Kelompok Maute Belum Takluk di Marawi

Pasukan Filipina (AFP) sedang bersiaga menghadapi pemberontak Maute di Marawi (merdeka.com)

WALAU praktis sudah terkepung oleh blokade satuan militer Filipina, kelompok Maute yang berafiliasi dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) belum bertekuk lutut di kota Marawi dengan melancarkan perlawanan sengit dari gedung ke gedung.

Tentara Filipina, demi menghindari jatuhnya banyak korban termasuk warga sipil,  Minggu lalu (9/7) melancarkan bombardemen dari udara dengan pesawat anti   gerilya (contra insurgent – COIN) OV-10 Bronco dan pesawat tempur FA-50 “Golden Eagle”.

Menurut catatan, pesawat OV-10 Bronco buatan AS pernah dioperasikan oleh TNI-AU sedangkan FA-50 (variant T50i) buatan Korea Selatan digunakan sebagai pesawat latih lanjutan dan sekaligus skuadron buru sergap.

Roket-roket yang diluncurkan dari heli Bell 412 yang terbang rendah memberikan  bantuan tembakan terhadap posisi penembak-penembak di balik-balik bangunan-bangunan beton yang luput dari serangan udara.

Penembak runduk pemberontak pimpinan Maute beraudara (Omar dan Abdullah) serta Isnilon Hapilon dan Mahmud yang disebar di 1.500 bangunan di tenga kota Marawi itu agaknya merepotkan satuan-satuan infantri AB Filipina (AFP) yang berupaya mendekati posisi mereka.

Memasuki hari ke-48 kontak senjata sejak Marawi diduduki pemberontak Maute, sebanyak 366 anggota pemberontak, 87 personil militer dan 39 warga sipil  tewas.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte sendiri berulang kali menyatakan tekadnya untuk menghancurkan kelompok Maute secepatnya, namun sampai saat ini pertempuran belum mereda dan sekitar 400.000 warga Maute mengungsi ke kota-kota sekitarnya guna menyelamatkan diri.

Selain terbatasnya jumlah personil dan peralatan, perang kota yang dihadapi AFP melawan pemberontak Maute merupakan pengalaman baru, apalagi pasukan pemerintah juga harus menghadapi milisi separatis lainnya seperti pejuang Kebebasan Islam Bangsa Moro (BIFF), Ansuar al-Khalifa Filipina (AKP) dan grup Abu Sayyap.

Menurut Jubir militer Filipina Letkol. Jo Er Herrera, pasukannya fokus mengoptimalkan capaian strategis yakni menetralisir kelompok teroris lokal, menyelamatkan sekitar 300 sandera dan menyiapkan program rehabilitasi.

Di Filipina termasuk di Mindanao kelompok separatis muslim terfragmentasi dalam sejumlah fraksi seperti MNLF pimpinan Nur Misuari terdiri dari fraksi  kelompok Abu Sayyap dan BIFF yang kemungkinan berafiliasi dengan Maute.

Walau pun sejauh ini wilayah pulau-pulau terluar Indonesia masih aman dari rembesan  kelompok Maute, kesiapsiagaan TNI harus terus ditingkatkan untuk mengantisipasi jika mereka terdesak dari Marawi.

Apalagi, dengan terdesaknya posisi NIIS di markas besar mereka di Mosul, Irak dan Raqqa, Suriah, sesuai dengan pernyataan pimpinan tertinggi mereka Abu Bakar al-Baghdadi untuk mengobarkan pertempuran di wilayah-wilayah lain khususnya di kawasan Asia Tenggara. (AP/AFP/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement