Tidak dipungkiri bencana dapat membuat orang miskin seketika, tapi kebersamaan dapat pula membuat mereka bangkit segera.
Kemiskinan memang selalu menjadi dilema bagi penduduk Indonesia. Bagi rakyat miskin, karena tekanan-tekanan ekonomis yang sangat berat dan bersifat darurat, memiliki sedikit sekali pilihan untuk memilih atau tinggal di daerah yang aman.
Masyarakat miskin, lebih banyak hidup serampangan, bahkan di lokasi rawan bencana. Karena hidup di kawasan rawan bencana itulah yang terjangkau dengan kocek-nya.
Jika mereka ingin hidup di kawasan yang aman dari bencana, tentunya mereka harus mengeluarkan biaya lebih, danhal itu jauh dari kemampuan ekonomi mereka.Parahnya, mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana itu tidak sedikit jumlahnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, ada 40,9 juta orang di Indonesia tinggal di kawasan rawan bencana. Tak ayal, ketika bencana melanda, jumlah masyarakat miskin di Indonesia, mendadak bertambah. Bahkan, yang sebelum bencana mereka sudah hidup miskin, setelah bencana menjadi bertambah parah kondisinya. Mereka semakin terpuruk.
Diakui Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas, BNPB , Sutopo Purwo Nugroho, di tahun 2016 lalu, justru bencana di Indonesia banyak menyasar kawasan tempat tinggal masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Hal itu menjadi pemicu meningkatnya jumlah keluarga miskin di tahun 2016-2017 ini.
Perniagaan yang mereka jalani puluhan tahun, rumah yang dibangun dengan biaya jutaan rupiah, perkebunan yang turun temurun menghidupi keluarga, kendaraan yang dibeli dengan jerih payah hasil bekerja bertahun-tahun, perabotan rumah yang dicicil beberapa bulan dan tahun, perhiasan yang disimpan bertahun-tahun untuk bekal pendidikan anak-anak saat dewasa nanti, semuanya bisa sirna seketika.
Saat itu juga, sebagian orang tak mampu menahan tangis, sebagian lain bahkan merasa hidupnya sudah habis, sehingga ada pula yang berpikir lebih baik mengakhiri hidup karena putus asa dengan kehidupan itu.
Sutopo menambahkan, kehidupan keluarga miskin menjadi lebih sengsara karena mengalami proses pendalaman kemiskinan karena didera bencana. “Jadi, sangat signifikan kaitannya antara bencana, pembangunan, dan kemiskinan. Bencana dapat langsung menyebabkan masyarakat jatuh miskin. Masyarakat yang miskin menjadi lebih miskin,” kata Sutopo saat memaparkan evaluasi penanganan bencana di kantornya, Kamis, 29 Desember 2016 lalu.
Sutopo mengutip hasil penelitian BNPB di sekitar Sungai Bengawan Solo, di mana kehidupan keluarga miskin yang terkena bencana di sana, semakin menjadi lebih sulitdari sebelumnya.
“Berdasarkan penelitian kami, banjir melanda Bengawan Solo 4-5 kali setahun, kawasan ini menjadi sulit di-recovery. Karena belum selesai di-recovery mereka terkena bencana lagi,” ujar dia.
Selain itu, Sutopo juga mengungkapkan contoh daerah lain, seperti banjir pada daerah hulu Sungai Citarum di Kabupaten Bandung. Kawasan ini dalam setahun bisa mengalami 6 kali banjir. Atau di Kabupaten Sampang, Madura, yang dalam setahun bisa mengalami 15 kali banjir.
Menurut data di BNPB, ada 2.342 bencana terjadi sepanjang 2016, merupakan kejadian tertinggi sejak kurun waktu 14 tahun terakhir. Kejadian bencana meningkat 35% dibandingkan tahun 2015.
“Dampak yang ditimbulkan bencana selama 2016 cukup besar. Bencana menyebabkan 522 jiwa meninggal, 3,05 juta jiwa menderita dan mengungsi, sekitar 70 ribu rumah rusak dan kerugian ekonomi mecapai puluhan trilyun rupiah,” kata Sutopo.
Mengungsi membuat ekonomi mereka bertambah parah, bertambah lagi ketika ada anggota keluarga yang tewas dan lebih parah lagi, kalau yang tewas itu adalah tulang punggung keluarga selama ini. Ekonomi, anggota keluarga yang ditinggalkan pun semakin tak menentu.
