GAZA–Kepala Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB di Palestina, Robert Piper, mengingatkan konsekuensi buruk akibat pengurangan pasokan listrik di Gaza. Kebijakan sepihak Israel ini dapat berdampak pada 2 juta warga Palestina yang mendiami Gaza.
Piper pun meminta Otoritas Palestina, Hamas, dan Israel untuk berkompromi dan memprioritaskan kepentingan warga Gaza untuk menghindari penderitaan lebih lanjut. “PBB telah meminta masyarakat internasional untuk mendukung upaya kemanusiaannya yang terbatas untuk mencegah terhentinya layanan dasar seperti, kesehatan, air bersih, dan sanitasi,” ujarnya seperti dikutip dari ReliefWeb, Kamis (15/6/2017).
Awal pekan lalu, kabinet Israel sepakat untuk mengurangi pasokan listrik ke Jalur Gaza. Kebijakan ini diambil menyusul keputusan yang dikeluarkan Otoritas Palestina untuk mengurangi pembayaran bulanannya sebesar 30 persen.
Piper menegaskan, jika kebijakan ini diteruskan, situasinya akan memburuk dan akan menjadi bencana besar. “Pengurangan ini akan berdampak pada penurunan layanan (listrik) menjadi 2 jam sehari bagi sebagian besar rumah tangga,” tambahnya.
Rumah sakit, pasokan air, pengolahan air limbah dan layanan sanitasi di Gaza telah dikurangi secara drastis sejak pertengahan April lalu. Situasi ini membuat PBB harus mengirimkan 1 juta liter bahan bakar setiap bulan untuk menjaga fungsi layanan dasar di 186 fasiitas penting di Gaza tetap beroperasi.
“Pemadaman yang terus menerus akan menyebabkan keruntuhan total layanan dasar, termasuk fungsi penting di sektor kesehatan, air dan sanitasi,” kata Piper. “Orang-orang di Gaza seharusnya tidak disandera atas perselisihan internal Palestina yang telah berlangsung lama ini,” tambahnya.





