
CILACAP – Pembunuh kejam, seorang bankir Inggris yang telah menghabisi nyawa dua tenaga kerja Indonesia (TKI) di HOngkong diminta bertanggungjawab dengan membiayai hidup anak Sumarti Ningsih, salah satu korban.
Hal tersebut diungkapkan keluarga almarhum Sumarti Ningsih, salah satu korban pembunuhan yang digambarkan didahului siksaan di Hong Kong. Mereka berharap pelaku dihukum maksimal dan diharuskan menanggung biaya hidup anak yang ditinggalkannya.
Ayah almarhum Sumarti Ningsih, Ahmad Kaliman, (61) mengatakan kepada bahwa ia mengerti di Hong Kong tak ada hukuman mati, namun ia mengarapkan hukuman setimpal.
Kaliman menyatakan sangat marah setelah mengetahui bahwa ada penyiksaan terlebih dahulu terhadap anaknya.
“Saya sangat geram, marah dengan kondisi seperti itu. Saya baru diberitahu, bahwa pada saat sebelum pembunuhan anak saya disiksa terlebih dahulu. Itu yang membuat saya semakin tidak terima dan tentu saja sangat sedih,”ungkapnya, di rumahnya di Dusun Banaran, Desa Gandrungmangu, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap, seperti dilaporkan BBC Indonesia.
“Almarhum berangkat ke Hong Kong, bekerja untuk membahagiakan keluarga dan menuntaskan pendidikan anaknya.”
Oleh karena itu, selain meminta agar pembunuhnya dihukum berat sesuai dengan hukum di Hong Kong, keluarga juga mengharap anak Sumarti Ningsih yakni Muhamad Hafiz Arnovan juga diperhatikan. “Kami meminta agar pembunuhnya diharuskan bertanggung jawab terhadap hidup anaknya Sumarti Ningsih. Kami minta agar dia dibiayai pendidikannya sampai selesai kuliah.” tandasnya.
Kaliman mengakui bahwa sepeninggal Sumarti Ningsih, kondisi ekonomi keluarga cukup berat. Sebab, almarhum merupakan tulang punggung keluarga.
“Pada saat bekerja di Hong Kong, Sumarti Ningsih mengirimkan uang sampai Rp5 juta. Uang tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan seari-hari dan biaya sekolah anaknya. Tetapi kini, saya hanya mengandalkan menggarap sawah dengan hasil yang tidak seberapa,” tambahnya.
Anak Sumarti Ningsih, Muhamad Hafiz Arnovan, 7, kini sudah mengenyam pendidikan di SD Negeri 3 Gandrungmangu, Cilacap, Jawa Tengah.
Sang ibu, Suratmi (51) juga mnegaku sangat kehilangan, “Sumarti Ningsih sudah pergi dan tidak bisa digantikan. Selama dua tahun sepeninggalnya, kami harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Kami tak cukup penghasilan untuk membiayai pendidikan dan hidup anak Sumarti Ningsih yang masih kelas 2 SD,” katanya pilu.
Diketahui, Sumarti Ningsing dan Seneng Mujiasaih dibunuh November tahun 2014 lalu di apartemen Rurik Djutting, kawasan Wan Chai, Hong Kong. Sebelum dibunuh mereka disiksa terlebih dahulu dan penyiksaan sempat direkam oleh pelaku.



