Sarin dan Tomahawk Ramaikan Konflik Suriah

seregu tentara yang mengenakan perlengkapan perang nubika (nuklir, biologi dan kimia)

KONFLIK Suriah yang sudah berjalan lebih enam tahun sejak Maret 2011 semakin seru setelah serangan senjata kimia,  diduga dilakukan pasukan rezim Bashar al-Assad atas warga sipil dibalas serangan rudal jelajah Tomahawk oleh Amerika Serikat.

Demi memenangkan perang segala cara dihalalkan termasuk menggunakan senjata kimia yang jelas-jelas dilarang dalam konvensi PBB 1993 dan juga ditandatangani, berarti diadopsi  oleh pemerintah Suriah.

Seperti biasa, saling tuding antara dua pihak yang bertikai, kubu pasukan pemerintah al-Assad dan kubu kelompok perlawanan saling tuding, walau dugaan berdasarkan sejumlah bukti lebih mengarah pada pasukan pemerintah.

Rezim al-Assad dicurigai masih memiliki stok senjata kimia seperti gas sarin, klorin dan mustard yang berdasarkan konvensi PBB dilarang disimpan, ditimbun, diproduksi atau digunakan dengan alasan apa pun.

Dalam serangan udara yang dilancarkan terhadap Desa Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, Selasa lalu (4/4) sebanyak 86 korban tewas termasuk 30 anak-anak dan kaum perempuan, diduga kuat akibat terpapar gas sarin.

Penggunaan sarin dalam pada kejadian tersebut dilaporkan data intelijen AS, relawan dokter lintas batas (Medicins sans Frontieres – MSM) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Gejala yang timbul seperti kejang, penyempitan pupil mata dan mual juga sesuai dengan diagnosa korban paparan senyawa kimia maut itu.

Namun rezim al-Assad tetap berkilah, bukan pihaknya yang menggunakan gas mematikan itu, tetapi korban tewas akibat meledaknya gudang penyimpanan gas sarin milik pasukan perlawanan akibat gempuran pesawat-pesawat tempurnya.

Oleh ebab itu, Rusia dan Iran yang berada di belakang rezim al-Assad meminta agar  negara-negara Barat terutama AS tidak serampangan menuduh pasukan pemerintah lah pelaku pemboman dengan gas sarin ke kota Khan Sheikhoun.

Negara beruang merah itu juga mengecam aksi sepihak serangan rudal yang dilancarkan AS, karena selain melanggar aturan internasional,  aksi tersebut juga merusak hubungan AS – Rusia dan bisa berdampak serius bagi keamanan regional dan internasional.

AS akan selidiki

Namun sebaliknya, AS sedang menyelidiki dugaan keterlibatan Rusia dalam serangan senjata kimia di Khan Sheikhoun yang memicu pihaknya melancarkan serangan rudal Tomhawak ke pangkalan udara Shayrat.

Keterlibatan rezim al-Assad dalam penggunaan senyawa kimia sarin (C4H10FO2P) yang mematikan pernah dilaporkan dalam serangan udara atas wilayah Ghouta Timur dekat Damaskus pada 21 Agustus 2013 dengan korban tewas sekitar 1.430 orang.

Zat beracun sarin yang ditemukan oleh Jerman pada 1938, jika terpapar manusia melalui absorbsi kulit atau kontak mata atau tarikan nafas, akan menyerang sistem saraf dan otot, serta memicu kematian dalam hitungan menit.

Sarin juga pernah digunakan oleh Sekte Aum Shinrikyo dalam penyerangan di stasiun bawah tanah Tokyo pada 1995 serta pembataian ribuan minoritas etnis Kurdi oleh rezim Saddam Hussein pada 1988.

Senyawa kimia yang tidak berbau dan tidak berwarna tersebut menganggu produksi dan transmisi enzim cholinesterase yang membuat otot rileks setelah mengalami kontraksi.

Selain itu, pakar PBB juga mencatat paling tidak tiga kasus penggunaan senyawa kimia klorin (Cl) oleh pasukan rezim al-Assad, bahkan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengindentifikasi, Skadron helikopter 255 dan 235 pasukan Suriah juga dilengkapi dengan senjata kimia klorin berupa bom barrel (dijatuhkan dari helikopter dengan kemasan semacam gentong-red).

