DI TENGAH eskalasi konflik akibat saling gertak di Semenanjung Korea akhir-akhir ini, Korea Utara mengancam akan menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat yang mencoba-coba menganggu negaranya.
“Tentara revolusi kami siap bertempur dan menenggelamkan kapal induk AS dengan sekali pukul, ” demikian harian partai pekerja Korut Rodong Sinmun dalam editorialnya (24/4).
Pesan itu disampaikan AS dengan mengirimkan dua kapal induknya, USS Carl Vinson dan USS Ronald Reagan untuk merapat ke Laut Pasifik Barat yang menjadi potensi ajang konflik terbuka antara Korut melawan musuh bebuyutannya, AS dan tetangga dan juga bangsa serumpun, Korea Selatan.
Ketegangan semakin meningkat, setelah seluruh pemangku kepentingan di Semenanjung Korea, tidak hanya saling mengumbar retorika perang mulut, Â tetapi juga unjuk gigi dan menyiapsiagakan kekuatan militernya.
Pertanyaannya, apakah Korut mampu menenggelamkan kapal induk AS berbobot 97.000 ton yang tentu dikawal sejumlah kapal permukaan (cruiser, destroyer, fregat dan korvet), mungkin juga kapal-kapal selam, dan masing-masing mengangkut 60 pesawat tempur dan puluhan helikopter.
Selain itu, kapal induk juga melindungi dirinya dengan berbagai persenjataan seperti berbagai jenis rudal, sistem rudal anti rudal, artileri pertahanan udara, radar, sistem peringatan dini (EWS) Â dan juga sistem pengganggu elektronika lawan.
Di luar itu, pengoperasian kapal induk dipantau pula dari satelit, juga terhadap gerakan-gerakan musuh, termasuk aktivitas di pangkalan peluncuran rudal lawan yang berpotensi menjadi ancaman.
Menyerang kapal induk, mungkin bisa dilakukan dengan mengerahkan ratusan pesawat tempur, dengan jumlah beberapa kali lipat dan mutu lebih unggul ketimbang pesawat-pesawat tempur yang ada di kapal induk lawan.
Jika dilakukan dengan kapal perang, juga harus lebih canggih atau dengan jumlah berlipat ganda dibandingkan kapal-kapal yang mengawal kapal induk musuh yang diincar.
Perang Laut Jawa
Duel legendaris antarkapal perang pecah  di Laut Jawa akhir Februari 1942 saat konvoi kapal perang gabungan AL sekutu dicegat kapal-kapal AL Jepang. Komandan AL gabungan Laksamana Muda Karel Doorman tenggelam bersama 2.300 pelaut yang berada di tiga kapal perang Belanda HNLMS de Ruyter, HLNMS Java dan HNLMS  Kontenaer, kapal AL AS USS Houston, dua kapal perusak AL Inggeris HMS Exeter dan HMS Electra, serta satu kapal perang Australia HMAS Perth.
Penenggelaman kapal dengan mengeroyoknya dari udara dialami oleh kapal perang terbesar Jepang Yamato menjelang akhir Perang Dunia II (7 April ’45). Komandan kapal Laksamana Madia Seichi Ito terkubur di dasar laut bersama 2.700 awak Yamato.
Kapal kebanggaan AL Jepang berbobot 72.800 ton yang dipersenjatai sembilan meriam kaliber 46 cm (18,1 inci) dan berbagai persenjataan lain itu tidak berdaya dikerubuti 280-an pesawat tempur sekutu AS saat berlayar tanpa perlindungan udara di utara Okinawa.
Pertempuran laut antara kapal kecil lawan kapal besar, mungkin bisa dirujuk pada pertempuran Laut Arafura (15 Jan. l962) antara tiga kapal motor torpedo boat (MTB) RI Macan Tutul, RI Matjan Kumbang dan RI Harimau melawan tiga kapal destroyer (perusak) Belanda yakni HNLMS Eversten, HNLMS Kortenaer dan HNLMS Utrecht yang didukung pesawat P-2 Neptune dan Freely.
Komodor Jos Sudarso gugur bersama puluhan awak KRI Matjan Tutul dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, sementara kedua MTB lainnya berhasil menghindar.
Jelas saja, MTB yang hanya dipersenjatai penangkis udara ringan dan saat itu tidak membawa torpedo, karena mengangkut puluhan sukarelawan untuk disusupkan melalui laut,  harus berhadapan dengan jenis kapal destroyer (perusak) dengan meriam yang lebih besar kalibernya dan lebih  jauh jangkauannya.
Menenggelamkan kapal induk bisa juga dilakukan dengan rudal khusus untuk sasaran raksasa di permukaan laut itu. Masalahnya, apakah Korut memilikinya?  Menurut catatan, sekutu Korut, China yang berada satu front pada Perang Korea lalu (1950 – 1953) sudah mampu membuat rudal balistik anti kapal induk DF-21D Dongfeng berjangkauan 1.600 Km.
Ilustrasinya, jika ditembakkan dari wilayah Jabotabek, rudal Dongfeng kira-kira bisa menenggelamkan kapal induk musuh yang sedang berlayar di Selat Malaka atau Selat Lombok.
Persoalannya, apakah China sudah memasok rudal yang baru diuji cobanya itu? Lagi pula, selain belum teruji di palagan sesungguhnya (combat proven) , DF-21D juga belum diketahui keandalannya, apakah memiliki kemampuan sebagai rudal jelajah (cruise missile) untuk menghindari endusan radar lawan atau kemampuan mengatasi gangguan pengacak elektronika lawan.
Exocet MM 38
Perancis membuat rudal dari udara ke laut (Air a Mer) Exocet AM 38 yang sukses digunakan pesawat-pesawat tempur Super Etendard Argentina  (juga buatan Perancis) menenggelamkan kapal perusak Inggeris HMS Shefield dan merusak beberapa lainnya dalam Perang Malvinas (Mei – November 1981).
TNI-AL juga menggunakan rudal-rudal  Exocet seri MM 38 ( Mer a Mer atau dari Laut ke Laut) untuk mempersenjatai sejumlah kapal perangnya. Rudal Exocet terbang rendah menyusuri permukaan laut sebelum menghantam kapal perang target, namun dibandingkan Dongfeng atau rudal Tomahawk AS, jangkauannya  jauh lebih pendek (38 mil laut).
Dalam Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat pada 1961, TNI AU pernah pula merancang operasi untuk menyerang kapal induk Belanda HNLMS Karel Doorman yang disiagakan Belanda di sekitar perairan Arafura dengan menggunakan pesawat pengebom TU-16 KS buatan Uni Soviet yang dipersenjatai rudal udara ke laut (air to surface) AS-1 Kernel.
“Entah kenapa, operasi itu belum jadi diwujudkan, kemungkinan RI – Belanda keburu berdamai.
Perang konvensional di era serba digital saat ini, sarat dengan teknologi, sehingga jika satu dan lainnya berhadap-hadapan di teritorial terpisah, pemenangnya, hampir bisa dipastikan pihak yang lebih menguasai teknologi, dengan senjata yang lebih jauh jangkauannya, lebih akurat dan lebih mematikan.
Biaya perang juga sangat mahal, misalnya kapal induk saja paling tidak harganya Rp100 triliun atau hampir sama dengan anggaran belanja militer RI setahun atau untuk menerbangkan satu pesawat tempur selama satu jam saja diperlukan biaya sekitar Rp100-juta.
Yang paling diuntungkan jika terjadi perang, tentu saja para produsen, penjual ataua makelar alutsista. Sebaliknya korbannya, para prajurit yang akan berguguran serta rakyat tidak berdosa.
Makanya unggak usah perang, deh, damai-damai aja!





