Perlu Diantisipasi, Penyebaran Operasi NIIS

Pasukan pemerintah Filipina meliwati sebuah mesjid di kota Marawi untuk memerangi kelompok militan Maute (Reuters)

PENYEBARAN wilayah operasi kelompok radikal Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang sedang membangun basis di Marawi, Provinsi Lanao del Sur, Filipina selatan perlu diantisipasi dan diwaspadai.

Peringatan yang disampaikan Menko Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto itu sangat beralasan, mengingat keterbatasan sarana dan peralatan untuk mengawasi wilayah teritorial perbatasan Filipina dan RI yang begitu luas.

Operasi berskala besar oleh satuan-satuan militer Filipina terhadap kelompok Maute yang juga berafiliasi dengan NIIS saat ini dikhawatirkan akan memaksa  mereka menyebar dan kemungkinan merembes atau menyusup ke wilayah Indonesia.

Keberadaan sekitar 500-an kombatan WNI yang bergabung dengan NIIS di Suriah sejauh ini tidak diketahui rimbanya  sehingga tidak mustahil, sesuai dengan pola strategi konvergensi NIIS untuk merekrut aktivis dari berbagai penjuru dunia, kemudian mendivergensikan (menyebarkan) ke sejumlah negara.

Adanya kombatan asing dari Indonesia, Malaysia dan SIngapura yang ikut bertempur di Maute juga dibenarkan oleh militer Filipina, bahkan Panglima Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Eduardo Ano memastikan, tiga loyalis NIIS asal Indonesia tewas dalam pertempuran di Marawi.

Sebagian dari para kombatan asing yang bertempur melawan pasukan Filipina di Marawi dilaporkan merupakan para mantan anggota Jamaah Islamiyah yang melancarkan serangan bom di Bali pada 2002.

Sementara itu Kementerian Luar Negeri RI membenarkan, sejauh ini terdapat belasan warga Indonesia anggota Jamaah Tabligh yang seang berada di Marawi untuk melakukan program dakwah selama 40 hari.

Gelar kekuatan secara besar-besaran sejak Selasa lalu (24/5) , menurut Panglima Komando Militer Mindanao Barat Mayjen Carlito Galvez, ditujukan untuk segera memulihkan situasi keamanan di Marawi menjadi normal sehingga warga dapat beraktivitas kembali seperti biasa.

Operasi militer di Marawi semula bertujuan untuk menangkap gembong kelompok teroris Abu Sayyap, Isnilon Hapilon yang diinfokan terluka dan bersembunyi di Marawi, namun kemudian kelompok militan Maute bergabung untuk  menyerang pasukan pemerintah.

Kota Marawi di Pulau Mindanao sendiri masih dalam suasana perang setelah diwarnai aksi pembakaran, penjarahan dan penyanderaan oleh kelompok Maute sejak Selasa lalu.

Paling tidak 61 anggota militan Maute, 20 anggota pasukan pemerintah dan 24 warga sipil tewas akibat pertempuran sporadis yang terjadi di sejumlah kawasan di Marawi sejak Selasa lalu (23/5), sementara ribuan dari 200.000 penduduknya mengungsi mencari tempat aman di wilayah sekitarnya.

Dengan roket-roket yang diluncurkan dari helikopter dan pengeboman oleh jet-jet tempur, satuan militer Filipina dilaporkan telah berhasil menguasai kembali sembilan dari 96 distrik di kota Marawi yang semula diduduki kelompok Maute.

Aksi bom bunuh diri di Manchester, Inggeris  yang menewaskan 22 orang awal pekan lalu (22/5) dan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur (24/5) yang dilakukan oleh kelompok afiliasi NIIS, Jamaah Ansharut Daulah (JAD)  mungkin juga bagian upaya perluasan aksi-aksi NIIS.

Sebelum serangan datang, tindakan penangkalan dan kewaspadaan harus terus ditingkatkan. (AP/AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

Advertisement