyarakat untuk penanggulangan dini saat terjadi bencana.
“Selama ini di desa kami sering terjadi puting beliung dan beberapa tahun lalu ratusan rumah warga kami hancur berantakan diterjang puting beliung dan masyrakat ketika itu panik dan berhamburan melarikan diri,” katanya.