Sebaliknya, media pemerintah Suriah melaporkan, kelompok perlawanan terbukti pernah  menembakkan artileri jarak jauh dengan hulu ledak klorin ke kawasan al-Hamdaniyah, Aleppo beberapa waktu lalu.

Militer Suriah juga dilaporkan masih memiliki stok gas mustard (C4H8CL2S) yang pernah digunakan pasukan Jerman pada Perang Dunia I melawan serdadu Inggeris, Kanada dan Perancis. Zat berwarna kuning dan beraroma mirip saus mustard pendamping sosis atau daging panggang (steak)  membuat korban  terpapar merasa tercekik, tidak bisa bernafas dan mengalami kebutaan.

 

Pro-kontra

Sementara itu respons AS melancarkan serangan rudal Tomahawk juga mengundang pro-kontra. Negara-negara sekutu AS di Eropa seperti Inggeris, Perancis dan Jerman mendukung, begitu pula di kawasan Asia seperti Jepang dan Arab Saudi, sebaliknya Rusia dan Iran mengecam keras.

RI sendiri, di satu pihak mengecam penggunaan senjata kimia dalam konflik Suriah dan berharap pihak-pihak bertikai melangkah ke meja perundingan, namun di pihak lain juga menyayangkan aksi sepihak AS yang bertentangan dengan hukum internasional.

Tomahawk adalah rudal jelajah (cruise missile) tidak kasat radar karena terbang di ketinggian rendah mengikuti kontur permukaan bumi, dan sudah teruji kemampuannya  (combat proven) menghancurkan bunker-bunker, pusat komando dan “jantung” militer pasukan rezim Saddam Hussein lainnya pada Perang Teluk I (Januari ‘90).

Sebanyak 59 unit rudal Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perusak (destroyer) USS Porter dan USS Ross yang lego di Laut Tengah (Jumat dinihari 7/4) melumpuhkan seluruf fasilitas di pangkalan udara Shayrat, termasuk sembilan pesawat tempur (jenis Sukhoi SU-22 dan SU-25 serta MiG-23) AU Suriah.

Rudal Tomahawk buatan McDonald Douglas berharga per unit 1,6 juta dollar AS (sekitar Rp21 milyar) bisa dilucurkan dari pesawat tempur, kapal permukaan atau kapal selam serta kendaraan taktis, mampu menjangkau sasaran berjarak 1.600 Km dalam kecepatan 800 Km per jam dengan panduan satelit dan GPS aktif, gelombang radio dan infra merah.

Dengan hulu ledak mesiu konvensional seberat 450 Kg, Tomahawk yang dirancang untuk sasaran di darat bisa menembus benteng-benteng atau bunker dengan penguatan baja sekali pun.

Tidak diketahui, kenapa sistem pertahanan udara Rusia yang digelar di pangkalan angkatan lautnya di Tartus, Suriah tidak bereaksi menangkal serangan Tomahawk terhadap kekuatan militer al-Asaad  yang didukungnya. Di pangkalan Shayrat sendiri kabarnya cuma ada sistem pertahanan udara dengan rudal SAM-6 buatan Rusia era ’70-an yang sudah kadaluwarsa.

Di pangkalan Tartus, satu-satunya pangkalan armada lautnya di Timur Tengah, Rusia kemungkinan menempatkan satuan rudal darat ke udara BUK, SA-300 Antei dan SA-400 Gladiator. Salah satu sistem rudal tersebut, BUK menjatuhkan pesawat penumpang Malaysia (MAS) bersama 298  awak dan penumpangnya saat melintas wilayah Ukraina pada 17 Juli 2014.

Jurus-jurus dan senjata maut dikeluarkan, saling tuding juga dilakukan, korban pun terutama dari warga sipil terus berjatuhan. Entah sampai kapan tragedi kemanuiaan di Suriah akan berakhir. (AP/AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penyidik PBB sebelumnya juga pernah menyimpulkan, AU Suriah melancarkan serangan rudal memuat gas sarin ke kawasan permukiman di Ghouta Timur , dekat Damaskus pada malam hari 21 Agustus 2013 lalu sehingga mengakibatkan sekitar 1.400 lebih warga sipil yang sedang terlelap menemui ajalnya.

 

 

Advertisement