IKAL-BPPT Perkenalkan Kompor Biomassa

Koordinator Tim IKAL-BPPT dalam pelayaran bhakti PMK 2017 Prof. Dipl. Ing. Henky Sutanto memperagakan penggunaan kompor biomassa dengan teknologi pyrolysis pada kelompok ibu-ibu PKK di Raha, Kab. Muna. Sulawesi Tenggara

(KBK) – IKATAN Alumni (IKAL-BPPT) memperkenalkan penggunaan kompor biomassa berbahan bakar potongan kayu atau batok kelapa dengan teknologi pyrolysis yang cocok untuk masyarakat di pedesaan.

Demo penggunaan kompor biomassa diperagakan pada ibu-ibu kelompok PKK di kota-kota yang disinggahi misi Bhakti Pelayaran Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PB PMK 2017) di sejumlah wilayah Indonesia  timur dari 6 Oktober hingga 8 November.

PB PMK 2017 adalah misi pelayaran kelima yang digelar oleh Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (dulu Kemenko Menko Kesra) dengan destinasi dan thema yang berbeda.

Koordinator Tim IKAL-BPPT Prof. Dipl. Ing Henky Sutanto mengatakan, kompor biomassa yang dibawanya mengaplikasikan teknologi pyrolysis yakni pembakaran dengan minimum oksigen yang dapat menghasilkan arang rendah polusi.

Menurut Prof. Henky, kompor biomassa buatannya hanya memerlukan 20 persen oksigen dibandingkan dari yang dibutuhkan dalam pembakaran dengan kompor-kompor biasa.

Manfaat lain kompor biomassa, potongan kayu atau batok kelapa yang digunakan sebagai bahan bakar, menghasilkan arang, tidak menjadi abu seperti tungku berbahan bakar kayu yang banyak digunakan di desa-desa selama ini.

Tim IKAL-BPPT dibantu oleh sejumlah relawan Taruna Tanggap Bencana (Tagana) selain menyosialisasikan penggunaan kompor gas, juga  membagikan benih (biji) tanaman kaliandra dan sorgum manis yang bisa dikembangkan dalam sistem mix farming di kawasan pertanian.

Potongan pokok kayu kaliandra digunakan sebagai bahan bakar kompor biomassa, daunnya untuk pakan ternak dan lingkungan tanaman sebagai habitat lebah madu.

Sedangkan sorgum manis  yang dapat ditanam di sela-sela tanaman kaliandra, bijinya bisa dijadikan alternatif tanaman pangan dan batangnya jika diperas dapat dijadikan  bahan pemanis cair.

Sekitar 150 peserta berasal dari 44 instansi pemerintah, swasta, yayasan sosial dan perguruan tinggi ikut ambil bagian dalam PB PMK 2017  dalam pelayaran dengan kapal perang milik TNI-AL KRI Banjarmasin selama 34 hari.

Kegiatan sosial

Selama di lokasi-lokasi yang disinggahi, peserta lintas instansi dan organisasi tersebut melakukan tugas sosial seperti layanan kesehatan, penyuluhan pertanian, pemberian bantuan dan kegiatan lain untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat setempat.

Tim Bank Indonesia misalnya, melakukan kegiatan penukaran uang di kota-kota yang disinggahi dan bersama BPJS menyampaikan bantuan sejumlah traktor tangan untuk petani.

Tim LDII menyampaikan sejumlah sepeda motor untuk para da’i di kota-kota yang disinggahi, sedangkan tim yayasan sosial Pondok Kasih membawa mainan dan perlengkapan bagi anak-anak sekolah, sementara tim Persagi membawa 7,5 ton biskuit untuk balita, anak-anak usia sekolah dan ibu-ibu hamil bantuan Depkes.

Sayangnya, bantuan tambahan nutrisi dari Depkes yang disalurkan Persagi di Kab. Merauke, Mappi, Boven Digul dan Asmat sampai hari ini belum sampai ke tangan penerimanya karena disalurkan melalui pihak ketiga.

KRI Banjarmasin yang membawa peserta, berangkat dari dermaga Kolinlamil, Jakarta pada 6 Oktober, menyinggahi kota Raha di Kab. Muna, Kotamadya Tual dan Langgur di Kab. Maluku Tenggara, Dobo di Kab. Kep. Arafura, Agats di Kab. Asmat dan berakhir di Merauke.

(Nanang Sunarto/31 Okt.2017)

 

 

 

Advertisement