MARAWI – Ribuan warga sipil yang berharap bisa melarikan diri dari pertempuran di kota Marawi tetap terjebak pada hari Minggu (5/6/2017) setelah gencatan senjata selama empat jam untuk mengevakuasi warga terganggu oleh tembakan.
Nyatanya, hanya 134 yang berhasil dievakuasi pada hari Minggu, dan kurang dari pada hari-hari sebelumnya, meskipun pemerintah berharap bahwa lebih dari 1.000 orang dapat meninggalkan kota yang sudah 13 hari dilanda pertempuran sengit tersebut.
Presiden Rodrigo Duterte memperkirakan pengepungan tersebut akan berakhir dalam beberapa hari meskipun ada perlawanan sengit oleh militan di jantung kota padat di kota Mindanao, pulau selatan.
“Ini akan berakhir dalam waktu sekitar tiga hari lagi,” kata Duterte pada hari Sabtu setelah mengunjungi sebuah rumah sakit di Cagayan de Oro di mana tentara yang terluka dirawat. “Saya tidak akan ragu untuk menggunakan setiap kekuatan yang ada.” ungkapnya.
Duterte juga telah meminta Front Pembebasan Islam Moro (MILF), sebuah gerakan separatis Islam yang berbasis di Mindanao, untuk membantu menegosiasikan kesepakatan damai dengan militan, yang sebagian besar diambil dari Grup Maute yang berbasis di sekitar Marawi.
Semenatara itu kader MILF mengatur gencatan senjata hari Minggu, yang berlangsung dari pukul 8 pagi sampai siang hari setempat. Mereka berkeliaran di jalanan dengan pengeras suara mendesak warga untuk pergi.
Tapi pukul 9 pagi, terjadi tembakan yang menghalangi warga untuk mengevakuasi diri, dan 2.000 orang masih terjebak.
Irene Santiago, yang ditunjuk oleh Duterte untuk mengatur perdamaian, mengatakan bahwa usaha negosiasi akan berlanjut dengan Maute untuk melakukan gencatan senjata lainnya pada hari Senin (6/5/2017).





