Trump Berulah, Keluar dari Kesepakatan Paris

AS menyatakan keluar dari Perjanjian Paris tentang Peubahan Iklim dengan alsan merugikan ekonominya (newsanalysedaily)

DENGAN alasan berdampak buruk bagi perekonomian dan kedaulatan Amerika Serikat, Presiden Donald Trump seperti diduga semula, menarik diri dari Kesepakatan Paris 2015 tentang penanganan bersama perubahan iklim global.

Keputusan Trum itu selain dikecam oleh sejumlah pemimpin dunia, juga muncul dari dalam negerinya sendiri. Baik dari perseorangan, industri, perguruan tinggi,  pemerintahan kota sampai ke negara bagian.

Paling tidak 30 walikota, tiga gubernur, 82 rektor dan lebih 100 pengusaha di AS sedang menyiapkan rancangan yang akan disampaikan ke PBB guna memenuhi target pengurangan emisi karbon yang menjadi kewajiban AS sesuai kesepakatan Paris.

Bahkan mantan penasehat empat persiden AS sebelumnya, David Gergen menyebutkan, keputusan yang diambil AS sebagai negara pengosumsi karbon dioksida terbesar dunia dari Kesepakatan Paris adalah tindakan tidak  bertanggungjawab dan paling memalukan dalam sejarah negeri itu.

Menurut Gergen, keputusan sepihak Trump menciptakan citra buruk dunia terhadap AS dan merupakan kemunduran bagi kelanjutan kehidupan di planet ini.

“Walau tidak ada implikasinya secara langsung, kesepakatan untuk membatasi emisi gas CO2 mengikat di bawah hukum international, “ ujarnya.

Kesepakatan Paris yang ditandatangani AS di era Presiden Barrack Obama bersama 196 negara lainnya bertujuan menggalang upaya untuk menekan emisi karbon dunia yang 40 persen diantaranya dihasilkan AS dan China.

Aksi bersama untuk menghadapi tren meningkatnya emisi karbon dari tahun ke tahun perlu dilakukan guna mencegah terjadinya pemanasan global yang pada gilirannya berdampak pada perubahan iklim.

Buktinya, 2016 mencapai rekor tahun tepanas ketiga atau terjadi peningkatan suhu udara 1,1 derajat dibandingkan pada era praindustri, punahnya bagian es terkecil kedua (seluas 4,14 juta Km2), sedangkan di tahun sebelumnya (2015) terjadi efek rumah kaca dimana emisi CO2 di atas 400 ppm (bagian per juta).

Tidak hanya itu, pemanasan global mengancam 19 persen 8.688 spesies satwa  dilindungi, naiknya 3,3 meter permukaan laut (2004 sampai 2015), menyusutnya gletser Alpine dan dua juta Km2 lapisan es Antartika pada 2016 (dari 14,5 juta Km2 pada 1981 sampai 2010) dan rusaknya 60 persen karang di Greet Barrier Reef, Australia.

Cuaca ekstrim berupa taifun yang lebih ganas menigkat 12 sampai 15 persen di kawasan Asia Tenggara selama 37 tahun terakhir.

Bagi Indonesia sendiri, seperti disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, sikap AS tidak akan mengubah langkah RI untuk menjalankan program-program penurunan emisi gas rumah kaca tersebut.

Selain menyebabkan 300,000 keluarga di kawasan Asia Pasifik kehilangan rumah akibat terjangan topan sebagai dampak perubahan iklim, menurut Siti Nurbaya, kerusakan karang juga meluas di Indonesia akibat El Nino l998, 2010 dan 2016.

Sampai 2030, Indonesia betekad menurunkan emisi gas CO2, 29 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen melalui bantuan luar negeri.

Tanpa AS, komunitas dunia harus mampu bahu-membahu menyelamatkan planet, hunian bersama kita semua!  (AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

A

Advertisement