JAKARTA – Tak pernah mengeluh menerjang panas demi sesuap nasi. Itu lah Salim, kakek penjual minuman aren keliling. Langkah kakinya cekatan menyusuri Jalan Raya Bogor dari kawasan Pasar Rebo hingga Pasar Induk Kramat Jati, lalu-lalang dan bunyi klakson kendaraan yang saling bersahutan bukan sebuah rintangan lagi baginya.
Bagi kakek berusia 56 tahun itu, yang terpenting adalah bisa tetap berjualan supaya perutnya bisa terisi nasi. Ia tak lagi mengeluhkan panas matahari, juga tak pernah lelah memikul dua longsong bambu berisi air aren yang beratnya dapat mencapai belasan kilogram.
Secangkir air aren Salim jual seharga Rp 3 ribu. Menurut netizen bernama Elizu Kirei San yang bertemu Salim lalu mengunggah kisah pertemuannya itu ke facebook mengatakan bahwa air aren yang dijajakan Salim sangat nikmat, manis, dingin dan menyegarkan.
Dalam paparannya Elizu juga mengatakan bahwa Salim berdagang air aren bukan suatu paksaan melainkan dorongan nurani. Sebab jika Salim tak berdagang ia mengaku tak punya uang dan tidak bisa makan. Di Jakarta Salim tinggal di sebuah rumah kontrakan tak jauh dari Pasar Induk dengan sewa Rp 300 ribu per bulan. Sedangkan sanak keluarga Salim tinggal di Bogor.
Semakin banyaknya aneka minuman dingin yang dijual di minimarket membuat keberadaan Salim mulai terpinggirkan, sehari Salim mengaku penghasilannya tak menentu. Terkadang ia hanya bisa membawa pulang Rp 20 ribu namun tak jarang pulang dengan tangan hampa. Kendati demikian semangat Salim tak pernah padam, ia terus berjuang melawan kerasnya Ibu Kota bersama pikulan bambu berisi air aren.





