PILANG (KBK) – Sekitar 8 orang Tim Respon #MelawanAsap Disaster Management Center (DMC), Dompet Dhuafa dan Tim Relawan dari Regu Pemadam Kebakaran (RPK) Buta, menaiki perahu di Sungai Kahayan, menuju anak sungai Angai, Desa Pilang, Kecamatan Jebiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, untuk memadamkan api yang merambat ke kebun karet milik warga sekitar 200 meter dari pinggir Sungai Angai.
Seperti dikatakan Kepala Urusan Pemerintahan Desa Pilang, Rusli, kepada KBK, Kamis (22/10/2015), api sudah melalap hampir 80 persen kebun karet warga yang berjumlah sekitar 6.000 hektare.
“Kini kami berjuang mempertahankan lahan yang 20 persen lagi,” ujar Rusli.
Ia juga bersyukur atas bantuan Tim Respon DMC Dompet Dhuafa, yang turut membantu. “Segala bantuan, baik berupa 2 sumur bor dan relawan pemadam, kami sangat hargai sekali,” tambahnya.
Sesampai dilokasi, tim melakukan survey ke 10 titik api yang akan dipadamkan. Kemudian tim beristirahat sejenak mempersiapkan diri. Direncanakan pemadaman akan dilakukan malam hari.
“Tiba-tiba ada angin kencang berhembus, api yang tadi sembunyi di dalam gambut, mendadak membesar. Tim kocar-kacir dan segera mengambil alat pemadam dan bertempur dengan titik api,” ujar Adi Sumarna dari Tim Respon DMC di sela pemadaman.
Air di sedot dari Sungai Angai menggunakan 2 mesin pompa, sayang selang yang 200 meter tidak mampu menggapai semua titik api yang berada di 250 meter dari sungai. “Kami terpaksa menampung dulu pakai terpal, air yang ditampung disirami pakai semprot solo ,” ungkap Adi.
Komandan RPK Buta, Desa Pilang, Jiansyah menyatakan, bahwa inilah yang dirasakan oleh RPK selama ini. “Kami keterbatasan alat, sehingga kami susah melawan api. Sejauh ini kami swadaya, namun selalu terbatas, kadang mesin pompa rusak, nggak ada bensin, selang kurang, sementara kami harus melakukan pemadaman,” jelas Jiansyah.
Sejauh ini, tambah Jiansyah, belum ada bantuan dari manapun ke wilayahnya. Sehingga masyarakat melawan api secara mandiri. “Kami bersyukur tim DMC DD datang membantu kami memadamkan api dan membuatkan 2 sumur bor untuk memudahkan pemadaman jika ada kebakaran,” jelasnya.
Jiansyah berharap, untuk memaksimalkan pemadaman dibutuhkan bantuan selang 400 meter, dan untuk wilayah jauh dari sungai dibutuhkan sumur bor untuk 20 titik lagi.




