JAKARTA – Tangan keriput Abduljabbar perlahan menghapus debu yang menutupi dashboard mini bus putih. Membersihkan debu yang menyelimuti mobilnya merupakan rutinitas baru bagi Abduljabbar setiap pukul 6 pagi.
“Semuanya berdebu. Pengeboman tidak pernah berhenti. Di sini sudh tidak ada bahan bakar lagi, mobil saya hanya teronggok sejak lama,” ungkap Abduljabbar warga di lingkungan Fardous Timur, Aleppo, Suriah.
Seperti dikutip Al-Jazeera, Selasa (29/11) pasukan pemerintah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia dan milisi sekutu semakin masif melancarkan serangan ke kota kedua terbesar di Suriah itu. Baru-baru ini aksi pengeboman menewaskan 400 warga sipil, serangan tersebut merupakan bagian dari serangkaian serangan yang ditujukan untuk merebut distrik Hanano yang dinilai cukup strategis guna membagi dua pasukan pemerintah untuk memblokade pemberontak.
“Para pemberontak telah gagal menembus pengepungan dan kehilangan wilayah,. Masyarakat internasional telah gagal untuk mengirim pasokan atau bantuan. Saya dan keluarga setiap hari berada di bawah bayang-bayang bom barel dan pesawat. Tidak ada tempat lain untuk pergi,” kata pria berusia 45 tahun itu.
Menurut pejabat PBB urusan kemanusiaan di Suriah Stephen O’Brien saat ini situasi di lingkungan tempat pemberontak sangat mengerikan dan tak manusiawi. Harga kebutuhan pokok di pasar lokal melambung. Begitu juga dengan harga bahan bakar dan gas.
”Dibutuhkan bantuan segera. Sebagian besar toko roti telah hancur dan toko yang masih dibuka ditutup karena tidak ada pasokan,”ujarnya.





