Resi Brongsong

Wara Sembadra menerima kehadiran Resi Brongsong yang mirip teroris.

HARI IBU 22 Desember kemarin mestinya Sumbadra bisa duduk santai tanpa kerja di rumah. Karena untuk sementara, di hari itu semua tugas kerumahtanggaan diambil alih oleh suaminya, Raden Harjuna. Tapi ya begini pula resiko jadi bini satriya lelananging jagad dalam dunia perwayangan. Pas di Hari Ibu suami malah ngelayap,  menggilir koleksi bini  lain yang bertebaran di segenap penjuru kotak. Karenanya, ditinggal Raden Harjuna seminggu dua minggu, itu mah sudah biasa.

Cuma kali ini sungguh keterlaluan. Sudah 10 bulan lebih bapakne kulup tak juga pulang, agaknya mau menyaingi Bang Toyib. Pergi tanpa meninggali uang belanja, itu juga model klasik Harjuna dalam keseharian. Untung saja Sembadra juga anggota DPD mewakili Madukara, sehingga soal dana tak jadi masalah.  Semenjak jadi anggota senat putri Banoncinawi ini kekayaannya meningkat. Mungkin karena bisa jual pengaruh, mendekati Kabulog sehingga jatah beras untuk Madukara bisa diperbanyak.

“Dulu Mbak Mbadra sebelum jadi anggota DPD hartanya cuma di bawah Rp 1 miliar, kok sekarang bisa lebih dari Rp 5 miliar. Bisa dijelaskan?” tanya pers.

“Ya, ya, ya. Semua itu karena harta hibahlah.” Jawab Sembadra sekenanya, terpaksa mengadopsi gaya Hadipurnomo mantan Dirjen Pajak.

Kini problem Sembadra sungguh multi dimensi. Di samping kesepian lama jauh dari suami, paling tak enak lantaran dikejar-kejar pers. Gila nggak, soal menghilangnya Harjuna selama ini, kok diisyukan terlibat suap pejabat Bakamla. Buat apa Harjuna sampai nyogok pejabat ke sana kemari, wong mau “nyogok” bini di mana-mana juga ada.

Hari ini, saking tak tahannya dari kejaran pers lantaran dirinya dikait-kaitkan dengan kasus suap Bakamla, Sembadra pilih sembunyi di rumah kakak, Prabu Kresna di istana Dwarawati. Anak semata wayangnya, Abimanyu yang masih balita, dibawa serta bersama beby siternya, LCL alias: Limbuk Citra Lestari.

“Maaf kanda, minggu-minggu ini saya istirahat di Dwarawati dulu ya, mumpung DPD sedang reses.” Lapor Wara Sembadra setibanya di Dwarawati.

“Kasihan amat nasibmu, Dik. Coba kalau dulu kamu mau jadi bini Burisrawa, tak kan hidup sengsara begini, siang malam tinggal mamah karo mlumah……”

Baru sehari tinggal di Dwarawati dengan mematikan segala alat komunikasi, masih ada juga yang mencium jejaknya. Terbukti pagi itu muncul pria berjenggot, pakaian semrawut, bercelana jingkrang dan pakai kethu, mirip teroris Bahrun Naim. Teroris dari mana lagi ini, pikir Wara Sembadra. Ternyata bukan. Dia datang hanya mengaku sebagai murid Harjuna, namanya Resi Brongsong. Lalu di mana Harjuna sekarang? Katanya, sudah lebih dari sebulan dia wasalam diambil sang Yamadipati. Artinya, mati!

Sembadra pun menangis, karena tanpa sadar sudah sebulan ini menjadi janda. Namun kata Resi Brongsong, kepergian suami tak perlu diratapi. Kehadirannya ke sini justru memang mengemban amanat, untuk menjaga Sembadra dalam keseharian. Awalnya Sembadra sangsi siapa sosok Resi Brongsong ini. Tapi begitu ditunjukkan keris\ Pulanggeni di balik bajunya, percayalah sudah. Soalnya di masa bulan madu dulu, Sembadra hampir setiap hari diperlihatkan akan kehebatan “keris” Madukara satu ini.

“Kapan saya harus marangi (mencuci) keris ini?” tanya Sembadra.

“Resminya sih tiap malam Selasa dan Jumat Kliwon. Tapi jika Mbak Mbadra kebelet, “diwarangi” saban malam juga bisa.” Jawab Resi Brongsong.

Yang bikin Wara Sembadra terkaget-kaget, ternyata Resi Brongsong membawa memo Harjuna almarhum bahwa dirinya agar diterima sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Janda (LPJ). Sembadra sih setuja-setuju saja, cuma prosedur pemilihan ketua lembaga negara di Dwarawati kan harus lewat fit and proper test. Resi Brongsong tak keberatan. Hasilnya, karena sebelum uji kelayakan seluruh anggota DPR Dwarawati sudah diberi cek pelawat masing-masing Rp 100 juta, semua setuju. Dan hari itu juga Resi Brongsong dilantik dan langsung kerja, kerja, kerja!

Soal Resi Brongsong jadi Ketua LPJ nyaris tanpa gaung. Yang jadi isyu nasional justru status janda Wara Sembadra. Banyak lelaki yang ukuran celananya mendadak berubah demi mendengar berita itu, termasuk Raden Burisrawa dari Mandaraka. Dia langsung merengek-rengek pada Prabu Duryudana, mohon dilamarkan janda Sembadra. Maklum, sedari dulu Burisrawa memang cinta bebuyutan pada bini Harjuna.

“Tolong dong Mas, segera lamarkan janda Harjuna, nanti keburu keduluan sama dalangnya.” Rengek Burisrawa.

“Sabar kenapa sih? Kakanda kan baru fokus urus kasus Bom Panci, tahu!”

Tak enak dengan istrinya, Banowati, Prabu Duryudana akhirnya memerintahkan Prabu Baladewa membentuk Panja Lamaran Sembadra, latah meniru  DPR. Anggota panitia Patih Sengkuni dengan Pendita Durna. Celakanya, meski telah memanfaatkan tokoh berpengaruh Mandura, ternyata lamaran tetap banyak kendala. Masalahnya, Prabu Kresna hanya menyerahkan segala urusan kepada Sembadra. Katanya, soal lamaran diterima atau tidak, yang menggodok  Resi Brongsong Ketua LPJ.

“Daripada rewel, ini ada dana Rp 2 M, tolong kasihkan Resi Brongsong. Tapi Sembadra segera serahkan Burisrawa,” desak  raja Mandura kepada Kresna. Ketua Panja kok dilawan.

“Nggak berani. Saya tidak boleh intervensi. Kalau ketahuan KPK kan saya dikira makelar kasus,” jawab Prabu Kresna.

Gagal melobi Kresna, Panja Sembadra segera ketemu langsung  Resi Brongsong. Tapi sama saja, dia menolak berkoalisi, Pasukan Kurawa geregetan dibuatnya, sehingga Resi Brongsong dikeroyok.  Tapi pendita misterius ini memang hebat, tenaganya demikian kuat, rosa-rosa ala Mbah Marijan. Anak buah Sengkuni lari terbirit-birit. Kata mereka, honorya masih di bawah UMP. Perang hanya sekedar kerja bakti, bukan jamannya lagi.

Resi Durna sebagai anggota Pansus, segera turun tangan. Lewat aji japa mantra miliknya,  yang dikendalikan lewat remot kontrol, mendadak Sembadra benci setengah mati pada Resi Brongsong. Bahkan saat diperlihatkan keris Pulanggeni yang bentuknya mengasyikkan itu, Semdadra kini justru histeris.

“Resi Brongsong, pergilah engkau. Aku tak butuh lagi dengan bekingmu.”

“Sombongnya dikau. Mentang-mentang sudah punya gebedan baru, ya?” sindir Resi Brongsong ngrerepa ngasih-asih (minta dikasihani).

Resi Brongsong terusir dari paviliun Dwarawati. Sepeninggalnya Resi Brongsong pasukan Kurawa segera mengevakuasi Wara Sembadra ke Ngastina. Mestinya lewat pesawat, tapi agar   nampak merakyat, sengaja rombongan naik KA Ekonomi full AC saja. Namun celakanya, selama dalam perjalanan, kadar ilmu sihir Pendita Durna makin menurun, macam es balok kena sinar matahari.

Ketika Sembadra mendengar tangisan Resi Brongsong di tengah hutan, kontan calon penganten agung Mandaraka ini loncat dari jendela dan menemui sang Resi. Kedua wayang itu segera bermesraan di tengah hutan. Pendita Durna – Baladewa hanya bengong menyaksikan aksi pornografi di semak belukar itu.

“Jangan-jangan Resi Brongsong dari Brenggong, temannya teroris itu.” Gumam Durna.

“Labrak, manusia tak beretika….!” maki ketua Panja Baladewa, saat melihat adik kandungnya jadi ajang pelecehan Resi Brongsong.

Demikian emosinya Baladewa,  senjata Nenggala dilepaskan dan menghajar Resi Brongsong. Aneh bin ajaib, bukannya mati, tapi pacar gelap Sembadra tersebut berubah menjadi Raden Harjuna. Keruan saja mereka berpacaran semakin hot.

“Pulang, pulang, ini bukan tontonan.” Usir Prabu Baladewa.

“Lalu bagaimana nasib saya, kangmas?” rengek Burisrawa.

“Gampang, nanti kawin sama TKI yang batal jadi “pengantin” bom panci.”

Tapi  wayang Kurawa memang suka iseng. Sambil meninggalkan hutan, diam-diam mereka mengabadikan adegan Harjuna – Sembadra itu lewat kamera HP dan kemudian diunggah ke WA, bahkan Youtube. Katanya, biar jadi viral, begitu. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement