KONFLIK militer di Ukraina yang terjadi sporadis sejak munculnya gerakan separatis pro Rusia di wilayah timur negara itu sejak April 2014 mengusik ketenangan tetangganya termasuk negara-negara anggota Uni Eropa (UE) yang stabil dan maju perekonomiannya.
Pertempuran pecah di seputar kawasan kota Avdiivka di sebelah utara Donetz, Ukraina Timur yang diklaim sebagai ibukota de fakto oleh kelompok milisi separatis pro-Rusia.
DK PBB mengecam keras pertempuran yang terjadi karena dianggap sebagai pelanggaran kesepakatan Minsk, ibukota Belarus pada 2015 terkait gencatan senjata di wilayah Ukraina timur dan mendesak kedua belah pihak yang bertikai duduk bersama di meja perundingan.
Kesepakatan damai Minsk faktanya diabaikan oleh kedua belah pihak, ditandai konflik-konflik militer yang pecah di sana-sini dan diperkirakan hampir 10.000 korban tewas sejak diawalinya gerakan pemisahan diri di Ukraina timur pada April 2014.
Eskalasi konflik militer terjadi sepanjang pekan lalu walaupun kedua belah pihak yang bertikai sudah menyepakati gencatan senjata pada Rabu (1/2).  Namun sejak Minggu (5/2) yang dijadikan batas gencatan senjata, situasi di medan tempur sekitar kota Avdiivka dilaporkan relatif tenang.              Dilaporkan masih terdengar bunyi tembakan secara seporadis di pinggiran kota, namun kedua belah pihak tampaknya sudah menarik mundur posisi tank-tank dan persenjataan berat mereka.
Pertempuran di Ukraina Timur sepanjang sepekan tersebut mengakibatkan 35 korban tewas termasuk seorang komandan militer pasukan pemberontak pro-Rusia, Oleg Anashchenko yang mobilnya meledak, diduga akibat aksi sabotase dinas rahasia Ukraina.
Selain merusak pabrik minuman ringan Coca Cola, dua puluhan ribu penduduk Avdiivka terperangkap udara musim dingin sampai minus 18 derajat Celsius di rumah-rumah mereka akibat rusaknya pembangkit tenaga listrik yang dijadikan sasaran pengeboman oleh pihak pemberontak.
Selain kedinginan akibat tidak berfungsinya alat pemanas di tengah salju tebal yang menerpa di luar rumah , penduduk juga mengalami kegelapan akibat terputusnya pasokan aliran listrik dan krisis air bersih akibat rusaknya sejumlah jaringan pipa saluran air.
Dukung separatis
Rusia selama ini berada di belakang kelompok separatis yang ingin memisahkan diri Ukraina, salah satu dari 16 negara sempalan Uni Soviet yang saat ini cenderung mendekatkan diri dan menjalin kemitraan dengan negara-negara Uni Eropa ketimbang dengan Rusia.
Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan AS sebelumnya menyerukan pada Rusia menggunakan pengaruhnya terhadap milisi pemberontak untuk mematuhi gencatan senjata.
Presiden baru AS Donald Trump yang dalam kampanye Pemilu lalu mengindikasikan empatinya pada Presiden Rusia Vladimir Putin, juga menyatakan niatnya untuk menengahi konflik bersenjata di Ukraina Timur . Â Niat Trump tersebut terungkap dalam pembicaraan telponnya dengan Presiden Ukraina Petro Poroshenko Sabtu lalu (4/2).
Namun berbeda dengan Trump yang bersikap lunak terhadap Rusia, Dubes AS untuk PBB yang baru menduduki posisinya, Nikky Haley terang-terangan mengecam agresi Rusia di wilayah Ukraina Timur.
Konflik Ukraina tidak terlepas dari kepentingan Rusia di satu pihak, dan AS serta  negara-negara anggota Uni Eropa di pihak lain.





