Mencegah Peristiwa Kampung Melayu Berikutnya

Warga ikut menyampaikan dukacita atas aksi pemboman di Kp. Melayu (tempo.co)

POLISI bergerak cepat dan sejauh ini sudah berhasil mengindentifikasi sosok dua pelaku bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur (24/5) yang diorganisir oleh jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Kedua pelaku berusia 31 tahun , Ichwan Nurul Salam dan Ahmad SukriĀ  yang tewas di lokasi kejadian, menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, sebenarnya sudah lama diendus, namun mereka berhasil menghindar hingga terjadiĀ Ā  pemboman di Kampung Melayu.

Polisi dalam penyisiran yang dilakukan di wilayah Bandung , Garut dan Purwakarta di Jawa Barat juga telah berhasil menemukan lokasi rumah yang digunakan oleh jaringan tersebut untuk melancarkan aksi terornya.

Tito mengingatkan, peristiwa Kampung Melayu perlu terus diwaspadai agar tidak terulang di tempat lain karena aksi terorisme adalah fenomena global, apalagi JAD ditengarai merupakan salah satu simpul jaringan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang sayapnya di Indonesia dipimpin Ā Bahrun Naim.

Jaringan JAD yang terbentuk pada 2015 berbasis di wilayah Jawa Barat yang menargetkan aparat kepolisian sebagai obyek serangan, terbukti dari 40 anggota polisi yang gugur dan lebih seratus luka-luka akibat berbagai aksi teror yang dilancarkan sejak kehadiran organisasi tersebut.

Aksi-aksi teroris memang sukar diantisipasi, karena mereka menunggu aparat keamanan lengah dan sengaja memilih sasaran di tempat-tempat kerumunan masyarakat yang tidak terduga.

Bahkan Menko Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengemukakan, ada laporan intelijen yang menyebutkan NIIS akan menjadikan kota Marawi di Filipina Selatan sebagai pangkalan untuk melancarkan aksi teror di kawasan Asia Tenggara.

Pernyataan yang disampaikan Wiranto tentunya beralasan, melihat kenyataan posisi NIIS di medan tempur utama, baik di Irak maupun Suriah terus memburuk akibat gempuran pasukan pemerintah yang didukung kekuatan Barat terutama AS akhir-akhir ini.

Peristiwa berdarah di Kampung Melayu, terjadi selang dua hari setelah dunia berduka akibat kejadian serupa di kota Manchester, Inggeris yang menewaskan 22 orang dan 50 lainya luka-luka dan juga direbutnya Marawi oleh kelompok Maute yang berafiliasi dengan NIIS untuk mendirikan khilafah di Filipina Selatan.

Selain dua pelaku tewas, salah satu dengan kondisi mengerikan, tiga angota polisiĀ  gugur yakni Bripda Ridho Setiawan, Bripda Taufan Tsunami dan Bripda Imam Gilang Adinata serta empat lainnya mengalami luka-luka.

Aksi teroris yang menyisakan trauma mendalam bagi para penyintas yang menjadi korbannya, keluarga, sanak kerabat dan orang-orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri kejadian itu.

Sebaliknya, aksi-aksi terorisme sukar diantisipasi, walau oleh negara-negara dengan sistem keamanan canggih berlapis-lapis seperti AS, negara-negara Uni Eropa dan Jepang.

Indonesia, negeri yang 245 juta penduduknya tersebar di lebih 17.000 pulau yang Ā sebagian masih bergelut dengan kemiskinan, bisa saja dijaikan salah satu basis operasi kelompok teroris atau radikalis.

Oleh sebab itu, mitigasi untuk menangkal aksi teroris harus terus diupayakan mulai dari lingkungan ketetanggaan dengan memperkuat pengawasan dari RT dan RW, ormas-ormask kepemudaan karena tidak mungkin untuk henya mengandalkan aparat keamanan.

Aksi teror bisa terjadi dimana dan kapan saja. Mari kita lawan bersama!

 

 

Advertisement