BOJONEGORO – Surutnya banjir di Bojonegoro akibat luapan Sungai Bengawan Solombuat para petani bergegas memanen tanaman padinya lebih awal setelah terendam banjir.
Hal tersebut dilakukan karena jika dibiarkan terlalu lama terendam air maka hasil panen tidak bisa maksimal. Beberapa desa di bantaran bengawan solo yang melakukan panen padi lebih awal diantaranya Pomahan, Karangdayu dan Kauman, Kecamatan Baureno.
Selain itu Desa Temu, Kedungarum, Pucangarum dan Pilang, Kecamatan Kanor. Lahan padi petani di desa tersebut terendam air sejak kemarin.
Dengan terburu-buru, ratusan warga menebas padi mereka yang masih hijau dengan sebilah celurit. Setelah potongan padi terkumpul, kemudian dibawa ke dataran tinggi untuk di rontokkan dengan mesin grantek.
Menurut Kamsun, salah satu petani di Desa Kedungarum, air yang merendam tanaman padinya mulai kemarin malam. Air meluber dari sungai Apur Ingas yang tanggulnya jebol. “Kali apur ingas sedang meluap karena luberan dari Sungai Bengawan Solo,” ujarnya, Jumat (14/10/2016), dikutip dari beritajatim.
Kamsun menambahkan, idealnya tanaman padinya juga milik petani lainnnya baru bisa dipanen seminggu lagi. Sebab, bulir padi masih banyak yang hijau. Bahkan, milik petani lainnnya masih rata yang hijau tetapi terpaksa dipanen.
“Dari pada nanti tidak panen. Terendam dua hari saja nanti sudah busuk buahnya,” tambahnya.
Diketahui, ratusan hektare padi milik warga di beberapa desa di bantaran Sungai Bengawan Solo banyak yang dikorbankan tenggelam karena saat hendak dipanen sudah tidak terlihat buah padinya, karena terendam air.




