BOGOR—Guna meningkatkan pelayanan kepada kaum dhuafa, Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa mengajukan standar rumah sakit taraf paripurna kepada Komite Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (KARS). Direktur Pengembangan Usaha Kesehatan Dompet Dhuafa Drg. Wahyu Prabowo mengatakan, pengajuan standar rumah sakit itu dilakukan semata-mata untuk meningkatkan pelayan kepada mustahik.
“Akreditasi ini membuktikan bahwa Dompet Dhuafa serius melakukan pelayanan kepada dhuafa dengan layanan yang paling maksimal. Karena semua rumah sakit yang telah berpredikat akreditasi paripurna merupakan rumah sakit-rumah sakit hebat,” ujar Wahyu kepada SwaraCinta akhir Mei lalu.
KARS merupakan lembaga khusus yang dilantik oleh Presiden RI untuk mengeluarkan akreditasi terhadap rumah sakit. Sedangkan akreditasi paripurna merupakan tingkat akreditasi teratas dari 5 akreditasi untuk rumah sakit.
“Kalau melihat dari proses yang berjalan saya sangat optimis kami paripurna. Bahkan beberapa assesor mengaku takjub dengan RST. Hasilnya akan diumumkan pada tanggal 21-22 Juni. Semoga ini bisa menjadi kado spesial Idul Fitri untuk Dompet Dhuafa,” lanjut Wahyu.
Wahyu menuturkan bila RST menyandang akreditasi tersebut, RST dapat menjadi rumah sakit rujukan dan bisa membimbing rumah sakit tetangga untuk bisa mengajukan akreditasi. Dengan akreditasi paripurna pelayanan RST juga akan serupa dengan pelayanan “hotel bintang 5” sesuai standar internasional.
Selain RST, dikatakan Wahyu, usai Ramadhan Dompet Dhuafa juga akan mengajukan 3 rumah sakit lain yang dikelola Dompet Dhuafa agar bisa terakreditasi paripurna. Ketiga rumah sakit tersebut ialah Rumah Sakit Khusus Mata Serang, RSIA Saidah Jaktim dan RS AKA Sribhawono Lampung. Diluar proses akreditasi Wahyu mengatakan bahwa per tanggal 24 Mei RST naik kelas menjadi rumah sakit tipe C dari sebelumnya tipe D.
“Alhamdulilah dengan RS umum tipe D saja BPJS sudah menyatakan bahwa RST menjadi RS pelayan pasien BPJS terbanyak di tingkat rumah sakit tipe D di Indonesia. Sekarang yang berobat ke RST per minggumya sudah mencapai 3.500 orang,” tukas Wahyu. [Aditya Kurniawan]





