ADDIS ABABA—Bencana kekeringan kembali melanda negara sub-Sahara, Ethiopia. Kondisi ini membuat jutaan warga Ethiopia terancam krisis kelaparan.
PBB telah mengajukan dana bantuan sekitar US$ 900 juta untuk mengatasi dampak bencana ini. Kekeringan akibat fenomena cuaca El-Nino tahun lalu menyebabkan setengah jumlah penduduk Ethiopia kelaparan, dan dana bantuan senilai US$5,6 juta AS telah digelontorkan sejak pertengahan 2016.
Rendahnya curah hujan saat ini meneruskan ancaman bagi rakyat Ethiopia. “Tahun lalu, kami berhasil menjalankan operasi penanggulangan kekeringan terbesar dalam sejarah,” kata Kepala Komisi Manajemen Risiko dan Bencana Nasional Ethiopia, Mitiku Kassa seperti dilansir Antara, Rabu (18/1/2017).
“Saat ini kami membutuhkan mitra baru untuk menghadapi bencana kekeringan yang kembali datang,” katanya seraya mengusulkan alokasi dana bantuan senilai US$ 948 juta.
Kawasan Afrika Selatan dan Timur sempat mengalami bencana kekeringan parah akibat El-Nino pada 2016. Fenomena cuaca El-Nino menyebabkan permukaan air laut di Samudera Pasifik kian hangat, gagal panen hingga membuat harga pangan tinggi dan mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Bencana itu merupakan kekeringan terparah yang terjadi di Ethiopia dalam 50 tahun terakhir. Akibatnya cukup parah bagi Ethiopia karena delapan dari 10 warganya bergantung pada pertanian serta peternakan.
Banyak penduduk masih berusaha bangkit dari bencana tahun lalu, dan mereka harus mengembalikan utang yang dipinjam, sementara sisanya belum mengganti ternaknya yang tewas. Bencana kekeringan yang kembali datang tentu akan menyulitkan mereka.
“Dampak El-Nino tahun lalu ditambah rendahnya curah hujan tahun ini akan mengancam kehidupan para penggembala,” katanya.




