RESDA Jayapangestu, 26 tahun, rela meninggalkan bangku kuliah demi menjadi seorang relawan. Ia masih duduk di semester 3, Universitas Langlang Buana, Bandung, ketika longsor di Cililin terjadi di tahun 2009. Ia berangkat dengan teman-temannya dan bergabung sebagai relawan Dompet Dhuafa.
“Sejak itu saya ketagihan menjadi relawan dan sampai sekarang, saya pernah memberikan respon di Aceh Tengah — ketika Gempa Bener Meriah–, apalagi kalau ada bencana di Jawa Barat, saya selalu ikut,” kisahnya kepada KBK, di Garut, Sabtu (11/3/2017).
Sudah puluhan lokasi bencana ia datangi, ia memberi respon di saat awal bencana itu terjadi. Ketika mendengar terjadi bencana, jiwanya langsung terpanggil. Ia sendiri adalah anggota Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam), namun kecintaan dirinya pada alam dan kerelawanan, ia malah meninggalkan bangku pendidikannya.
Dia menyadari kalau nggak kuliah itu salah, tapi melihat banyak korban dan orang susah karena bencana, kemudian tidak turun untuk membantu, bagi Resda, itu lebih salah.
Sejak September 2016 ia bertahan di Garut, ia menjadi relawan respon bencana sejak pertama kalinya Garut dilanda Longsor dan Banjir Bandang. Ia bergabung menjadi relawan Dompet Dhuafa.

“Karena dedikasinya, akhirnya kita ikat ia dengan kontrak untuk menjadi pendamping Program Recovery (Pemulihan-Red) setelah masa respon darurat selesai dan masa recovery dimulai,” ungkap Asep Beny, Manager Recovery DMC Dompet Dhuafa ketika diminta komentarnya tentang Resda.
Syukurnya, lanjut Asep, Resda mau menjadi pendampingi program recovery itu. Sehingga saat ini, Resdalah yang bertanggungjawab mengawasi para tukang membangun 30 RISHA (Rumah Instan Sehat Sederhana) yang dibangun Dompet Dhuafa di Lengkong Jaya, Garut. RISHA itu diperuntukkan bagi korban banjir Bandang Garut, yang kehilangan rumahnya di bantaran kali Cimanuk, September 2016 lalu.
Di Lengkong Jaya itulah sehari-hari Resda berada, ia mengawasi tukang dan belanja material kalau ada yang kurang. Menjadi mandor, bukan berarti ia hanya duduk tenang saja menyaksikan para tukang berkerja, ia juga turut membantu tukang, apa yang dia bisa.
Resda berharap RISHA segera selesai agar rumah itu segera dapat ditempati korban banjir yang kini masih bertahan di posko pengungsian. “Kita berharap sebelum puasa sudah selesai, jadi para korban banjir dapat menjalankan ibadah puasa di rumah baru,” ungkap anak bungsu dari 10 orang bersaudara ini.
Ketika ditanya apakah orang tuanya nggak marah, gagal kuliah karena menjadi relawan? “Pernah sih orang tua bertanya, namun saya balikin lagi. Bukankah Mamah yang mengasih nama saya nama Resda, kan kalau nama saya dipanjangin Resda itu Respon Darurat. Artinya kalau ada bencana saya ya harus turun memberikan respon darurat,” ucapnya kepada mamanya dengan logat Sunda yang lembut.
Mendengar jawaban itu, akunya, Mamanya tidak jadi marah tapi malah tersenyum dan kemudian memberikan supportnya. Hanya sebagai orang tua, mamanya tetap berpesan, agar kuliah tetap dilanjutkan. Bagi Resda pesan itu pun disematkan ke dalam hati, ia berjanji setelah recovery bencana Garut selesai, ia akan segera menjajaki lanjutan kuliahnya. Karena itu pula, ia menunda niat kawinnya, yang sedianya Ia targetkan akan berlangsung di tahun 2017 ini.





