
JAKARTA – (KBKNEWS) – BENCANA yang dialami oleh Nepal menjadi duka dunia dan cepat atau lambat, pemanasan global akan memperparah keadaan Himalaya.
Survei Geologi AS (USGS) seperti dilaporkan Reuters (69) menyatakan bahwa bencana yang terjadi pada 26 Agustus lalu di dekat perbatasan dataran tinggi Himalaya disebabkan runtuhnya gletser yang memicu aliran deras material dan puing ke arah hilir.
Bencana ini memakan korban hampir 5.000 orang hilang dan ribuan orang dipastikan tewas dan ribuan lainnnya terpaksa dievakuasi.
Penyebab pasti keruntuhan tersebut belum diketahui, namun perubahan iklim menyebabkan mencairnya gletser di seluruh dunia, sehingga meningkatkan risiko terjadinya bencana semacam itu.
Menlu Nepal, Shisir Khanal, mengatakan bahwa ia telah berbicara melalui telepon dengan mitranya dari China, Wang Yi, dan menyepakati peningkatan pertukaran data hidrologis waktu nyata (real-time), menurut sebuah pernyataan resmi yang dikutip dari Channel News Asia, Minggu (6/9).
Dalam pernyataan kementerian luar negeri Tiongkok, Wang mengatakan bahwa Beijing telah berbagi informasi penting dengan Nepal, termasuk citra wilayah bencana, data satelit dan hidrologis, serta peringatan dini mengenai danau penghalang di hulu sungai.
Wang menambahkan bahwa China dan Nepal terhubung oleh pegunungan dan sungai, sehingga keduanya memiliki nasib yang sama.
Mencair lebih cepat
Gletser Himalaya mencair lebih cepat seiring dengan meningkatnya suhu bumi, sehingga membuat masyarakat rentan terhadap bencana yang tidak dapat diprediksi dan menimbulkan kerugian besar. Padahal gletser tersebut menjadi sumber air vital bagi hampir dua miliar orang.
Khanal mengatakan bahwa perubahan iklim menuntut adanya tindakan internasional.
“Kami selalu menegaskan bahwa kontribusi Nepal terhadap emisi gas rumah kaca kurang dari atau hanya sekitar 0,01 persen, namun kami, rakyat Nepal, merupakan salah satu pihak yang paling terdampak oleh perubahan iklim dan dampaknya.
Oleh karena itu, kami meminta masyarakat global untuk turut bersatu dalam melestarikan ekosistem Himalaya,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Badan Iklim PBB, Simon Stiell, menyatakan bahwa runtuhnya gletser secara tiba-tiba dan banjir bandang ini merupakan pengingat yang menyakitkan tentang betapa rapuhnya lingkungan pegunungan ini.
“Kita juga tahu bahwa pemanasan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia membakar batu bara, minyak, dan gas dalam jumlah sangat besar membuat tragedi seperti ini, serta banyak kejadian serupa di seluruh dunia, menjadi jauh lebih mungkin terjadi, lebih sering, dan lebih parah, dengan masyarakat rentan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak,” tambahnya.
Mencairnya gletser dan lapisan tanah beku abadi (permafrost) juga dapat menyebabkan ketidakstabilan lereng gunung, sehingga meningkatkan risiko tanah longsor dan bahaya lainnya. (Reuters/detik.com/ns)




