DUA PUTARAN Pemilu Perancis pada 23 April dan 7 Mei nanti diharapkan menghasilkan sosok kepemimpinan baru mewakili tradisi lama masyarakat Eropa modern yang toleran dan ramah bagi pendatang.
Semula, kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS dan hengkangnya Inggeris (Brexit) dari Uni Eropa (UE) dikhawatirkan mengawali tren gelombang kebangkitan paham populis bercirikan nasionalisme sempit dan intoleransi pada pihak lain.
Paling tidak, persepsi semacam itu terpatahkan oleh kemenangan besar PM Mark Rutte (VVD) atas tokoh partai ekstrim kanan (PVV) Geert Wilder pada Pemilu Belanda baru-baru ini dan kemenangan Alexander van der Bellen dari Partai Hijau melawan kubu ekstrim kanan pimpinan Nobert Hofer di Pemilu Austria, Desember lalu.
Di Perancis sendiri, menjelang putaran pertama pemilu (23/4) tampil tiga kandidat terkuat yakni calon independen Emmanuel Macron, tokoh sayap kanan Marine le Pen dari Partai Front Nasional (FN) dan Francois Fillon dari Partai Republik.
Macron diprediksi mampu mengungguli Le Pen pada putaran kedua pemilu ( 7 Mei), sementara Fillon yang diduga terlibat skandal keuangan yakni merekayasa pemberian gaji bagi isterinya dalam pekerjaan fiktif akan tersisihkan pada putaran pertama.
Dukungan bagi Macron mulai bermunculan, termasuk dari menteri-menteri kabinet Presiden petahana dari Partai Sosialis (PS) Francois Hollande yang menyatakan tidak bersedia maju dalam pilpres untuk masa jabatan berikutnya. PS sebenarnya memiliki capres sendiri, Benoit Hamon, namun dalam jajak penapat ia selalu berada di urutan buncit.
Menteri Pertahanan Jean-Yvest Le Drian yang cukup berpengaruh, Menteri Muda Olahraga Thierry Braillard dan Menteri Muda Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan Hidup Barbara Pompili juga disebutkan ikut mendukung Macron, bahkan juga tokoh dari partai sayap kanan (FN) seperti mantan Menteri Perhubungan Dominique Perben dan mantan Menkes Philippe Douste-Blazi yang juga ikut mendukung Macron.
Sebaliknya, Le Pen didukung oleh calon pemilih yang menghendaki tokoh yang lebih mengedepankan kesejahteraan warga, juga tidak mengorbankan kedaulatan ekonomi dan politik Perancis di bawah payung UE.
Dalam pernyataan-pernyataannya Le Pen menghendaki Perancis hengkang dari UE serta mengancam akan menutup pintu bagi imigran yang dianggap merebut peluang pekerja lokal.
Begitu pentingnya Perancis bagi UE disampaikan oleh mantan Presiden Komisi Eropa Manuel Barroso yang menyebutkan, Inggeris atau negara anggota lainnya boleh hengkang dari UE, kecuali jika Perancis keluar, UE tidak eksis lagi. Alasannya, kata mantan Menlu Portugal itu, tantangan yang dihadapi kubu yang pro Eropa di Perancis lebih berat.
Tunjukkan kepiawaian berdiplomasi
Le Pen juga melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang walau tidak ada kaitannya dengan Pemilu – urusan dalam negeri Perancis – paling tidak pertemuan itu akan menaikkan pamornya di mata calon pemilih terkait kepiawaiannya berdiplomasi.
Dari sisi elektabilitas yang dihasilkan dari sejumlah jajak pendapat, pada putaran pertama, Le Pen diprediksi menang tipis atas Macron, namun di putaran kedua situasinya berbalik, Macron menang mutlak. Bahkan dalam jajak pendapat terakhir, Macron diprediksi akan unggul, baik pada putaran pertama maupun kedua.
Namun pengumpulan suara oleh kedua kontestan diprediksi akan berlangsung seru, mengingat masih ada 43 persen pemilik hak suara belum menentukan pilihan (swing voters) , sementara dari sisi lain, mayoritas pendukung Le Pen lebih loyal (tidak akan berpindah), berbeda dengan pendukung Macron.
Selain Perancis, Pemilu Jerman yang akan diselenggarakan pada September mendatang juga akan menjadi barometer bagi kelanjutan tradisi toleransi dan kemitraan di Eropa atau sebaliknya yakni bangkitnya populisme diwarnai nasionalisme sempit.
Sementara itu, tekad mempertahankan soliditas dan menghindari perselisihan di antara anggota UE digemakan pada perayaan HUT-60 UE di Roma, Itali (25/3) dihadiri 27 pemimpin negara anggota UE tanpa dihadiri PM Inggeris Theresa May yang negaranya akan memulai proses resmi keluar dari UE pada akhir Maret ini.
“Buktikan, anda adalah pemimpin yang mampu menjaga warisan besar dari para pahlawan integrasi Eropa 60 tahun lalu ini, “ seru Presiden Dewan Eropa Donald Tusk.
Hasil Pemilu di negara-negara anggota UE sekaligus akan dicermati sebagai pertarungan antara kubu aliran toleran dan kemitraan yang menjadi tradisi di era Eropa modern sebelumnya melawan kubu paham populis yang baru bangkit akhir-akhir ini.
Siapa yang menang dan siapa yang kalah? Waktu akan menceritakannya kelak. (AFP/Reuters/NS)





