SURIAH – Serangan gas kimia pada hari Selasa (4/4/2017) di Suriah membuat sejumlah kecaman dari para pemimpin dunia, dan Dewan Keamanan PBB dijadwalkan melakukan pertemuan darurat pada Rabu (5/4/2017) dalam menanggapi serangan yang telah menewaskan sedikitnya 58 orang.
Aktivis oposisi dan seorang dokter di Idlib mengatakan serangan ini adalah insiden terburuk sejak serangan gas 2013 di pinggiran Damaskus Ghouta yang menewaskan ratusan warga sipil.
Sementara itu Pemerintah Suriah telah secara konsisten membantah menggunakan senjata kimia dan gas klorin ketika itu.
Dr. AbdulHai Tennari, seorang pulmonologist yang merawat puluhan korban serangan pada Selasa kemarin mengatakan tampaknya gas yang diluncurkan kali ini lebih parah daripada serangan klorin.
Dalam sebuah wawancara Skype, seperti dilansir AP, para dokter sedang berjuang di tengah kekurangan medis yang ekstrim, termasuk dari penangkal yang digunakan untuk menyelamatkan pasien, yakni Pralidoxem.
Tennari menambahkan sebagian besar korban meninggal sebelum mereka tiba rumah sakit, “Jika mereka sampai di rumah sakit kita bisa menyelamatkan mereka.” katanya.





