Mbangun Taman Maerakaca

Pendita Durna sedang merayu Wara Srikandi.

RADEN Harjuna terkenal sebagai wayang berbini sekandang koplak (banyak sekali). Setiap dewa di kahyangan, pasti jadi mertua ksatria Madukara itu. Bila Islam membatasi istri maksimal 4, Harjuna jauuuh lebih banyak berkoleksi bini. Kenapa Harjuna berani beristri satu RT? Karena dia bukan PNS, sehingga tidak terkena aturan PP-10. Di samping itu, meski punya “dapur” di mana-mana, itu semua tak sampai membebani APBD-nya tiap bulan, karena para istri tersebut cari makan sendiri. Harjuna hanya berkewajiban “nyetrom” doang!

Yang paling ironis sekaligus nylekuthis (tak punya malu), punya istri sudah ombyokan, masih juga kepengin kawin lagi dengan “sekar kedhaton” kerajaan Pancala, Dewi Srikandi putri Prabu Drupada. Begitu ngebetnya Harjuna untuk bisa “mbelah duren” bersama Srikandi, sampai-sampai jatuh sakit. Sudah beberapa kali ke dokter pakai dana BPJS Kesehatan, tapi belum juga ada kemajuan.

“Obat dari BPJS sudah diminum, segala pantangan dijalani, tapi kenapa penyakitmu tak kunjung sembuh, Kangmas? Gerangan apa yang kamu pikirkan?” tanya Sembadra sedih.

“Namanya juga baru kebageyan. Tenang saja kamu, nanti kan sembuh sendiri,” hibur Harjuna. Mau mengatakan hal sebenarnya, merasa malu dan nggak etis. Salah-salah dikepruk palang pintu.

Srikandi itu memang cantik jelita, seksi hanya sedikit “surata” alias susu rata atau kutilang darat alias: kurus, tinggi langsung, dada rata. Dibandingkan dengan artis Julia Perez, jelas sangat berlawanan. Bila dada janda Damien Perez ini mancung ke depan, dada Srikandi justru mendelep ke belakang. Kata dokter Naek L. Tobing, Srikandi memang kelebihan hormon pria, sehingga meski cantik penampilannya tomboy mirip lelaki.

Ewa segitu banyak juga pria yang mimpi hingga terbasah-basah, kepengin berbinikan Srikandi. Sebut saja misalnya, Prabu Jungkungmardeya dari Parang Gubarjo, atau Pendita Durna dari pertapan Sokalima. Dan terakhir yang masuk radar Biro Jodoh di Pancala, adalah Raden Harjuna yang terkenal sebagai “satria lananging jagad” tersebut.

Prabu Kresna dari Dwarawatipun juga sudah mendengar kabar sakitnya Harjuna. Maka setelah memantau persiapan Mudik Tahun Baru di negerinya, segera datang membezuk dengan naik taksi online. Maklum, meski raja Prabu Kresna ini gaya hidupnya ekonomis sekali. Bayar Tax Amnesty saja minta dispensasi.

Sebagai titisan Wisnu, dia tahu sumber penyakit adik iparnya tersebut. Sembadra pun dibisiki, tentang rahasia penyakit suaminya. Sebagai wanita PKS (di sini berarti: Pemaklum Kebutuhan Suami), ternyata Sembadra tak keberatan dengan obsesi Harjuna. Dia dengan senang hati ingin membantu. Prinsipnya, dengan masuknya wanita lain kan ada yang mengaplus “tugas” malam.

“Kangmas Harjuna mau kawin lagi? Wanita mana yang dipilih, saya siap melamarnya.” Kata Sembadra.

“Ah, nggak usah repot-repot. Saya baru saja kok….,” jawan Harjuna gugup. Saking groginya, ditanya mau nikah kok malah jawabnya seperti orang ditawari makan.

Tapi gara-gara “lampu hijau” tersebut, mendadak penyakit Harjuna lenyap. Kini dia kembali sehat wal afiat, rosa-rosa macam almarhum Mbah Marijan. Jika tanpa aral melintang, jadilah rasanya dia tambah koleksi bini bernama Srikandi, yang wayangnya cantik, seksi tapi sedikit “surata” tersebut.
Sementara itu di negeri Ngastina, sidang kerajaan pagi itu juga mengambil topik rencana perkawinan Durna melawan Srikandi. Mengapa Durna dengan berani menyebut “perkawinan”? Karena dia sangat optimis bahwa lamarannya bakal diterima. Soalnya, Drupada dulu pernah belajar di Ngatasangin negeri leluhur Durna, bahkan kos di rumah Prabu Baratmadya ayah kandung Durna yang kala itu bernama Kumbayana. Dus karena itu, berkat pertemanan tersebut niscaya segala ambisinya bakal berjalan lancar.

“Tapi merujuk pengalaman yang sudah-sudah, jangan-jangan gagal lagi.” Potong Patih Sengkuni.

“Nggak kok. Kali ini pasti sukses, kan begitu anak Prabu Duryudana?” ujar Durna minta dukungan raja Ngastina.

