Ilustrasi Warga Kongo cemas di tengah konflik/ BBC
KONGO – Pertempuran antara pasukan keamanan Kongo dan milisi suku telah membunuh setidaknya 3.383 orang di wilayah Kasai sejak Oktober atau kurang lebih delapan bulan hingga kini.
Gereja Katolik pada hari Selasa (20/6/2017) melaporkan mengenai kekerasan tersebut. Pejabat gereja, mengutip sumber mereka sendiri di wilayah terpencil yang berbatasan dengan Angola, mengatakan bahwa tentara telah menghancurkan 10 desa karena berusaha membasmi sebuah pemberontakan.
Mereka juga menuduh milisi Kamuina Nsapu membunuh ratusan orang, menghancurkan empat desa dan menyerang properti gereja dalam sebuah kampanye untuk mengusir pasukan pemerintah pusat. Bentrokan tersebut telah memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di raksasa Afrika tengah itu, dimana sebuah pertikaian persaingan etnik terjadi dan klaim mengenai sumber daya mineral. Pertarungan melonjak di Kasai pada bulan Agustus ketika tentara membunuh seorang pemimpin yang telah meminta pasukan pemerintah pusat untuk keluar dari wilayah tersebut, dengan mengatakan bahwa kepemimpinan harus diserahkan kepada pemimpin lokal.
Kekerasan tersebut telah memicu ketegangan politik yang telah diperkuat oleh keputusan Presiden Joseph Kabila untuk tetap berkuasa melampaui akhir tahun 2016 akhir mandatnya. Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa akan memutuskan minggu ini apakah akan mengotorisasi penyelidikan atas kekerasan Kasai. Penyidik PBB mengatakan bahwa mereka telah menemukan 42 kuburan massal, dan lebih dari 1,3 juta orang telah melarikan diri dari pertempuran tersebut.
Namun pemerintah Kongo menentang penyelidikan internasional, dengan mengatakan bahwa hal itu akan melanggar kedaulatannya, demikian dilansir Reuters.