GARA-gara terlibat kasus chatting porno, Betara Drema dan Betari Dremi dideportasi dari Kahyangan Jonggringsalaka setelah paspornya dicabut. Hanya langkah itu yang bisa diambil, karena BK (Badan Kehormatan) Kahyangan merasa tak tega membawa keduanya ke ranah hukum. Maksud ketua BK Sanghyang Indra, silakan terus bermesum ria sampai gempor di ngercapada, tapi jangan di wilayah suci kahyangan.
Yang aneh, sejak kasus Drema-Dremi mencuat ke permukaan, Raden Samba putra mahkota negeri Dwarawati berubah adat. Biasanya dia nampak kalem dan jaim, kini sifat mata keranjangnya kentara sekali. Manakala ketemu cewek cakep barang sedikit, langsung singsot-singsot (bersiul), bebenah jambul pakai jari-jemari.
“Halo cewek, godain gue dong!” katanya kemudian sambil pasang aksi.
“Ayoook….!” kata si cewek menyambut hangat.
Siapa yang nggak ngiler dengan Samba yang tampan dan bermasa depan? Maka siapapun wayangnya, dipacari Samba pasti semrinthil. Misalkan akibat pacaran yang mendalam itu terjadi kehamilan, Samba tinggal pakai aji “panglimunan” alias ngilang. Si cewek mana barani menggugat? Anak raja kok dilawan. Paling ironis, banyak pula yang bersyukur. Punya anak dari “benih unggul” Raden Samba adalah sebuah kebanggaan, karena masih darah ratu.
Rupanya perilaku Samba semakin ndlodok (kurang ajar) saja. Masalahnya, sekarang yang diganggu bukan saja para gadis desa dan putri kampung. Justru Dewi Hagnyanawati, yang notabene istri Prabu Setija kakak kandung sendiri, ditelateni juga. Maka jika Setija sedang keluar kota atau studi banding keluar negeri, Samba justru ndekem di kamar Hagnyanawati.
“He, Samba. Kawin sajalah kamu, daripada ngganggu istri kakak. Nggak baik itu, pangeran mangkubumi kok clutak….,” tegur Patih Udawa sekali waktu.
“Namannya juga pangeran mangkubumi lelaki. Kan sekarang ada juga mangkubumi perempuan. ?” jawab Samba.
“O, lha cah kentir (anak gila).”
Bukan saja Patih Udawa, sapukawat Dwarawati (Setyaki) lewat grup WA juga pernah menasihati, namun tetap saja tak digubris. Terakhir, punakawan Petruk juga angkat bicara lewat twitter. Katanya, jika kelakuan sebagai penjahat kelamin tak juga direm, ini sangat merusak citra calon pewaris tahta negeri Dwarawati. Masak, calon raja kok hobinya “sastro-pandelepan” (penjahat kelamin). Apa harus dihukum kebiri juga?
“Udah, udah. Kamu kan pembantu, jangan banyak omonglah. Disuruh ngalor, ngalor. Disuruh ngidul ya ngidul,” omel Samba lewat twitter juga.
“Memangnya gue pesuruh…?” balas Petruk.
Kenapa Samba begitu ngotot bikin skandal dengan kakak ipar sendiri? Ya karena Dewi Hagnyanawati termasuk wanita yang cantik dan gatelan. Gatel yang satu ini memang tak bisa sembuh oleh Kalpanax atau minyak tawon, sehingga ketemu Samba yang menang tongkrongan dan “tangkringan”, dia nguber terus.
Punakawan, Patih Udawa, Setyaki, semua sudah tahu dan terpaksa memaklumi skandal di balik tembok istana Trajutrisno ini. Karena selama ini hanya ketahuan orang dalam, semuanya aman-aman saja. Tapi begitu Garuda Wilmuna –kendaraan pribadi Prabu Setija– sekali waktu melihat betapa Samba-Hagnyanawati sedang “bergulat” dalam kasur, lain lagi ceritanya.
“Wilmuna, kamu butuh duit berapa, tinggal ngomong. Yang penting kasus ini jangan sampai ke Kangmas Setija.” Raden Samba mencoba menyogok.
“Memangnya saya petugas pajak atau anggota DPR, yang mau diem karena uang? Nggak bisa. Skandal ini harus kulaporkan,” kata Garuda Wilmuna sambil terbang.
Raden Samba sempat mencegah, menahan lajunya Garuda Wilmuna, tapi hanya dapat ekornya, hingga jebol satu. Tanggung amat, bulu tersebut langsung dipakai untuk pengkilik kuping, sekedar meredakan gairahnya. Maklum, dia mendadak ingat Dewi Hagnyanawati yang memang enak digoyang dan perlu.
Alkisah, Prabu Setija sedang of dari tugas kerajaan. Segala urusan kenegaraan diserahkan pada Patih Pancatnyana. Dia sendiri sedang santai di villanya, daerah Puncak. Dia juga bukan raja yang bersih-bersih amat, sehingga dalam villa itu dia juga dikelilingi sejumlah wanita cantik. Mereka selalu siap memijit sang raja, tapi juga siap “dipijit” Prabu Setija bilamana diperlukan. Simbiosis mutualis.
“Lapor Boss, ada info penting,” kata Garuda Wilmuna tiba-tiba, tanpa pencet bel lagi.
“Ada kabar apa? Lain kali kalau masuk permisi dulu, jangan slonong boi,” tegur Prabu Setija, maklum sedang ketanggungan. Lagian dia memang tak pernah puasa.
Lalu berceritalah Garuda Wilmuna, bla bla bla…… Dia rupanya juga punya bakat wartawan amplop, sehingga laporannya bisa diplintar-plintir, sekaligus didramatisir. Maksudnya tentu saja, agar Prabu Setija cepat marah dan kemudian ngamuk. Maklum, Wilmuna sendiri tak suka dengan Raden Samba, karena sipatnya yang pelit. Bayangkan, dia bikin pabrik kacang kulit dengan logo dirinya, tapi tak pernah memberi royalti.
“Jadi harus saya apakan Samba?” Prabu Setija minta pendapat.
“Bunuh, dan mayatnya dipotong kecil-kecil mirip bakso.”
Prabu Setija segera kembali ke Trajutrisna dengan ngethapel di punggung Garuda Wilmuna. Ini kendaraan yang hemat BBM, yang tak terpengaruh kebijakan mobil dinas harus pakai Pertamax. Maka bila di tempat lain pejabat nekad pakai premium, Prabu Sutijo jauh sebelum itu sudah tak pernah gunakan premium, wong kendaraannya hanya burung Wilmuna.
Dengan kecepatan 10 knot perjam, dia tiba di kerajaan Trajutrisna tepat pukul 15.00 sore. Diam-diam dia masuk kamar. Eh, betul juga kata Wilmuna. Di situ ditemukan Samba – Hagnyanawati sedang bergumul tanpa busana. Agaknya mereka tidak puasa, sehingga tak takut harus membayar kifarat dengan puasa 2 bulan berturut-turut.
Langsung saja Prabu Setija cabut keris buatan Cipacing, buat mengeksekusi keduanya serentak. Hanya dengan 2 kali jusss, matilah Samba – Hagnyanawati. Yang aneh, begitu keduanya tewas, mendadak muncul wujud Betari Drema dan Dremi, dan keduanya langsung kabur naik angkot presis napi LP Pekanbaru.
“Bagaimana Wilmuna, harus aku apakan kedua mayat terkutuk ini?” Prabu Setija masih bersungut-sungut, meski tak punya sungut macam jangkrik.
“Sesuai saran saya, juwing-juwing (sobek-sobek) saja mereka. Kalau perlu masukkan blender, buat jusss sari Samba – Hagnyanawati.”
Belum juga penghilangan mayat Samba-Hagnyanawati dilaksakan, ternyata berita pembunuhan sadis itu terdengar oleh Prabu Kresna. Marahlah raja Dwarawati itu. Beliau segera terbang ke Trajutrisna, untuk mengadili dan bikin perhitungan dengan Setija. Maunya, Setija dibawa pulang ke Dwarawati, baru diadili dan dieksekusi.
Tapi ternyata Patih Pancatnyana membela mati-matian. Apa pun alasannya, peradilan harus tetap dilakukan di Trajutrisna, sesuai dengan azas locus delicti. Lagi pula kriminalisasi raja negara lain itu pelanggaran HAW (Hak Azasi Wayang) sangat berat. Apa mau Prabu Kresna terkena sidang istimewa?
“Pancatnyana, jangan ngaco. Tak gebug kamu!” ancam Prabu Kresna.
“Bodo amat, emangnya gue HTI? Sidang dulu dong, baru gebug.”
Langsung saja Krena ambil senjata Cakra, sekali makjleb…. mampuslah Patih yang mrengkel bin ngeyel itu. Dengan pesawat khusus, Setija malam itu diangkut ke Dwarawati. Tapi sial, belum juga diproses perbal, setibanya di Dwarawati mau kabur dia. Segera saja Senjata Cakra dilepaskan. Sekali panah lepas dari busurnya, matilah Prabu Setija. Takut dia hidup lagi karena punya aji Pancasona, segera jenazahnya dimasukkan pancaka (panggung) dan dibakar. Setija pun wasalam. Bau-bau gurih sedap mirip belut goreng segera tercium, maklmu Setija ini masih keturunan ular naga Hyang Antaboga. (Ki Guna Watoncarita)



