Begini Suasana Kampung Deret Pisangan Timur Setelah 2 Tahun Berdiri

Susanti warga kampung deret Pisangan Timur. foto Aditya kbk

JAKARTA (KBK) – Pintu rumah Olil (48) terbuka lebar ketika hujan mulai turun membasahi tiap jengkal pemukiman padat penduduk itu. Dengan wajah bantal, Olil mengelapi lantai yang basah terkena tetesan air hujan.

Sejak rumahnya ikut program kampung deret yang diinisiasi oleh Pemprov DKI Jakarta awal 2014 silam, meski diguyur hujan namun lingkungan rumah Olil tetap terlihat bersih, tidak terlalu becek, lebih manusiawi dan jauh dari kesan kumuh.

“Sebelum ada program kampung deret, perkampungan di sini semerawut, terlihat kumuh, jalanan juga sempit,” ucap warga RT 10, RW 15, Kelurahan Pisangan Timur, Pulogadung, Jakarta Timur itu kepada KBK, Rabu (12/10/16).

Kampung deret di Pisangan Timur dibangun di RW 15, meliputi 5 RT dengan total rumah yang “dideretkan”  berjumlah 219 unit. Dari pantauan KBK Rabu (12/10/16) wajah permukiman di RW 15 Pisangan Timur, tepatnya di Gang Kana masih sangat melekat dengan suasana kampung deret dengan ciri rumah berornamen betawi, berkelir abu-abu dan berdiri rapih sejajar dengan jalan atau gang.

Akses jalan masuk ke sejumlah gang yang berada di RW 15 juga apik, lurus dan muat dilalui sepeda motor. Menurut cerita Olil,  bagian depan sejumlah rumah warga dibongkar, lalu dibangun kembali ke dalam sejauh 40 cm – 1 meter guna memperlebar jalan. Mereka pun  kompensasi Rp 9 juta hingga Rp 54 juta per setiap hunian.

“Tapi ada juga sih yang menolak ikut, kalau nggak mau ikut ya tidak diberikan kompensasi,” ucap Olil yang mengaku medapatkan kompensasi sebesar Rp 18 juta untuk merenovasi rumahnya seluas 4 x 6 meter persegi.

Rahmat (30), tetangga depan rumah Olil juga mengungkapkan hal senada. Sejak dicanangkan program kampung deret, rumahnya yang seluas 3 kali 12 meter persegi menjadi lebih hidup meski harus mundur 40 cm. Ia mendapatkan kompensasi sebesar Rp 54 juta guna membangun kembali hunian mungilnya.

“Perubahannya sangat terasa, rumah di sini jadi pada bagus dan jalan lebar,” kata Rahmat di depan rumahnya.

Lain lagi dengan Susanti (34) warga RT 09, RW 15. Menurut ibu dua anak itu, kampung deret memberikan perubahan besar bagi warga Pisangan Timur, khususnya dalam menjaga kebersihan. Sejak dijadikan Kampung Deret seluruh saluran air di tutup beton, dan warga tak lagi dapat membuang sampah sembarangan, jalanan pun makin lebar.

“Selain kompensasi Rp 54 juta, saya juga dapat akses septic tank, ditanam di tengah jalan untuk digunakan bersama 4 kepala keluarga lainnya. Kalau dulu masih sering ke MCK,” jelas Susanti sambil menyapu teras rumahnya.

Namun program kampung deret masih memiliki kekurangan. Berdasarkan cerita ketiga warga itu masing-masing pemilik rumah harus membongkar tabungan pribadi guna menutup biaya penyelesaian rumah.

Seperti halnya Rahmat yang harus menggelontorkan Rp 96  juta untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya. Sementara Susanti mesti nombok Rp 21 juta untuk membereskan bagian depan dan lantai dua kediamannya.

“Habisnya tanggung kalau tidak dibereskan semua, jadi saya selesaikan saja pakai uang tabungan,” ujar warga asli Pisangan Timur itu.

kampungderet1

kampungderet2

kampungderet3

kampungderet4

kampungderet5

kampungderet6

Advertisement