MEDAN – Ratu Hazaraha Putri Rizali (9), siswi berprestasi di sekolahnya harus kehilangan pendidikan karena ia tak dapat melanjutkan sekolahnya sejak matanya rusak akibat dugaan malapraktik di klinik dekat rumahnya.
Ia mengalami kebutaan pada kedua matanya. Kebutaan ini akan menjadi permanen dan tak bisa disembuhkan lagi jika hingga dua tahun ke depan ia tak dioperasi.
Kisah malapraktik yang melanda Putri, begitu panggilan akrabnya, yang merupakan warga Jalan Cempaka, Komplek ACM, Medan Helvetia, menurut neneknya, Rosma (54), berawal dari demam saat kelas 2 SD, tepatnya pada Juni 2016 setahun silam.
Nenek dan ibunya pun berinisiatif membawa Putri ke klinik yang tak jauh dari rumahnya. Namun, Putri yang merupakan Siswi Kelas 3 SD Kartika Jalan Gaperta ini justru tidak memperoleh kesembuhan.
Dia malah demam tinggi, setelah mengkonsumsi obat yang diberikan petugas kesehatan di klinik tersebut.
“Awalnya cuman panas, sorenya kami bawa ke klinik, tapi setelah makan obat dari sana dia makin parah. Paginya kami bawa lagi ke klinik. Panasnya nggak turun, lalu ditukar obatnya,” kata neneknya mengisahkan, mengutip Tribun Medan, Rabu (21/6/2017).
Lebih lanjut, Rosma menjelaskan, melihat kondisi Putri semakin parah, akhirnya mereka membawa Putri berobat ke Rumas Sakit (RS) Bunda Thamrin. Sesampainya di RS Bunda Thamrin, kondisi wajah cucunya, apalagi kelopak matanya seperti terkena luka bakar.
Sesuai keterangan dokter di Rumah Sakit Bunda Thamrin, penyebab luka di sekujur tubuh Putri akibat salah pemberian obat. Obat dimaksud adalah, seperti yang diberikan petugas klinik di tempat Putri berobat sebelumnya.
“Dokter di Rumah Sakit Bunda Thamrin bilang, Putri gosong badannya dan nggak bisa lihat akibat salah obat yang dikasih orang klinik. Karena, dokter yang bilang itu juga memeriksa obat yang berasal dari klinik itu,” terangnya.
Brbagai upaya tetap dilakukannya guna memperoleh kesembuhan cucunya. Hingga mereka membawa Putri ke Rumah Sakit International Specialist Eye Centre (ISEC) di Kuala Lumpur.
Tindakan yg dianjurkan di Kuala Lumpur, yakni operasi transplantasi stemsel mata perkiraan biaya 60.000 ringgit, setara Rp 200 juta. Belum lagi memikirkan persiapan biaya operasi tersebut, sejak setahun terakhir, mereka telah kehabisan biaya sedikitnya Rp 150 juta untuk biaya pengobatan Putri.
Biaya itupun mereka kumpulkan tidak mudah, hanya saja ada bibi Putri yang mau membantu mereka. Ibu Putri, Novia Citra Utami hanya bekerja sebagai sales proyektor yang hanya berpenghasilan pas-pasan. Sedangkan ayahnya, Dendi Azhari Rizaldi tak ada kabar beritanya.
Meski demikian keluarga Putri tak berniat menuntut klinik tersebut dan mereka hanya fokus bagaimana memperoleh kesembuhan cucunya.
“Kasihan juga nanti bidannya. Kalau kita tuntut, dia bisa kehilangan pekerjaan. Dan aku yakin, dulunya dia juga tidak berniat buruk untuk cucuku,” ucapnya.





