BOGOR (KBK) – Ditemani semilir angin yang menelusup dari celah-celah gang selebar 1 meter Wawah (41) tampak asik merajut ketupat. Daun kelapa yang telah ia jemur selama beberapa hari itu ia rangkai satu demi satu hingga menyerupai kubus. Tangannya terlihat terampil menyilangkan daun kelapa kendati matanya terus mengawasi sang buah hati yang tengah bermain di teras rumahnya yang terletak di RT 03 RW 07 Kelurahan Cimahpar, Kota Bogor, Jawa Barat.
“Kalau lagi hari biasa gini nggak terlalu banyak, paling cuma dua ratus ketupat saya bikin. Tapi kalau H-10 jelang Lebaran, permintaan bisa melonjak sampe 3 kali lipat,” ucap Wawah sambil asik menyulam daun kelapa, Jumat (2/6).
Wawah merupakan satu dari 10 pegawai yang dipekerjakan oleh Deny Kurnia (37) di Kampung Ketupat Cimahpar. Menurut Deny yang telah bergelut di bisnis ketupat dari dekade 90an, ada dua jenis ketupat yang ia produksi yakni cangkang ketupat dan ketupat yang sudah matang.
Deny berujar dari tahun ke tahun permintaan ketupat terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya konsumen yang mengetahui ke nikmatan ketupat buatan Kampung Ketupat Cimahpar. Setiap hari bapak dua orang anak itu mengaku sedikitnya mampu memproduksi hingga 3 ribu cangkang ketupat dan akan melonjak hingga angka belasan ribu cangkang ketupat ketika mendekati Idul Fitri.
“Kalau mau Idul Fitri satu orang pegawai saya bahkan bisa ngerjain sampe 5 ribu cangkang ketupat. Semuanya dikerjakan di rumah masing-masing. Kalai sudah selesai tinggal di setor ke saya,” kata Deny yang sengaja melibatkan warga Kampung untuk produksi ketupat guna menggerakan ekonomi daerah.
Meski masuk kategori home industri namun Deny telah mengubah kelompok usaha menjadi koperasi berbadan hukum pada tahun 2016 dibawah bendera Koperasi Anugerah Maju Jaya.
Deny menambahkan semua produksi cangkang ketupatnya di promosikan ke sejumlah pasar di Kota Bogor. Dari sana cangkang ketupat Deny lalu melanglangbuana hingga ibu kota.
Satu ikat ketupat isi 10 biji, Deny banderol seharga Rp 10 ribu. Berkat usaha produksi Cangkang Ketupat tak hanya Wawah warga Kampung Cimahpar yang berhasil keluar dari himpitan ekonomi.
Eem (43) karyawan Deny lainnya yang sudah 20 tahun bekerja di industri ketupat mengaku bisa menyekolahkan anak hingga menengah atas dan selalu kecukupan rezeki saat berlebaran.
“Kalau lebaran permintaana banyak, jadi saya bisa punya uang pulang kampung ke Subang,” tutur Eem saat ditemui di rumahnya sambil mensortir daun kelapa.
Eem berharap lebaran kali ini dirinya bisa kembali menikmati legitnya Ketupat Cimahpar seraya dengan mulai terlihatnya benih-benih permintaan yang merangkak naik.