Prabu Duryudana tersenyum. Mengiyakan tidak, membantah juga bukan. Yang jelas, jika Durna berhasil mengawini Srikandi, dukungan menghadapi Perang Baratayuda beberapa tahun mendatang, dijamin akan semakin banyak. Prabu Drupada nantinya pasti memihak ke kubu Ngastina, karena Begawan Durna adalah penasihat spiritual Prabu Duryudana. Analisa para pengamat politik juga demikian, sehingga Prabu Duryudana optimis nantinya kubu Kurawa yang memenangkan peperangan.

Rombongan “pengantin” dari Ngastina berangkatlah sudah. Dengan naik busway Scania rakitan baru, Durna duduk di jok belakang disampingi Sengkuni dan Baladewa. Tiba di Pancalaradya, ternyata semua perhitungan Durna meleset. Meski dia teman lama Prabu Drupada, tetap harus mengikuti prosedur biasa. Jika ada dispensasi, paling-paling gratis isi formulir pendaftaran. Maklum, yang lainnya harus bayar masing-masing Rp 1.000.000,-

“Celaka anak prabu. Ngelamar Srikandi sudah kayak pemilihan Ketum Parpol” lapor Durna ke Prabu Duryudana lewat HP.

“Ya nggak papa. Yang penting Warga Perwayangan Asli, kan?”

Yang bikin Pendita Durna dilamun gundah gulana. Lamaran atas Srikandi telah diubah menjadi sebuah sayembara beridzin Depsos. Calon suami putri Pancala harus bisa memugar Taman Maerakaca di Pancala menjadi lebih indah dan berwawasan lingkungan. Paling bikin pusing, anggaran harus ditanggung sendiri, bukan atas beban penyelenggara. Bahkan dari anggaran peserta, panitia berhak mengutip 15 persen sebagai dana retribusi. Kayaknya belakang taman mau direklamasi juga. Beruntung Prabu Duryudana sanggup menjadi penyandang dana lewat CSR, meski anggaran terbatas.

“Oom Durna siap rehab Taman Maerakaca dengan swadana?” tantang Srikandi.

“Oo, siap, siap! Buat Srikandi, Durna siap berkorban apa saja. Rugi nggak papa, kalau perlu didolke wedhus…..,” ujar Durna, masih sempet-sempetnya marayu.

Durna sesungguhnya perombak Taman Maerakaca jilid II. Yang pertama, Prabu Jungkungmardeya telah gagal dan dieliminasi. Lalu bagaimana kira-kira proyek garapan Begawan Durna ini? Agaknya juga tak memenuhi syarat, sebab terkesan dia mau nyolong bestek, mengingat minimnya dana.

“Mandor, semennya jangan banyak-banyak ya. Yang penting nempel.” Pesan Durna wanti-wanti.

“Ini bikin taman, apa rumah BTN mbah?” si mandor sewot, karena selalu diatur.

Dalam tempo seminggu, proyek Taman Maerakaca berbasis RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) sudah jadi. Tapi seperti sudah diduga kalangan LSM, mutu bangunan Begawan Durna tidak memenuhi syarat. Itu artinya, dia merupakan peserta sayembara yang didiskwalifikasi untuk kedua kalinya.

“Gagal jadi suami Srikandi, nggak malu Mbah?” tanya wartawan.

“Ngapain malu, wong belum jodoh.” Jawab Durna santai saja.

Sebenarnya dia ingin segera pulang, tapi karena menghormati peserta ketiga yang juga mantan murid sendiri, Durna merasa tak enak hati. Dan diapun yakin benar bahwa Srikandi itu akan jadi milik Harjuna, karena berdasarkan skenario werpayangan, memang Srikandi bakal jodoh Harjuna.

Harjuna pun melanjutkan proyek Taman Maerakaca yang gagal oleh Pendita Durna. Sesungguhnya ksatria Madukara ini bukan arsitektur, wong dulu kuliah di ITB juga cuma sampai 2 semester, tapi karena dibantu sejumlah dewa kahyangan, proyek berhasil dengan bagus dan cepat. Peserta yang lain makan tempo seminggu, dengan kontraktor Harjuna dalam semalam sudah selesai. Tak mau kalah dengan Sangkuriang.

“Sebagai pemenang adalah, peserta dengan nomer undian tiga, dengan nilai 2.000.” Begitu ketua dewan juri mengumumkan.

“Selamat-selamat,  Harjuna. Satria Madukara memang oye….,” sanjung Durna.

Harjuna dielu-elukan orang, termasuk Srikandi calon istrinya. Tapi belum juga diresmikan lewat KUA, mendadak pasukan Ngastina ngamuk, karena tidak terima atas kekalahan Durna. Untung Durna berhasil meredamnya.

“Kalian jangan anarkis ya. Jika dituduh makar, bisa nggak pulang kalian. Aku saja yang kalah ora papa, karena aku memang begawan yang sejuk ….” ujar Durna santai. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement