Indonesia Menua, Lansia Semakin Banyak

Pada 2030 jumlah lansia di Indonesia mencapai 48,2 juta atau 15,8 persen dari total jumlah penduduk

PENDUDUK lanjut usia atau lansia di Indonesia terus meningkat, sebagian besar  harus tetap membanting tulang demi memenuhi kebutuhan dasar hidup, bahkan di tengah turunnya pendapatan, beban tanggungjawab mereka pada keluarga malah meningkat.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional 2015, terdapat 21,5 juta lansia (8,5 persen dari 255,2 juta total penduduk) atau berarti satu diantara 11 penduduk adalah lansia  berusia di atas 60 tahun

Jumlah itu, akan meningkat menjadi 48,2 juta atau 15,8 persen dari total jumlah penduduk (sekitar 305 juta) dalam dua dekade mendatang (2030) atau berarti satu dari enam penduduk berkategori lansia.

Bahkan separuh dari jumlah penduduk di lima wilayah yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Utara berusia di atas 30 tahun atau memasuki usia median (paruh baya) menuju lansia.

Bertambahnya jumlah lansia diikuti dengan penurunan jumlah penduduk berusia muda. Jika penduduk berusia di bawah 15 tahun pada 2010 mencapai 28,6 persen, maka pada 2035 turun lagi menjadi 21,5 persen.

Cukup memprihatinkan, karena banyak penduduk memasuki masa lansia dalam kondisi ekonomi berkekurangan, apalagi berkecukupan, bahkan ada yang menanggung beban ekonomi untuk dirinya atau  anggota keluarga semakin berat, padahal saat itu selayaknya ia beristirahat, santai menikmati sisa-sisa hidup.

Sayangnya, penyiapan warga lansia berkualitas secara lintas sektoral belum terpadu, padahal jika diantisipasi dan disiapkan sejak awal, lonjakan jumlah lansia tidak seharusnya menjadi beban.

Saat memasuki usia lansia, karyawan atau aparat sipil negara (ASN) menerima uang pensiun ala kadarnya, jauh di bawah gaji yang diterima saat berdinas aktif di tengah semakin mahalnya biaya dan meningkatnya beban hidup.

 

Sektor informal, lebih parah

Lebih parah lagi kondisi lansia berasal dari sektor informal . Mereka harus terus membanting tulang, bersaing dengan yang lebih muda, padahal kondisi fisik dan kesehatan mereka semakin uzur.

Tantangan yang dihadapi layanan lansia, menurut Ketua Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia Siti Setiati yakni mengembangkan layanan lansia jangka panjang, membentuk lingkungan ramah lansia dan sinergi dalam program  layanan kesehatan.

Data BPS 2015 mengungkapkan, jumlah lansia miskin mencapai 15 persen atau 11 persen dari seluruh jumlah penduduk miskin di Indonesia. Hampir separuh, 42 persen dari lansia harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

Selayaknya, para lansia bekerja sekedar pemenuhan eksistensi diri dan untuk mengisi waktu luang, bukan ngotot untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Namun ini tentunya hanya berlaku bagi yang memiliki kemampuan ekonomi memadai, memiliki jaminan hari tua atau tabungan.

Lebih parah lagi karena kondisi sosial di Indonesia belum siap menerima lansia sebagai kelompok produktif dan lebih memandangnya sebagai beban sehingga tidak banyak perusahaan yang bersedia menerima mereka.

Sejumlah program jaminan sosial seperti JKSN untuk kesehatan, program bantuan tunai langsung dan raskin mulai dikembangkan oleh pemerintah pusat, namun belum menjangkau seluruh warga, juga belum menutupi seluruh kebutuhan  lansia.

Seiring dengan kemajuan pembangunan, perhatian bagi lansia dan program-program utuk memfasilitasi mereka selayaknya terus ditingkatkan.

Jangan sampai, habis manis sepah dibuang. (Kompas/NS)

 

 

 

Advertisement