INDONESIA dinilai sukses menjadi tuan rumah helat besar pertemuan puncak atau KTT Asosiasi Kerjasama Lingkar Samudera Hindia (IORA) di Jakarta, 16 dan 17 Maret lalu.
Dalam pertemuan kali ini, langkah untuk menggalang negara anggota menghadapi tantangan dimulai dengan pengesahan Jakarta Concord (JC) dan Rencana Aksi oleh kepala negara atau pimpinan delegasi 21 negara anggota IORA.
Isi enam butir JC yakni menciptakan keamanan dan keselamatan maritim, memajukan kerjasama perdagangan dan investasi, pengembangan perikanan berkesinambungan dan bertanggungjawab, mengokohkan kerjasama pengelolaan risiko bencana, memperkuat kerjasama akademis dan iptek serta memajukan kerjasama pariwisata dan kebudayaan.
Puji-pujian pun dilontarkan a.l. oleh PM Australia Malcom Turnbull. Ia menyambut baik peneguhan komitmen bersama yang disampaikan Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan keamanan, perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan penduduk di lingkar Samudera Hindia.
Turnbull menilai, JC yang ditelurkan pada KTT IORA kali ini mencerminkan komitmen bersama guna mewujudkan misi dan menjadi landasan kerjasama pengembangan kegiatan ekonomi berbasis kelautan (blue economy) dan keamanan maritim serta pengelolaan sumberdaya laut termasuk perikanan.
Di tingkat menteri, Menlu Australia Julie Bishop mendukung penuh prakarsa RI utuk mempromosikan IORA sebagai forum potensial bagi negara-negara anggota dan mitra dialog.
Menurut dia, langkah itu penting, mengingat setiap negara dihadapkan pada tantangan bersama terkait keselamatan dan keamanan maritim, pengelolaan sumberdaya perikanan, penanggulangan bencana dan pengembangan perdagangan serta investasi.
Lebih jauh ia menilai, JC menyadarkan anggota IORA atas kebutuhan berbagai informasi dan kerjasama untuk memerangi esktremisme.
Afrika Selatan Pimpin IORA
Menlu Afrika Selatan Maite Nkoana Mashabane yang negaranya menggantikan kepemimpinan IORA tahun ini, menyatakan siap menerima tongkat estafet dan mendukung penguatan kerjasama di kawasan Samudera Hindia yang diprakasai RI.
Samudera Hindia sangat strategis, berada di lintas perdagangan dunia, sedangkan negara-negara di lingkarnya yang dihuni 2,3 milyar penduduknya, memiliki aneka kekayaan berupa keindahan alam, flora dan fauna, kandungan tambang, mineral dan batubara, belum lagi berbagai potensi hasil laut.
RI, ketua dan tuan rumah KTT IORA pertama yang dihadiri 21 pemimpin negara anggota dan tujuh organisasi mitra dengan mengusung tema penguatan kerjasama maritim bagi Samudera Hindia yang damai, stabil dan sejahtera.
Suasana relatif damai, sepi gaduh diantara negara-negara di lingkar Samudera Hindia juga merupakan daya tarik dan menjadi keunggulan alur Samudera Hindia, sebagai urat nadi bagi lalu-lintas perdagangan dunia.
Menurut catatan, 70 persen nilai perdagangan dunia saat ini diperkirakan meliwati perairan Samudera Hindia, separuh jumlah kapal pengangkut peti kemas dan duapertiga kapal tanker minyak melintasi Samudera Hidia.
Bagi Indonesia sendiri, menurut Menlu Retno LP Marsudi, hubungan ekonomi dengan negara IORA sangat penting mengingat nilai ekspornya mencapai 42 milyar dollar AS pada 2016 atau sepertiga dari total ekspor dan mencapai surplus 1,5 milyar dollar AS. Sektor investasi juga meningkat, terutama dari Singapura yang naik dua kali lipat dan Thailand naik separuhnya pada 2016 dibandingkan 2015.
Namun sejumlah ganjalan juga menghadang kerjasama IORA, misalnya kesenjangan tingkat ekonomi antara negara yang berada di bagian timur Samudera Hindia seperti Australia, Malaysia dan Singapura dan negara di bagian barat lingkar tersebut seperti Yaman, Mozambik dan Somalia.
Akibat belum terwadahinya program kerjasama antarnegara di Lingkar Samudera Hindia, potensi yang dimiliki masing-masing dari 21 negara anggota IORA juga belum dikelola secara optimal.
Lingkup luas kerjasama
Lingkup kerjasama yang dimuat di JC yakni keamanan maritim, perdagangan dan investasi, perikanan, penaggulangan bencana alam, pendidikan dan pariwisata. Deklarasi melawan terorisme, radikalisme dan ektrremisme merupakan hasil tak kalah penting pada pertemuan IORA.
Butir JC untuk memerangi terorisme, ekstremisme dan kekerasan yang merupakan pijakan komitmen IORA menyuarakan moderasi dan toleransi serta mendorong kerjasama melalui dialog, sangat relevan bagi RI yang dirundung gelombang aksi-aksi memecah belah bangsa melalui isu SARA akhir-akhir ini.
Namun demikian, ketimpangan ekonomi antara mayoritas anggota IORA yang berstatus negara berkembang dan hanya segelintir negara maju, dampak pusaran arus tarik-menarik pengaruh kekuatan global serta rivalitas di antar sesama anggota IORA sendiri, juga merupakan “PR-PR” yang harus dituntaskan.
Luasnya cakupan negara dan wilayah, juga lingkup kerjasama seperti wacana bagi pembentukan kesepekatan liberalisasi perdagangan di kawasan serta kerjasama penanggulangan teroris, menuntut komitmen tinggi, ekstra kerja keras dan tanpa lelah dari segenap anggota IORA.
Segenap anggota IORA harus bertekad mewujudkan rencana aksi yang sudah dicanangkan. Jangan sampai, IORA cuma menjadi ajang kongkow-kongkow atau acara seremoni penuh basa-basi,atau paling jauh sekedar teken-teken MOU nir-realisasi.





