
PIDATO kunci Presiden ke-44 Amerika Serikat pada Konferensi ke-4 Diaspora Indonesia (KDI 4) tentang toleransi dan keberagaman sangat menyentuh dan mengena dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara yang sedang dihadapi negeri ini.
Alasannya, panggung politik dan media sosial terutama sejak proses pilkada DKI Jakarta November lalu dan bahkan masih berlanjut hingga saat ini, penuh dengan ujaran kebencian, hujatan, fitnah, hoax atau berita bohong dan caci-maki.
Apa saja topik bahasannya, jika tidak sepaham, cukup dijadikan alasan untuk menyerang pihak yang dianggap lawan atau berseberangan. Stigma kafir dengan mudah bisa dilekatkan pada orang yang berbeda keyakinan atau orang berkeyakinan sama tetapi mendukung pemikiran tokoh yang bukan seiman.
Etika, tatakrama, acuan argumentasi, apalagi saling menghargai jika tidak dicapai titik temu dalam berinteraksi tidak diperlukan lagi, karena semua teralienasi oleh dikotomi yang menghadap-hadapkan pihak saya, kami, kita dengan kalian, dia atau mereka.
“Anda atau mereka tidak paham, bodoh, murtad sehingga pantas jadi penghuni neraka, “ demikian pandangan orang yang menganggap dirinya paling benar.
Indonesia, untaian zamrud yang membentang sepanjang katulistiwa, dengan luas daratan 1,9 juta Km2, luas laut 4,5 juta Km2 terdiri dari 13.446 pulau dan dihuni lebih 300 etnik dan 1.340 Â sukubangsa, penuh warna-warni pluralisme dan keberagaman, sehingga jika tidak dikelola dengan bijak, rawan dan rentan perpecahan.
Obama mengingatkan, semangat Indonesia adalah toleransi yang membuat rakyat saling menghormati dan hidup berdampingan secara harmonis, Â diwujudkan dalam Bhineka Tunggal Ika.
“Kaum muda harus memperjuangkan dan mempromosikan toleransi, “ ujarnya seraya menambahkan, pluralisme dan toleransi adalah salah satu tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia ke depannya.
Obama yang pernah melewatkan masa kecilnya beberapa tahun di Indonesia kagum pada sikap toleransi dan keberagaman yang tercermin dari peninggalan agama Budha seperti candi Borobudur dan situs agama Hindu seperti candi Prambanan atau kesenian wayang yang hadir di tengah mayoritas penduduk yang beragama Islam.
Namun Obama yang tampaknya sudah mendapat bisikan mengenai mulai munculnya isu-isu primordialisme di Indonesia akhir–akhir ini mengingatkan, kemajuan teknologi juga bisa membuat depresi jika isu diskriminasi, ras dan agama mulai diungkit-ungkit.
“Kita harus lawan ini, karena kemajuan tidak akan bisa diraih jika kita tidak memperjuangkan toleransi, “ demikian ajakan Obama.
Walau pun sekedar imbauan yang disampaikan seorang mantan presiden – sahabat Indonesia – tidak ada salahnya jika kita merenungkannya .
Soalnya, selama ini jika terjadi masalah di dalam negeri, ada saja yang menganggap hal itu dilakukan oleh tangan-tangan asing yang menghendaki Indonesia tercerai berai.
Tentu hal itu bisa saja terjadi, namun mari kita berfikir positif sambil merenung, Â jangan-jangan kita sendiri yang belum menyadari arti toleransi di tengah keberagaman bangsa ini.




