MESKI sudah tua, Resi Gotama termasuk “doyan” juga. Punya istri demikian muda nan cantik, maka dalam usia 70 tahun masih memiliki anak-anak usia ABG. Masing-masing adalah Anjani, Guwarso dan Guwarsi. Anak pertama perempuan, dan kedua dan ketiga putra. Yang pertama duduk di SMP kelas III, Guwarso dan Guwarsi masih di bangku SD kelas VI. Hampir ujian, tapi Unas-nya belum jelas, antara jadi dan tidak untuk dimoratorium.
Dewi Windradi memang masih begitu muda, usianya belum genap kepala tiga. Dalam kondisi yang demikian enerjik tersebut, Resi Gotama sudah tak mampu lagi mengimbangi dalam urusan ranjang. Ibarat daden geni (membuat api untuk masak), susah untuk cepat menyala. Meski dikipasi tanpa henti, hanya asap saja yang keluar, sampai Sang Resi terbatuk-batuk karenanya. Maklumlah, kayu basah dipaksa masuk ke dalam tungku, mana bisa menyala!
“Maklum adinda, Kanda sudah tua. Jadi maaf ya, Kanda tak bisa lagi mengimbangi hasratmu.” Kata Resi Gotama selalu.
“Payah, masak kalah sama Mbah Marijan. Biar tua, masih rosa-rosa dia!” gerutu sang istri.
Adalah dewa Betara Surya dari kahyangan Jonggring Salaka kluster Ekacakra. Sedari dulu dia sangat terkenal jadi wayang mata keranjang. Gadis Kunthi putri Prabu Kunthiboja dari Mandura, berhasil dihamilinya. Lalu, saat merasuk ke dalam tubuh Begawan Wisrawa, Dewi Sukesi yang cantik nan seksi macam Angelina Sondakh, digaulinya beberapa kali dalam cinta semalam. MKD (Mahkamah Kehormatan Dewa) Kahyangan sebenarnya sudah menegur, tapi tak digubris, karenaMKD itu sendiri tak bergigi bahkan cenderung dagelan tak bermutu.
Sebagai dewa yang cepat tanggap darurat syahwat, Betara Surya segera tahu bahwa ada istri begawan yang jomblo di ngercapada. Dia sangat memahami aspirasi Dewi Windradi istri Resi Gotama tersebut. Putri ini memang termasuk enak digauli dan perlu, sehingga dia langsung meluncur ke pertapan Sukendra pakai Citilink penerbangan terakhir. Dewa memang bisa terbang, tapi kali ini Betara Surya sedang berhemat-hemat energi, untuk persiapan adegan ranjang bersama Dewo Windradi.
Kebetulan sekali Resi Gotama sedang sibuk baca kitab Weda di sanggar pelanggatan (ruang pemujaan), sehingga Betara Surya berhasil masuk tilamrum (kamar tidur) Windradi dalam situasi yang demikian kondusif. Namun demikian istri Resi Gotama ini kaget juga, tengah malam kedatangan tamu lelaki tak dikenal langsung ke kamarnya.
“Masak lupa? Saya kan Betara Surya dari kahyangan. Ketik saja namaku di Google, kan nanti banyak data-datang tentang saya.” Kata Betara Surya pongah.
“Oo, Betara Surya yang dulu ada skandal dengan Dewi Kunthi itu?” tembak langsung Dewi Windradi.
“Ssst, jangan keras-keras. Itu masa lalu kok Dik. Saya tak mau begituan lagi, kecuali……kepepet!”
Betara Surya – Windradi lalu ngomong ngalor ngidul, tapi posisi duduk dewa cluthak (kurang ajar) itu terus ekspansif, makin mepet ke tubuh Windradi. Sebagai wanita yang sudah lama tak disentuh, langsung byarrrr……menyala dalam voltase 240. Tak ayal lagi saat Betara Surya minta koalisi dilanjutkan dengan “eksekusi”, istri Resi Gotama tak mampu menolak. Ibarat pemain Timnas PSSI dalam Suzuki AFF Cup 2016, ternyata Betara Surya mahir menggiring bola, dan menembakkannya meski kadang meleset juga.
Sebagai ucapan terima kasih atas pelayanan Windradi yang prima, Betara Surya kemudian memberi kenang-kenangan berupa Cupu Manik Astagina. Bentuknya seperti tabung bulat, tapi kecanggihannya tak beda dengan HP smartphone. Bila piranti itu diaktifkan, siapapun bisa melihat isi dunia seluruhnya, bahkan seluk beluk kahyangan Jonggring Salaka. Jika mau, “Cupu Manik Astagina” bebas pulsa ini juga bisa dijadikan alat ngompori publik, misalnya soal penistaan agama. Untungnya di dunia pakeliran tak ada sosok wayang peniru Buni Yani, sehingga jaringan internet “Cupu Manik Astagina” tak sampai kena blokir Kementrian Kominfo.
“Tapi awas, kamu jangan perlihatkan barang ini pada pihak ketiga. Cukup dinda saja yang tahu. Minggu depan saya ke sini lagi ya…..” pesan Betara Surya dan kembalilah ke kahyangan dengan senyum simpul karena telah entuk-entukan (mendapat segalanya).
Bagi pertapan Sukendra yang terpencil, yang tak pernah terima Dana Desa Rp 1 miliar, Cupu Manik Astagina termasuk barang langka. Karenanya Windradi terkagum-kagum untuk memainkannya. Nah, saat bermain Cupu Manik Astagina secara diam-diam tersebut, putri sulung Dewi Anjani melihatnya. Sudah kepalang basah, dibiarkan saja anak itu bermain sendiri, sementara Windradi ke dapur untuk masak.
Di kala Anjani melihat gambar-gambar “aneh dan seru” di dunia maya, tiba-tiba kedua adiknya nimbrung. Guwarso – Guwarsi juga pengin menyaksikan gambar-gambar yang sangat mengasyikkan dan mendebarkan itu. Mereka bertiga berebut dan gaduh, karena memang tak tahu bahwa gambar semacam itu bisa bikin mencelat anggota DPR.
“Kalian berisik amat. Kayak demo bayaran saja kalian.” Sergah Resi Gotama, akibat semedinya di sanggar pelanggatan jadi terganggu.
“Ini Anjani punya HP aneh, kami nggak boleh lihat. Bapak yang beliin ya? Bapak tidak adil, pilih kasih.” Tuduh Guwarso – Guwarsi pada sang ayah.
Resi Gotama terkaget-kaget. Belajar dari mana anak-anak sehingga menuduh negatif pada ayah sendiri? Benda mirip cepuk itu segera disita dan diperiksa. Resi Gotama pun geleng-geleng kepala. Meski dia tak bisa mengoperasikannya, tapi demi melihat logo BS di baliknya, tahu sudah bahwa itu benda kahyangan, khususnya milik Betara Surya. Yang jadi pertanyaan, ada urusan apa Betara Surya bagi-bagi benda mahal ini kepada anak-anaknya? Apa mau bergratifikasi, ada kepentingan apa?
Baik Anjani, Guwarso maupun Guwarsi mengaku tak pernah terima gratifikasi itu dari dewa. Anjani sendiri lalu menunjuk pada sang ibu, Dewi Windradi. Resi Gotama terkejut 10 kali. Mustakhil Betara Surya memberikan sesuatu, jika tanpa tukar guling “aset” seperti biasanya. Maklum, dia sudah tahu persis seperti apa kelakuan Betara Surya.
“Dinda Windradi, ada urusan apa sehingga Betara Surya memberikan Cupu Manik Astagina ini padamu?” ujar Resi Gotama penuh selidik.
“Bukan begitu Kanda. Itu sekedar barang contoh. Jika para cantrik dan kawula Sukendra sini berminat, dan pasarnya bagus, dia akan buka proyek (pabrik) di sini….” jawab Dewi Windradi dengan cepat. Untung dia juga ahli rekayasa masalah.
Resi Gotama manggut-manggut macam Pak Harto. Dia sungguh sedih, masih anak-anak sudah diajari main proyek, macam politisi Senayan saja. Tapi lebih dari itu sang resi juga curiga bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dari kalimat Windradi. Resi Gotama sudah hafal dengan “track record” Betara Surya. Di samping pemburu “onderdil”, dia juga penggila materil. Proyek apa saja bisa turun dari kahyangan jika ada gratifikasi untuknya.
“Windradi, terus terang saja kamu. Selain memberikan cupu ini, adakah dia minta sesuatu padamu?”
“Enggak, Kanda. Cuma, cuma…….”
Kalimat Dewi Windradi terhenti di kerongkongan. Dia tak mampu mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Karenanya, meski suaminya terus mendesak dan mendesak, dia terpaku dalam diam. Demikian geregetan Resi Gotama, sehingga terlontarlah kata-kata pedas untuk istrinya.
“Orang ditanya suami kok diam saja macam tugu!” ujar Resi Gotama ketus.
Resi Gotama memang wayang sakti, mirip dengan wali. Apa yang dikatakan bisa jadi kenyataan atas kuasa dewa. Maka detik itu juga, Dewi Windradi yang cantik jelita, mendadak jadi tugu. Benda mati dari batu. Baik Anjani maupun Guwarso – Guwarsi menangis, meratapi dan merangkul tugu muda penjelmaan sang ibu, gara-gara dikutuk Resi Gotama. (Ki Guna Watoncarita)
.



