
BANDUNG – Hujan es kerap terjadi di Kota Bandung dalam sebulan terakhir ini karena wilayah Bandung udaranya relatif dingin sehingga bisa terjadi proses konveksi atau masa udara naik membentuk awan cumulonimbus.
“Wilayah Bandung ini udaranya relatif dingin sehingga bisa terjadi proses konveksi atau masa udara naik membentuk awan CB cukup kuat sehingga bisa mencapai ketinggian melewati batas bekunya. Dalam atmosfer ini bisanya 20 ribu feet atau 7 kilometer, itu batas beku. Lewat dari situ ada titik air ada inti es,” kata Prakirawan BMKG Kelas I Bandung, Mumhamad Iid Mujtahidin, dikutip Tempo, Jumat (5/5/2017).
Iid mengatakan, ada sejumlah faktor pemicu hujan es. Syarat mutlaknya adalah terbentuknya awan cumulonimbus yang membungbung menembus ketinggian 20 ribu feet atau 7 kilometer.
Dari pantauan radar dan satelit, awan yang terbentuk yang memicu hujan es pada 19 April itu membumbung hingga melewati 13 kilometer. Sementara kalau sudah melewati ketinggian 35 ribu feet atau 11 kilometer itu, seluruh titik air bisa berubah menjadi inti es atau kristal es.
“Di daerah Sekeloa saat itu banyak ditemukan butiran es mirip kumpulan salju, itu adalah inti es yang volumenya masih besar. Saat fase turun (bersama hujan) tidak langsung meleleleh,” kata dia.
Perisitwa hujan es yang dipicu pembentukan awan CB sendiri merupakan fenomena cuaca lokal. Pada 19 April misalnya terjadi di wilayah utara, pada 23 April di wilayah tengah, dan pada 3 April di selatan Bandung Raya.
Hujan es yang terjadi pada 3 Mei misalnya, dilaporkan terjadi di daerah selatan Bandung di kawasan Cibaduyut berbatasan dengan Kabupaten Bandung, sementara di pusat kota hujan terjadi dengan intensitas sedang.




