BARANG palsu biasanya selalu mengecewakan karena merugikan, bahka sering pula membahayakan. Cinta palsu akan melahirkan bayi-bayi tanpa ayah. Janji politisi palsu, menyebabkan pembangunan tidak jalan. Kini pemalsuan produk medis seperti vaksin palsu, dan yang terakhir salep palsu cap 88; jelas merugikan para pemakai dan pemilik produk asli hingga bermiliar-miliar rupiah.
Jika ada pemalsuan yang menguntungkan konsumen, paling-paling: gigi palsu, bulu mata palsu, payudara palsu (kampas spon), rambut palsu dan tangan/kaki palsu. Pemalsuan produk semacam ini justru dapat izin dari Dinas Perindustrian, karena justru memberikan nilai tambah bagi konsumen. Misalnya yang berkaki palsu, bisa menyebabkan dia bisa berjalan. Yang bergigi palsu, pemiliknya akan berani unjuk gigi, mereka bisa tertawa lebar, karena giginya sudah kelihatan bagus seperti iklan Pepsodent.
Mayoritas pemalsuan akan merugikan konsumen dan produsen. Gara-gara vaksin palsu beberapa waktu lalu, banyak orangtua yang menuntut ke pihak rumahsakit, sehingga rumahsakit tersebut terancam ditutup. Celakanya, para pelakunya anak muda ganteng dan cantik. Beginilah jadinya ketika dunia semakin tua, orang ganteng dan cantik tak malu lagi menjadi penipu.
Paling gres beberapa hari yang lalu, salep 88 yang harganya sekitar Rp 8.000,- saja, masih ada yang memalsukan. Pelakunya memang untung gede, dalam sebulan bisa dapat ratusan juta. Tapi sebaliknya produsen, dia telah dirugikan hingga mencapai Rp 3 miliar. Yang kasihan tentu saja konsumen, sudah kadung percaya akan khasiat salep 88, eh….ternyata ketemu yang palsu. Akibatnya gatel-gatel di tubuhnya tak kunjung sembuh, kecuali hanya dapat licinnya doang.
Pemalsu sebagaimana di atas adalah orang-orang yang mau cari gampangnya saja, tak mau berpikir. Orang-orang ini tak mau cari terobosan sendiri bagaimana usahanya bisa maju. Mereka hanya mendompleng popularitas produk lain, tak peduli akan merugikan pihak lain. Prinsip kuno bisnis yang jadi andalannya: keluar modal sedikit mungkin, tapi dapat untung sebanyak mungkin.
Ternyata palsu-memalsu tak hanya ada dalam bisnis. Jagad politik juga banyak terjadi. Politisi yang jadi kepala daerah, banyak sekali melakukan hal ini. Saat kampanye dia bilang akan bangun ini bangun itu demi meraih simpati rakyat. Tapi setelah menang pikada, lupa deh akan janjinya, karena dia harus cari uang dulu untuk memulihkan modal yang pernah dikeluarkan. Maka di sinilah bedanya antara pilkada dan pil KB. Pil KB jika lupa minum, jadi (anak). Pilkada, jika jadi malah lupa pada janjinya.
Cinta palsu, ini paling banyak menelan korban. Dalam dunia perwayangan, ada dikenal nama Harjuna. Dia adalah pemilik cinta palsu paling terkenal dalam seluruh penjuru kotak (wayang). Jika dia hendak mengawini seorang wanita, rayuannya demikian maut. Tapi ketika si wanita sudah bertekuk lutut dan berbuka paha, Harjuna pun meninggalkannya setelah melampiaskan dahaga asmara. Tahu-tahu puluhan tahu kemudian ada anak muda datang mencari Harjuna dalam lakon: si anu takon bapa.
Dalam dunia nyata, lebih-lebih di era gombalisasi seperti sekarang ini. Begitu banyak perempuan yang menjadi korban cinta palsu. Banyak lelaki yang mengawini perempuan sekedar untuk meraup hartanya. Korbannya kebanyakan para janda, bahkan dari kalangan artis. Menikah hanya beberapa tahun atau bulan, tiba-tiba gugat cerai dengan target minta bagian harta gono-gini.
Kalangan poligamer juga paling rajin memproduksi cinta palsu. Kebanyakan dari mereka menikah lebih dari satu sekedar untuk pemuasan syahwat, bukan untuk membangun keluarga sakinah. Jika ketemu perempuan cantik, ukuran celananya mendadak berubah dari M, menjadi XL. Tapi setelah menikahi perempuan itu dan terpuaskan, giliran mencari yang lain yang lebih kinclong. Jika pembagian nafkah batin dan lair seimbang, tak jadi masalah. Yang sering terjadi, lemah urusan benggol (uang), tapi kuat sekali urusan bonggol (alat vital). (Cantrik Metaram).





