Sea Games 2017: Miskin Prestasi, Paceklik Medali

Kontingen Indonesia miskin prestasi dan paceklik medali di ajang SEA Games 2017 Kuala Lumpur (bola.com)

HELAT  akbar turnamen olahraga SEA Games hampir usai, Indonesia sebagai negara terbesar wilayah dan paling banyak penduduknya hanya menempati peringkat kelima perolehan medali, di bawah tuan rumah Malaysia, Thailand, Vietnam dan Singapura.

Hingga Minggu (27/8), Indonesia hanya mampu merebut 31 medali emas, 50 perak dan 58 perunggu, jauh di bawah raihan Malaysia dengan 96 emas, 64 perak dan 63 perunggu, bahkan dengan Singapura yang mampu mengoleksi 48 emas,   42 perak dan 57 perunggu.

Sukar dipahami,  Indonesia yang bakal menjadi tuan rumah Asian Games 2018, seolah-olah memandang sebelah mata pencapaian di gelanggang regional SEA Games Kuala Lumpur 2017.

Jika di gelanggang SEA Games saja atlit-atlit Indonesia miskin prestasi dan mengalami paceklik medali, apa yang diharapkan di helat lebih akbar Asian Games 2018 yang saat ini sudah dihitung mundur (countdown).

Tanpa mengurangi penghargaan dan rasa hormat pada para atlit yang telah berjuang membela nama bangsa dan negara, baik yang berhasil membawa pulang medali mau pun yang gagal, prestasi Indonesia di ajang pesta olahraga bangsa-bangsa di Asia Tenggara memprihatinkan.

Jika didanai dan ditangani lebih serius, Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak (250 juta jiwa), wilayah terbesar di Asia Tenggara, dan tentu dengan jumlah talenta dan SDM melimpah ruah, sepantasnya kampiun di ajang olahraga  kawasan ini.

Nyatanya, alokasi dana APBN setiap tahun untuk kegiatan olahraga, cuma ratusan milyar rupiah, harus berbagi pula dengan dengan KONI, KOI dan pengurus besar (PB)  cabang-cabang olahraga, juga kegiatan kepemudaan.

Jika diasumsikan tidak ada kebocoran atau minimal tidak terjadi inefisiensi pun, alokasi dana yang cuma 0,33 persen dari APBN jauh dari cukup.

Sebagai pembanding, anggaran kegiatan olahraga negara jiran Malaysia mencapai  Rp1,7 triliun, Singapura Rp1,8 triliun dan Thailand Rp2 triliun.

Itu baru soal pendanaan. Dari sisi pembinaan, negara sekawasan sudah berlari di kurun waktu seperempat abad terakhir ini, sementara Indonesia jalan di tempat  bahkan terkesan tidak solid. “Kalau tidak Kemenpora, ya KONI dibubarkan saja, “ kata almarhum Gus Dur menyentil tumpang tindih antara fungsi keduanya.

 

Citra bangsa

Olahraga menunjukkan citra dan kebanggan bangsa karena di situ tercermin talenta atau bakat alam, manajemen pembinaan, semangat pantang menyerah, kerja keras dan disiplin.

Mungkin ada yang masih ingat, pelari marathon Bikila Abebe di era dekade 60-an yang membawa harum nama negara miskin asalnya, Ethiopia. Begitu pula dengan  Kuba, negara di Laut Karibia yang dikucilkan AS, dikenal dengan segudang petinju amatir kelas dunia.

Kamerun, negara kecil dan miskin di benua hitam, juga pernah terukir dalam sejarah atas keberhasilannya menjadi finalis kejuaraan sepakbola dunia dan, pemainnya yang sudah gaek pun, Roger Milla masih laku bermain di beberapa klub di Indonesia.

Jepang, salah satu kisah sukses negara maju memajukan olahraga, bahkan termasuk sepakbola yang semula tidak populer di negeri matahari terbit itu.  Kesebelasan Jepang sudah lima kali berturut-turut sejak 1998 sampai 2014 berkiprah di Piala Dunia dan sejumlah pemainnya merumput di liga-liga Eropa.

Sebaliknya, di level SEA Games pun, sepakbola yang merupakan olahraga rakyat paling populer di seluruh penjuru negeri, laskar Garuda terseok-seok.

Mencapai semi final saja, pencapaian tim U-22 Garuda Muda besutan pelatih Louis Milla di Sea Games 2017 Kuala Lumpur agaknya memang tertinggi, mengingat di babak penyisihan saja, sudah keteran dan dikurung hampir sepanjang permainan oleh kesebelasan Vietnam .

Dalam sejarah kesertaan di SEA Games sejak 1977, baru dua kali  PSSI meraih medali emas di SEA Games yakni di Jakarta pada 1987 dan Manila pada 1991.

Berbagai upaya, sebagian instan dilakukan, mulai dari pembentukan pusat latihan di dalam negeri, pengiriman pemain ke luar negeri seperti tim Primavera ke Itali, naturalisasi pemain,  gonta-ganti pelatih asing dan menggelar pertandingan liga.

Pendanaan, pembinaan berjenjang  termasuk dari kelompok umur, target jangka pendek dan jangka panjang, partisipasi pihak swasta dan kepala-kepala daerah untuk memajukan olahraga harus disusun sejak awal.

Jalan panjang harus ditempuh untuk membuat Indonesia berjaya di ajang olahraga. Itu pun kalau segenap pemangku kepentingan sadar pentingnya arti olahraga bagi citra, kebanggaan dan juga alat pemersatu bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement