JIKA menyimak pemberitaan di media elektronik, koran dan jagad maya; hampir setiap hari di Indonesia terjadi kasus perkosaan. Pelakunya bisa tunggal head to head, bisa juga massal ala Sum Kuning tahun 1969. Praktisinya tak sebatas para remaja yang haus seks, tapi juga oknum-oknum yang mengerti agama. Bung Karno dulu marah jika bangsa Indonesia disebut “bangsa tempe”, tapi sekarang justru terperosok pada sebutan “bangsa ayam”. Tahu kan ayam, bagaimana mereka mewujudkan kebebasan berekspresi dalam urusan seksologi.
Tempe adalah makanan rakyat, yang kaya akan protein dan karbohidrat. Disayur, digoreng atau dibikin sambal, semuanya lezat. Tapi Bung Karno akan marah jika bangsa Indonesia diejek sebagai “bangsa tempe”. Sebab tempe itu saat dibuat lewat industri perumahan, direndam dan kemudian diinjak-injak dengan kaki telanjang. Nah, Bung Karno tidak mau bangsanya diinjak-injak seperti itu. Beliau bersama kawan-kawan dan para pendahulunya mengusir penjajah Belanda, juga karena tak mau bangsanya diinjak-injak bangsa lain.
Tapi hampir setengah abad ditinggalkan Sang Proklamator, bangsa Indonesia justru nyaris terjebak pada sebutan: bangsa ayam! Memang ayam merupakan unggas paling bebas dalam hal melampiaskan hasrat seksualnya. Ayam jago bila sudah sirig-sirig (jalan miring angkat satu kaki), tak peduli bahwa ayam betina itu induk atau bekas kuthuk (anak ayam) yang sebetulnya anak sendiri. Jika hasrat sudah muncul, si babon (induk ayam) akan dikejarnya sampai ke manapun. Bila sudah kena, si jago akan berkokok pertanda lega…., presis wajib pajak habis bayar tax amnesty.
Ayam jago tak mau mengawini dhere (ayam tanggung) apa lagi kuthuk. Tapi orang; jangankan ABG, perawan, janda, sedangkan balita saja kini sering menjadi korban kejahatan seksual. Maka bila mau berkata sejujurnya, manusia itu sesungguhnya seperti ayam juga. Jika melihat wanita cantik, otaknya menjadi kotor, membayangkan yang mboten-mboten. Untung saja manusia dikendalikan oleh agama, moral, hukum dan adat yang mengikat. Jika tidak, kebiadaban manusia lelaki lebih parah ketimbang ayam.
Seks adalah karunia Illahi untuk umatnya, sebab lewat seks manusia berkembang biak di muka bumi. Malaikat saja tidak diberikan karunia semacam ini. Jika makhluk yang bisa menembus ruang dan waktu ini diberi, pastilah manusia tidak kebagian. Tapi ternyata, karena memperoleh “monopoli” itu manusia menjadi serakah dan jumawa. Allah Swt hanya mengizinkan untuk mengawini paling banyak 4 wanita (QS Anissa ayat 3), tapi di sana-sini masih ada saja yang berusaha nambah.
Tahun 1970, Sum Kuning gadis penjual telur dari Godean Yogyakarta, telah bikin heboh senusantara karena menjadi korban perkosaan sejumlah anak muda yang –konon– pelakunya para anak pejabat setempat. Diistilahkan “konon”, karena hingga kini kasus itu masih menjadi “utang” Kepolisian RI yang tak pernah diungkap. Bahkan ironisnya kala itu, Sum Kuning yang jadi korban, malah dijadikan terdakwa dengan tuduhan menciptakan kabar bohong.
Kini, setelah jaman disebut era gombalisasi, rakyat dimanjakan oleh kemajuan teknologi. Kasus kejahatan seksual dari yang perkosaan hingga yang sifatnya kerjasama nirlaba (selingkuh), terjadi hampir setiap saat. Pelakunya bukan hanya para kawula muda dan kawula tua, bahkan yang mengerti agama sekelas guru ngaji atau ustadz, banyak juga yang terjebak pada perilaku seks durjana.
Lihat saja di jagad maya, begitu banyak oknum uztadz dan oknum guru ngaji yang jadi urusan polisi karena kejahatan seksologi. Ini sungguh mengherankan. Yang mengerti agama saja berbuat begitu. Atau jangan-jangan setan penggodanya yang sangat piawai, mungkin sarjana S3 lulusan Amerika. (Cantrik Metaram).





