PESAWAT terbang type sayap tinggi bermesin dua hasil rekayasa putra-putra Indonesia, N219 diharapkan mengudara dalam penerbangan perdana, Maret tahun ini, dan siap diproduksi pada 2018.
Pesawat N219 dibuat untuk memenuhi permintaan pasar domestik, terutama penerbangan perintis antarpulau yang trendnya terus meningkat seiring makin bergairahnya geliat ekonomi dan meningkatnya pendapatan rakyat di daerah.
Jika pada 2014 Indonesia dengan 170 jalur penerbangan perintis memerlukan sekitar 40 unit pesawat sekelas N219, 2015 meningkat menjadi 217 jalur dan mengingat permintaan terus meningkat, akan dibutuhkan lebih banyak pesawat sejenis N219 lagi.
N219 termasuk famili pesawat bersayap tinggi yang digerakkan dua mesin ganda, berkapasitas 19 kursi rancangan bersama PT Dirgantara Indonesia  dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
Dilengkapi alat pendeteksi kondisi medan dan sistem peringatan (terrain alerting  and  warning system), tampilan N219 disesuaikan dengan kondisi lapangan terbang perintis di lokasi terpencil yang  terkadang berada di kawasan pegunungan  dengan fasilitas terbatas.
Badan pesawat yang lebih ramping, kemampuan take off dan landing di landasan  pendek (600 meter), di lapangan rumput atau landasan tidak beraspal serta bobot lebih ringan karena tanpa pintu buritan (ramp-door) adalah kelebihan lan N219 dibandingkan pesawat sekelasnya.
Di tahun pertama produksi pada 2018, akan diproduksi enam unit N219, sedangkan pada tahun berikutnya akan dibuat 10 unit, setelah itu akan ditingkatkan menjadi 18 unit pertahunnya.
Dengan kisaran harga antara lima sampai enam juta dolar AS , N219 diharapkan mampu bersaing dengan pesawat sekelasnya seperti de Havilland Canada -6   (DHC-6) buatan Kanada  yang dibandrol sekitar tujuh juta dolar.  Pesaing N219 lainnya adalah Yunshuji-12 (Y12E) produk Harbin Aircraft Manufacturing Corp. Tiongkok.
PT DI sebelumnya juga telah membuat pesawat CN212, CN235 dalam berbagai varian seperti untuk penumpang, patrol maritim, surveilance dan evakuasi medis, sedangkan produksi  pesawat N250 dibatalkan atas permintaan IMF pasca krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998.
PT DI juga sedang mengembangkan pesawat N245 berkapasitas 50 penumpang untuk menggantikan pesawat versi sebelumnya CN235.
Â
Wilayah Terpencil
N-219 didisain sesuai kondisi lapangan udara perintis yang fasilitasnya terbatas di wilayah terpencil atau di landasan yang sukar didarati jenis-jenis pesawat lainnya.
Spesifikasi lainnya. Dengan panjang badan 16,48 meter dan rentang sayap 19,5 meter, konsumsi bahan bakar 308 Kg/jam  serta daya mesin 850 HP, N219 mampu mengudara pada kecepatan max. 390 Km/jam dengan jarak jelajah 1.533 Km.
Layaknya produksi pesawat terbang, tidak seluruh bagian pesawat dibuat sendiri oleh PT DI, namun selain mesin PT6-42A buatan Kanada, baling-baling buatan Harzel dan sistem avionik Gramin 1000 buatan AS, 40 sampai 60 persen komponen pesawat dipasok oleh vendor, perusahaan lokal dan asing.
Konsep berbagi risiko agar perusahaan tidak kelebihan beban, pekerjaan berkembang dan SDM bisa dikelola dengan baik, menurut Ketua Pusat Perekayasaan Aeronautika Indonesia (IAEC) Hari Tjahjono juga diterapkan oleh   PT DI.
Sedangkan menurut Wakil Ketua Asosiasi Industri Pesawat Terbang dan Komponen Pesawat Terbang Indonesia (Inacom) Adi Sasongko, selain bagian utama yang bisa mempengaruhi langsung performa pesawat, pembuatan pesawat bisa disubkontrakkan pada industri pendukung.
Industri pendukung yang membuat peralatan yang tidak menyangkut keamanan dan keselamatan pesawat, seperti pencahayaan panel atau sebagian sistem elektronik dan komponen tertentu , perkakas (tool) dan pengarah (jig) bisa dilibatkan dalam pembuatan pesawat.
“Anggota Inacom sudah dilibatkan untuk memasok perkakas, alat pengarah dan komponen tertentu, “ tutur Adi. Namun demikian, menurut Adi, industri sistem elektronik pesawat dalam negeri belum bisa berperan banyak, mengingat proses sertifikasinya sangat ketat.
Selain peluang eskpor, membuka lapangan kerja di industri pendukung di dalam negeri, N219 juga diperlukan untuk melayani angkutan manusia dan barang di wilayah terpencil atau di kawasan perbukitan yang sukar didarati.
Yang tidak kalah pentingnya, industri pesawat akan mendorong terciptanya wirausahawan-wirausahawan baru  berbasis teknologi dan juga melahirkan kader-kader tehnokrat  sekelas Prof. Dr. Ing. BJ Habibie.