Angka pengangguran juga meningkat ketika bencana melanda, karena tidak sedikit pula pengusaha kecil hingga menengah yang terpaksa gulung tikar karena asset yang dimiliki habis akibat bencana yang melanda. Bencana Gempa di Sumatera Barat 30 September 2009 misalnya, Depnakertrans menghitung ada 70 ribu pekerja dari 46 perusahaan di Sumatera Barat yang kehilangan pekerjaan.
Agar Mereka tak Miskin karena Bencana
Kemiskinan yang disebabkan bencana tidak dapat dihindari. Namun, pemerintah dan lembaga non-pemerintah tidak mungkin berdiam diri menyaksikan semuanya terjadi.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana. Hal ini Swara Cinta himpun dari beberapa sumber. Di antaranya dari sisi pemerintah; dengan merencanakan pembangunan berbasis mitigasi bencana. Dari sisi non-pemerintah; mengoptimalkan penghimpunan dan penyaluran ZIS, dan bersatunya lembaga kemanusiaan untuk membantu korban bencana untuk bangkit secara ekonomi.
Pertama, Pembangunan Berbasis Mitigasi
Karena sulit dipisahkan antara kemiskinan dan bencana, pemerintah disarankan untuk melakukan pembangunan berdasarkan mitigasi bencana. Hal ini diungkapkan Rizky Afriono, Koordinator Nasional Jaringan Info Bencana dalam blognya yang bertajuk “Bencana Alam dan Kemiskinan.”
Pembangunan berbasis mitigasi bencana itu, sebenarnya sebuah bentuk investasi ekonomi, sosial, budaya masyarakat dalam beradaptasi dengan alam yang menyimpan resiko bencana.
“Oleh karena itu bencana alam yang pasti akan terjadi harus disesuaikan dengan kebijakan pembangunan yang mengurangi resiko bencana. Karena pembangunan yang tidak memperhatikan aspek terjadinya bencana ke depannya apabila sebuah bencana terjadi, maka kerugian ekonomi, sosial dan budaya akan sangat besar,” tulis Rizky.
Membantu Korban dengan ZIS
Menurut Syekh Yusuf Qardhawi, orang yang mengalami musibah dan bencana dalam hartanya, sedangkan ia mempunyai kebutuhan yang mendesak sehingga ia harus meminjam dari orang lain, berhak untuk mendapatkan zakat.
Imam Mujahid pun berkata : “Tiga kelompok orang yang termasuk mempunyai utang; orang yang hartanya terbawa banjir, orang yang hartanya musnah terbakar, dan orang yang mempunyai keluarga akan tetapi tidak mempunyai harta, sehingga ia berutang untuk menafkahi keluarganya.”
Kemiskinan karena bencana, membuat korban bencana berhak mendapat zakat. Mereka menjadi masuk dalam kategori hasnaf yang delapan, khususnya Fakir, Miskin dan Gharimin. Selain zakat tentu mereka juga berhak mendapatkan bantuan infak dan sedekah serta derma kerelawanan lainnya.
Dalam Buku Daras Kemiskinan (2016), karya Sabet Abilawa dan Amin Sudarsono dijelaskan tentang pentingnya lembaga zakat berperan mengambil celah kosong yang tidak diisi pemeritah dalam memberantas kemiskinan. Karena zakat itu merupakan doktrin agama yang sebenarnya memiliki hubungan simbolis dengan sistem ekonomi umat.
Zakat bukan semata-mata masalah agama, tetapi juga telah menjadi bagian dari masalah sosial yang asetnya sepenuhnya dapat difungsikan untuk kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang tidak mampu.
Membantu korban dengan Kerjasama
Kerjasama lembaga non-pemerintah dalam membantu korban bencana dapat membuat warga korban bencana bangkit. Salah satu contoh adalah Program Java Reconstruction Fund (JRF) mampu memulihkan ekonomi dan mata pencaharian warga yang terkena musibah bencana alam di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 2012.
Bekerja sama dengan Gesselschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ), dan International Organization for Migration (IOM), JRF melakukan sejumlah pelatihan dan pemberian dana kepada lebih dari 10.000 Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Jelas sekali, dengan bersama, korban bencana yang tadinya mendadak sengsara, kini dapat bangkit. Jadi recovery bukan hanya untuk infrastruktur saja, tapi juga ekonomi korban bencananya. – Maifil Eka Putra





