MEULABOH – Banjir yang terus meluas dengan ketinggian terus naik menyebabkan sedikitnya 6.883 jiwa atau 1.925 kepala keluarga menjadi korban banjir di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh.
Banjir meluas menjadi di 12 kecamatan, yang kemarin hanya merendam tujuh kecamtan.
“Kemarin banjir masih terjadi pada tujuh kecamatan, kemudian terus meningkat tadi malam. Hingga pagi ini kami terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial meminta agar segera dikirimkan logistik ke tempat-tempat pengungsian,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penangulangan Bencana Derah (BPBD) Aceh Barat Iraidi di Meulaboh.
Adapun kecamatan yang dilanda banjir tersebut yakni Kecamatan Johan Pahlawan dengan 117 kepala keluarga (KK) atau 823 jiwa, Arongan Lambalek satu desa yaitu Woyla Timur, 113 KK atau 278 jiwa, Woyla Barat 897 KK atau 2.998 jiwa.
Kemudian Kecamatan Meureubo sebanyak 256 KK atau 1.010 jiwa, Kecamatan Kaway XVI 271 KK atau 1.025 jiwa, Bubon 30 KK atau 100 jiwa, kemudian Kecamatan Samatiga 104 KK atau 573 jiwa.
BPBD Aceh Barat bersama semua unsur yang terlibat telah melakukan evakuasi sebagian warga, kemudian mendirikan tenda pengungsian di Desa Pasie Masjid dan Gedung SKB Lapang, kemudian titik pengungsian selanjutnya di Desa Pasi Ara tepatnya di atas gunung Kecamatan Woyla Timur.
Namun sebagian besar warga korban banjir tidak mengungsi pada titik disediakan karena fasilitas tenda darurat tidak mencukupi, bahkan juga belum tersedia dapur umum untuk pangan korban banjir.
“Persoalan logistik itu nanti Dinsos yang menangani, kami masih terus mendata kerusakan dan pengungsian warga korban banjir, sebab cuaca masih mendung. Kami khawatirkan banjir bisa meluas lagi,” katanya.
Sementara itu korban tewas akibat banjir dilaporankan Pusdalop BPBD Aceh Barat, beridentitas Banta Lidan (75), warga Desa Pasie Masjid, Kecamatan Meureubo.
Korban meninggal Senin (17/10) pukul 20.00 WIB karena sakit. Aparat desa bersama unsur muspida kabupaten saat ini dalam kondisi kesulitan mencari tempat pemakaman karena semua kawasan desa rata direndam air banjir.
Sementara itu informasi yang diperoleh langsung dari pihak desa setempat, sebelum meningal korban dalam kondisi sehat, bahkan rumah Banta Lidan belum semua terendam oleh genangan air banjir meluapnya Sungai Mereubo sehingga korban tidak keluar untuk mengungsi.
“Soal Logistik nanti dulu, saya saat ini sedang berada di rumah warga yang mengalami musibah meningal,” kata Kepala Dinsosnaketrans Aceh Barat Shah Triza Putra Utama, kepada Antara.





