Pendatang di Jakarta Enggan Pulang Kampung

Bertambah lama tinggal di Jakarta, pendatang merasa betah hingga enggan pulang kampung asalnya (hallo-pet.com)

BERTAMBAH lama kaum pendatang berada di ibukota, ternyata semakin betah sehingga enggan pulang kembali ke kampung halaman asal mereka.

Hal itu terungkap dalam pengumpulan pendapat yang dilakukan Litbang Kompas pada 18 dan 19 Juni lalu secara acak terhadap 459 responden di wilayah Jabodetabek berusia 17 tahun.

Sebagian besar (63,6 persen) pendatang yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya selama periode nol sampai lima tahun masih berniat kembali ke kampung halamannya, (pulkam) sedangkan sisanya (36,4) persen menyatakan tidak.

Sementara hanya 40 persen permukim yang sudah berada di Jakarta antara enam sampai 10 tahun berniat pulkam atau menurun jumlahnya, bahkan separuhnya (50 persen) menjawab tidak tahu atau ragu akan pulang kampung atau tetap tinggal di ibukota dan sekitarnya.

Jumlah yang masih berniat pulkam turun lagi untuk permukim di Jabotabek di atas 10 tahun menjadi 31,6 persen, sedangkan yang bingung (tidak tahu) antara menetap di Jakarta atau pulkam juga meningkat menjadi 65,8 persen.

Jumlah imigran ke ibukkota, berdasarkan data dari BPS, memang meningkat dari dari 1,8 juta orang pada 1971, menjadi 4,07 juta orang pada 2010 dan menurun pada 2015 menjadi 3,6 persen karena sebagian pendatang menyebar ke wilayah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Pekerjaan (38,7 persen) menjadi “gula” yang mengiming-imingi “semut-semut” pendatang berbondong-bondong menuju wilayah Jabodetabek, selain lapangan kerja yang lebih banyak tersedia dan rata-rata tingkat upah (Rp4,6 juta) juga yang tertinggi di Indonesia. Mayoritas warga Jakarta ( 75 persen) bekerja di sektor formal.

Selain alasan pekerjaan, 28,5 persen responden bermukim di Jakarta karena ikut suami atau isteri,  sekitar 10 persen ikut orang tua atau anak dan 11 persen karena pendidikan.

Semakin baiknya sarana dan prasarana serta fasilitas yang dibangun misalnya bertambahnya jalur dan koridor busway, termasuk gratis naik Trans Jakarta bagi manula, sistem transportasi  MRT dan LRT dan KA komuter, RPTRA, Kartu Pintar dan Kartu Jakarta Sehat ikut membuat warga kian betah tinggal di Jakarta.

Namun dengan semakin beratnya beban daya dukung wilayah Jabodetabek, wacana pemindahan ibukota, antara lain ke Palangkaraya  perlu dipertimbangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement