Gerakan Cinta Bahari ala Pramuka

Pramuka tinjau Kapal Perang RI, Foto: TNI AL

Tak kalah pentingnya dengan pendidikan formal di sekolah dan pesantren untuk membentuk “sea-mindedness” adalah pendidikan non formal seperti di Gerakan Pramuka, secara khusus dalam hal ini melalui Saka Bahari.

Sebagai anggota Gerakan Pramuka (terakhir sebagai Waka Kwarnas/Ka Satgas Pramuka Peduli), saya mendorong pengamalan tiga prinsip pendidikan di lingkungan kepanduan, yakni “learning by doing, learning by sharing and learning by serving” (belajar sambil melakukan, belajar sambil berbagi dan belajar sambil melayani) yang dilakukan di alam terbuka sambil bergembira.

Salah satu contoh kegiatan pendidikan ini adalah “Ekspedisi Wallacea” dengan KRI Dalpele, kerjasama Kwarnas Gerakan Pramuka, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan TNI AL pada tahun 2004 yang membawa ratusan anggota Pramuka dari berbagai daerah ke wilayah perairan Indonesia Bagian Timur selama 21 hari seperti terekam dalam foto-foto berikut. (Kebetulan saya adalah penggagas dan penanggungjawab kegiatan ini).

Kapan TNI AL akan menggelar kegiatan bersama seperti ini? Lebih lagi diharapkan: Kapan ada pemimpin Indonesia yang berani memproklamasikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai Negara Maritim? (Bukan sekedar pencanangangn program pembangunan tol laut, yang belum terwujud optimal).

Peranan media massa

Media massa itu bak senjata atau wahana “sapu jagad”. Maksudnya, semua lembaga negara, pemerintah, perusahaan swasta, lembaga sosial masyarakat dan setiap orang dari berbagai profesi, apalagi politisi, memerlukan media massa untuk menyalurkan aspirasi untuk mencapai tujannya. Tak terkecuali, tentu saja, untuk mensukseskan revolusi biru media massa mempunmyai peranan yang sangat penting.

Media massa, termasuk media sosial, punya kewajiban moral untuk mengkomunikasikan segala hal yang berkaitan dengan laut. Wartawan atau pelapor perlu menguasai seluk beluk tentang potensi dan masalah kelautan. Untuk itu perlu pendidikan dan latihan atau workshop khusus untuk wartawan yang meliput dan menyunting tulisan dan gambar tentang laut. Tentu, perlu buku panduan tentang peliputan bidang maritime yang ditulis oleh ahlinya. Harus diakui, kemaritiman belum menjadi menu utama pelaporan media massa Indonesia. Laut baru menjadi berita umumnya jika terjadi kecelakaaan, kriminalitas dan terkait isu politik, terutama yang berpotensi menyulut konflik politik, diplomasi dan bersenjata. Belum pernah tercatat ada media massa yang berhidmat khusus di bidang kemaritiman yang tercatat berjaya di Indonesia.

Laut menjadi isu pinggiran, terdesak dengan berbagai isu di atas daratan. Padahal, orang kalau bosan berwisata di atas daratan, termasuk ke gunung, hutan dan sawah, menoleh ke pantai dan lautan sebagai selingan atau variasi belaka. Demikian pula jika bosan menu yang bahan mentahnya berasal dari daratan, orang menoleh ke kuliner laut: “seafood” (makanan laut).

Wartawan dan media massa tempatnya berkarya adalah pengemban profesi mulia sebagai pewaris tugas kenabian untuk menyampaikan kabar gembira dan pemberi peringatan (Al Kahfi, QS 18:56). Mesthinya, karena isyu kelautan yang menyangkut hajat hidup dan hari depan orang banyak, wajib hukumnya wartawan peduli soal kemaritiman.

Tehnik atau cara dan gaya penyajian laporan tentang bidang kemaritiman bisa mengacu pada tujuh fungsi jurnalisme profetik (kenabian), yakni 1. Memberitahu, 2. Mendidik, 3, Menghibur, 4. Mengadvokasi, 5. Mecerahkan, 6. Menginspirasi dan 7. Memberdayakan.

Advertisement