
DARATAN Eropa minus Russia tidak lama lagi akan memiliki pakta pertahanan baru beranggotakan seluruhnya 27 negara Uni Eropa (UE), kecuali Inggeris yang dalam proses hengkang dari perhimpunan negara-negara Eropa itu.
Di era Perang Dingin lalu mungkin tidak terbayangkan, negara-negara di Eropa yang terbelah dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dipimpin AS dan Pakta Warsawa di bawah Uni Soviet bisa menyatu.
Kini, sebagian anggota Pakta Warsawa seperti Ceko, Hungaria dan Bulgaria dan Rumania serta juga negara sempalan Uni Soviet yakni Latvia, Estonia dan Lithuania justeru malah bergabung ke dalam NATO, bekas seteru mereka di masa lalu.
Ide pembentukan pakta pertahanan bersama Eropa sebenarnya sudah muncul di era 1950-an, namun hal itu tidak terwujud sampai kini akibat penolakan keras dari Inggeris.
Kini, kehadiran “payung pertahanan” bersama semakin dibutuhkan terutama akibat permintaan AS agar Eropa memberikan kontribusi lebih besar lagi untuk membiayai operasi keamanan di kawasan itu.
Seremoni pembentukan pakta pertahanan Eropa dilakukan dalam pertemuan para menlu dan menhan UE di Brussel, Senin (13/11) sebelum ditandatangani dan disahkan oleh para pemimpin UE Desember mendatang.
Menlu Jerman Sigmar Gabriel menilai, kesepakatan pembentukan pakta pertahanan baru tersebut merupakan langkah bersejarah yang merupakan tonggak penting bagi Eropa ke depannya.
Menurut dia, untuk pertama kalinya pemerintah negara-negara UE mengikat diri dalam proyek bersama untuk meningkatkan anggaran pertahanan dan memberikan dukungan bagi pengerahan pasukan secara cepat.
Selain Inggeris yang dalam proses hengkang dari UE, seluruh negara anggota UE ikut bergabung termasuk Denmark yang biasanya menarik diri dari persoalan pertahanan serta Austria, Irlandia, Portugal dan Malta yang biasanya mengambil sikap netral.
Pembentukan pakta pertahanan baru yang disokong dana sebesar lima milyar Euro untuk pengadaan alutsista dan pembiayaan operasi militer diharapkan akan memperluas peran UE ambil bagian bagi penyelesaian berbagai krisis internasional.
Negara anggota pakta pertahanan nantinya diminta mengajukan rencana pertahanan nasional yang dirembuk bersama, sehingga setiap kesenjangan bisa diatasi bersama-sama pula.
Menlu Perancis Jean-Yvest Le Drian menilai, pembentukan pakta pertahanan baru tersebut merupakan bentuk komitmen diantara anggota UE untuk bekerjasama lebih baik lagi.
Sedangkan Kepala Kebijakan LN UE Federica Mogherini menilai, langkah baru Eropa ini akan melengkapi NATO sehingga memiliki kapabilitas dalam perang hybrida yakni penggunaan senjata konvensional dipadu cyber atau perang propaganda yang tidak dimiliki sebelumnya.
Si Avis Pacem Para Bellum. Siapa yang ingin berdamai harus siap perang.
Semoga pembentukan pakta pertahanan baru di Eropa ini akan mendorong perdamaian di kawasan tersebut dan dunia. (AFP/AP/Reuters/ns)




