PRABU Dasamuka memperoleh informasi dari Kantor Catatan Sipil bahwa Dewi Citrawati istri Prabu Harjuna Sasrabahu di Maespati juga masih trah Widowaten. Kontan pendulumnya kontak, ingin sekali merebut dan kemudian mencumbu prameswari Maespati tersebut. Karena itulah sidang kabinet terbatas di Ngalengka pagi itu hanya berisi melulu soal renstra (rencana strategis) untuk mengakuisisi Dewi Citrawati.
“Interupsi Boss, Dewi Citrawati kan bini orang. Apa sampeyan mau niru Bupati Katingan (Kalteng)? Bini orang main cemplak saja dengan alasan sudah dikawin siri?” Potong Patih Prahastho setelah mendengar paparan Prabu Dasamuka.
“Bagi saya, itu mudah saja. Saya siap ambil resiko, dimakzulkan pun saya siap. Yang penting bisa merasakan mempur dan gurihnya titisan Dewi Widowati.” Jawab Prabu Dasamuka pede saja.
Prabu Dasamuka memang terkenal sebagai wayang paling mata keranjang di dunia perwayangan. Setiap kali melihat wanita cantik bodi semog (seksi) pantat gede, lebih-lebih titisan bidadari Dewi Widowati, celana kolornya menyempit dadakan. Tak peduli itu bini orang, sedapat mungkin harus direbut untuk dikawin siri apa resmi di KUA. Makanya di kahyangan Jonggringsalaka Prabu Dasamuka memperoleh gelar ratu senior alias senang istri orang!
“Ketimbang membahas Citrawati yang jauh dari Ngalengka, kenapa bukan ambil Citra Triputri artis korban pelecehan Aa Gatot Brajamusti?” saran Patih Prahastho.
“Nggak ah, dia terlalu muda. Aku maunya yang STNK (Setengah Tuwa Ning Kepenak), dan pastilah titisan Widowati gitu lho….,” alasan Dasamuka seenak udelnya.
Tak kurang-kurang patih Prahastho membujuk agar Dasamuka mencari putri lain saja. Soalnya merebut bini Prabu Harjuna Sasrabahu, tak bakal menang. Ratu Maospati tersebut terkenal akan kesaktiannya, karena bahunya saja sampai seribu (sasra = seribu). Padahal Prabu Dasamuka, punya bahu satu saja termasuk bahu laweyan, sehingga bininya banyak yang mati.
Tapi Dasamuka memang ratu mbregudul (keras kepala). Dia tetap mengerahkan pasukan menuju Maespati yang berlokasi dekat Maospati (Madiun). Rombongan itu naik KA Wisata, sehingga di dalam gerbong bisa sambil menggelar Raker, niru-niru Plt Gubernur DKI bersama para SKPD. Ketika Prabu Dasamuka dikritik LSM, jawabnya enteng saja, pasukan Ngalengka kan jarang piknik.
“Teman-teman, ini telah tiba di perbatasan negara Maespati. Kita nanti di sana nginep di asrama haji saja, tarifnya murah meriah,” perintah Patih Prahastho kepada prajurit.
“Lho, bukannya chek in di hotel bintang empat?”
“Anggaran sedang diperketat, dilarang menggelar acara di hotel. Terlalu bermewah-mewah sama saja tidak pro pengetatan APBN,” patih Prahastho memberi penjelasan.
Pasukan Ngalengka benar-benar menyewa asrama embarkasi haji. Tak lama kemudian Prabu Dasamuka inspeksi pakai helikopter AW-1 buatan Inggris. Ini heli baru, yang batal dibeli Indonesia. Namun sial, di kala pasukan Ngalengka istirahat menikmati jatah nasi bungkus –maka disebut panasbung (pasukan nasi bungkus)– mendadak banjir besar menerjang. Tentu saja prajurit kalang kabut. Prabu Dasamuka kembali naik helikopter, kontrol dari udara mirip Kapolri memeriksa kemacetan Lebaran.
“Ini pasti luapan banjir Kampung Pulo, Jakarta. Bagaimana ini Pak Ahok?” keluh Dasamuka.
“Gak nyambung, Boss. Kali Ciliwung nggak nyampai sini-sini. Memangnya iklan pralon?” Jelas Patih Prahastho.
Usut punya usut, ternyata banjir akibat kali Bengawan Solo dibendung Prabu Harjuna Sasrabahu. Pembendungan tak dilakukan dengan dam beton, melainkan pakai tubuh sendiri yang tinggi besar, dengan cara tidur melintang di aliran kali. Lalu di bagian atas (udik) tampaklah Dewi Citrawati berkecimpung dalam pakaian renang. Potongan tubuhnya yang wongso subali (wonge ora sepiroa, susune sakbal poli) menyebabkan Prabu Dasamuka salah tingkah. Marah sekaligus bergairah. Marah lantaran raja Maespati terlalu egois, kali irigasi petani dibendung untuk kepentingan pribadi. Bergairah karena pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan yang bikin “kram” organ tunggal miliknya.
“He, Prabu Harjuna Sasrabahu, berani amat kamu membendung kali Bengawan Solo, maunya gimana sih?. Sudah ijin Kementrian PU (Pekerjaan Umum) belum?” ujar Dasamuka mirip geludhug mangsa kesanga.
“Sstt, jangan mengganggu Prabu Harjuna Sasrabahu. Kalau mau demo minta izin dulu, dan urusannya sama aku, Patih Suwanda….!” jawab Patih Suwanda dengan kasar.
Dasamuka berharap agar Prabu Harjuna Sasrabahu segera menghentikan pembendungan kali. Di samping pasukan Ngalengka banyak yang mati tenggelam, sawah para petani cabai di hilir juga gagal panen lantaran kekeringan, harga cabai pun sampai Rp 200.000,- sekilo. Tetapi Patih Suwanda sebagai pimpro Bendung Bengawan Solo tak ambil peduli. Kenapa repot, toh yang dibendung masih wilayah Maespati.
Ingat nama Suwanda jadi ingat tukang pijit Presiden Gus Dur. Prabu Dasamuka menduga patih ini juga doyan duit. Maka nomer rekening Patih Suwanda ditanyakan, nanti mau ditransver lewat bank. Rp 5,2 milyar saja, sama persis dengan yang disita KPK dari Bupati Klaten Sri Hartini. Ternyata patih Maespati menolak. Maklum di Maespati dia memang terkenal sebagai pejabat bersih. Pejabat lain naik BMW dan Mercy, mobil dinas kepatihan Suwanda hanya pakai Kijang Kapsul 2004. Paling “tragis”, meski kedudukan patih, ruang kerjanya tanpa ber-AC.
“Jangan takut, ini dana clean, tak ada hubungannya dengan hasil OTT. Kalau nggak mau ya sudah, saya bunuh saja sekalian kamu,” ancam Prabu Dasamuka.
“Pokoknya nggak bisa! Terserah kamu, saya nggak takut.” Gaya Pati Suwanda mirip polisi menghadapi sweeping FPI Sragen.
Dasamuka – Patih Suwanda berantem dengan serunya. Namun agaknya Patih Suwanda yang bernama asli Sumantri itu memang sudah sampai pada ketentuan-Nya. Ketika Dasamuka mulai main gigit, mendadak sukma Sokrasana di suwarga pangrantunan melesat hadir dan masuk ke taring Dasamuka.
“Ayo akang Atli, hali ini sudah saatnya kamu masuk sulga belsama aku,” pekik suara tanpa wujud menggema di atas langit.
Patih Suwanda alias Raden Sumantri tercenung, teringat adiknya, Sukrasono yang dibunuh tanpa sengaja di masa lalu. Namun belum sadar betul akan apa yang terjadi, tahu-tahu Dasamuka menggigit leher hingga putus. Pasukan Maespati bertangisan kehilangan tokoh andalannya.
“He, Harjuna Sasrabahu, kasih binimu hari ini juga. Lihat tuh patihmu, udah modar. Ayo bangun, jangan berendam melulu, nanti masuk angin…..” tantang Dasamuka sambil mendekati tempat raja Maespati dan kakinya menyepak perut Harjuna Sasrabahu.
Prabu Harjuna Sasrabahu yang tengah tiwikrama (bertapa) membendung kali Bengawan Sala, jadi naik pitam. Apa lagi setelah tahu patihnya tewas, kontan Dasamuka ditelikung, kepalanya dibenamkan ke dalam air berulang kali. Kedua puluh tangannya diikat ke belakang, lalu diseret ke alun-alun Maespati, dibuat tontonan. Presis maling motor ketangkep.
“Baru jadi raja, sudah sok lu! Bini sudah banyak masih ganggu bini orang. Belum pernah dikaplok Jepang ya? Nih, plokkkk….!” ujar Prabu Harjuna Sasrabahu sambil menggocoh muka Dasamuka.
“Sudah, sudah, Sang Prabu. Saya mohon dengan hormat, agar boss saya dimaafkan,” pinta Patih Prahastho mohon grasi.
Mendengar rengekan Prahastho yang menghiba-hiba, Prabu Harjuna Sasrabahu luluh (iba) juga hatinya. Batal dijadikan tersangka makar, Dasamuka dilepas dari ikatan, lalu diantar pulang ke Istana dengan Colt bak terbuka. Namun seminggu sekali setiap Sabtu dia wajib lapor ke Kodim Maespati. (Ki Guna Watoncarita)



