NAMA dalam e-KTP ditulis Dewi Uma, tetapi panggilan sehari-hari dia biasa disebut Bethari Durga. Bertolak dari sepak terjangnya belakangan ini, kalangan wayang secara bisik-bisik menyebutnya ”Mama Minta Pulsa”. Soalnya, setiap ada tokoh ngercapada konsultasi ke padepokannya, diminta gratifikasi tambahan berupa pulsa. Bukan Rp 20.000,- sampai Rp 50.000,- tapi bisa bernilai jutaan. Walhasil hobinya nge-WA lewat grup ini itu tak pernah terkendala.
Saat bernama Dewi Uma, Betari Durga merupakan bidadari tercantik di kelasnya. Bodinya seksi, kulit putih bersih, betis mbunting padi, payudara mirip bakpao kembar; sehingga syahwat Betara Guru pun terbangkitkan selalu. Tapi gara-gara dia suka memanfaatkan jabatan suami di Jonggringsalaka, SBG pun marah dan dikutuklah Dewi Uma menjadi perempuan bermuka raksasa, lambang kerakusan. Dia pun terusir dari Jonggringsalaka dan namanya diganti Bethari Durga.
”Masak nggak ada kebijakan lain, pukulun. Aku di ngercapada bisa apa?” ratap Bethari Durga mohon ampunan.
“Terserah, sudah tak ada tempat lagi di kahyangan buatmu. Di ngercapada tanah masih murah, kamu bisa ambil rumah BTN cicilan. Nanti kamu bisa usaha apa saja, kalau perlu jualan pulsa atau air isi ulang, atau toko online.”
Dengan koper kecil dan ATM yang saldonya masih lumayan banyak, Bethari Durga tinggalkan Jonggringsalaka menuju ngercapada. Kebetulan dia ketemu orang Betawi yang mau naik haji, sehingga bisa beli 2 hektar tanah dengan harga murah. Bethari Durga pun segera membangun rumah besar diberi nama Pasetran Gandamayit. Meski lokasinya bukan daerah hunian, dengan menyogok Dinas Tatakota lokasi itu bisa dikuningkan dan bisa dibangun.
Selama jadi bini SBG, dia punya keahlian paranormal dan pengobatan tradisional. Bethari Durga langsung pasang iklan di Radio Safari, sehingga dalam waktu cepat banyak pasien datang, terutama para pejabat yang ingin naik posisinya. Dia pasang ”mahar” sampai Rp 100-200 juta, tapi tak mau ditransver bank, takut terlacak PPATK.
”Jadi nanti saya langsung lulus dan bisa dilantik?” kata seorang calon pejabat.
”So pasti. Saat kamu ikut fit and propertes, DPR-nya saya bikin linglung semua, sehingga kamu langsung disetujui.” jamin Bethari Durga.
Menyambut tahun baru 2018, SBG selaku penguasa kahyangan Jonggringsalaka bermaksud menurunkan wahyu Satria Lananging Jagad-II. Ini edisi terbaru setelah Satria Lananging Jagad-I yang dimiliki Harjuna. Kenapa musti ada edisi pertama dan kedua kayak mobil saja, karena dewa ingin memberikan kenikmatan duniawai secara merata, tak hanya dimonopoli oleh Harjuna.
Harjuna setelah memiliki wahyu Satria Lananging Jagad, mampu berbini 100 perempuan cantik. Tapi resikonya, gempor dia. Materil sih masih kuat, tapi onderdil yang tidak nyanggup sesuai dengan perkembangan usia. Makanya, ketika dimintai pendapat soal bakal hadirnya Satria Lelananging Jagad-II, Harjuna menyilakan saja. Memang perlu regenerasi, katanya.
”Banyak wayang penasaran, seperti apa nikmatinya jadi lelaki bisa koleksi bini sampai 100. Kini kesempatan itu kita buka kembali di 2018 mendatang,” kata SBG dalam sidang kerajaan terbatas.
”Ini sama saja melegalisasi para lelaki mata keranjang,” kata Betara Narada, nadanya disenting opinion.
Demikianlah, kabar bakal turunnya wahyu Satria Lananging Jagad-II sudah menjadi pembicaraan segenap wayang. Peminatnya ternyata wajah-wajah lama seperti Prabu Dewasrani dari Tunggulmalaya dan Burisrawa dari Cindekembang. Mereka dalam perebutan Satria Lananging Jagad-I sudah tereliminasi oleh keperkasaan Harjuna. Tapi begitu kahyangan membuka peluang, pengin maju lagi. Padahal elektabilitasnya ajeg pada angka 21 %.
Meski jelas-jelas Harjuna sudah tidak akan maju lagi, baik Dewasrani maupun Burisrawa masih ada rasa kurang pede juga, takut ada ”kuda hitam” yang muncul tiba-tiba dan menggondol wahyu tersebut. Maka ketika terbetik kabar bahwa Betari Durga dari Pasetran Gandamayit bisa membantu mempelancar ambisi itu, keduanya bermaksud ke sana. Itu sangat masuk akal, karena Betari Durga memang banyak punya jaringan di kahyangan. Namanya saja eks istri SBG.
”Jangan di Pasetran Gandamayit, banyak mata-mata. Kita ketemu di Hongkong saja….!” kata Betari Durga saat terima telepon dari Prabu Dewasrani.
”Oh begitu. Dana secukupnya, tambah uang pulsa secukupnya, semuanya siap Eyang Betari.” jawab Dewasrani di seberang.
Dalam pembicaraan itu disepakati bahwa Betari Durga siap mendesak kepada SBG agar wahyu ”Satria Lelananging Jagad” II diberikan kepada Dewasrani. Tapi kenapa pula pertemuan harus di manca negara? Pada intinya, Betari Durga merasa sayang bila harus menjamu. Jika di luar negeri kan atas tanggungan Prabu Dewasrani.
Nama Betari Durga memang jaminan mutu. Begitu banyak informasi seputar Jonggringsalaka yang bisa diperolehnya, menandakan bahwa dia menguasai jaringan di kahyangan. Jangankan cuma soal bakal turunnya wahyu, soal pengangkatan pejabat baru, bahkan kuota utang luar negeri; dia juga bisa mengintervensi.
”Lho, kok ini Burisrawa juga hadir di Hongkong. Mau ikut lagi?” tegur Betari Durga sambil merokok Gudang Garam merah. Betari Durga memang sudah tiba di Hongkong bersama Dewasrani.
”Iyalah eyang Bethari. Gagal dapat Sembadra, asal dapat cewek 100 kan sama saja. Impass.” kata Burisrawa blak-blakan.
”Sebetulnya ini susah, wahyu hanya satu kok diperebutkan dua orang. Tapi tenang saja, Pak Lurah SBG bisa diatur kok.” kata Betari Durga lagi.
Apa strategi lanjutan dari pertemuan segitiga di Singapura itu tidak jelas. Yang pasti baik Dewasrani maupun Burisrawa sama-sama puas, meski sudah bayar ”uang muka” masing-masing Rp 175 juta. Mereka pulang ke negri masing-masing dengan tenang, karena sudah bayangkan bakal punya bini 100 sebagai Satria Lananging Jagad.
Tahun 2018 belum juga tiba, mendadak terbetik berita SBG sudah menurunkan wahyu Satria Lananging Jagad dan jatuh pada Burisrawa. Tentu saja Dewasrani yang merasa lebih dekat dengan Betari Durga tidak terima. Kenapa ”anak angkat” justru dikalahkan oleh tokoh kemampo (setengah tua) yang kredibilitasnya tidak jelas.
”Saya protes Eyang Betari, kenapa jadwal wahyu turun dimajukan dan jatuh ke wayang lain? Apakah sogokan saya kurang?” kata Prabu Dewasrani pagi pagi, sesudah tiba di Pasetran Gandamayit.
”Masak sih? Aku belum terima infonya. Ente jangan menuduh sembarangan ya, coba saya cek dulu, sabar.” tangkis Betari Durga. Baru kali ini terima mosi tidak percaya dari umat di ngercapada.
Presedur penerbitan wahyu di kahyangan selama ini sebagai berikut. Setelah SK diteken SBG, kemudian dinomeri SK oleh Betara Penyarikan, dan dicatat di Lembaran Kahyangan, barulah disosialisikan ke publik di ngercapada. Bila belum juga tiba tahun 2018 wahyu ”Satria Lananging Jagad” sudah turun, berarti Betara Penyarikan yang bermain.
Dicek ke Betara Penyarikan, ternyata beliaunya malah terkaget-kaget. Itu barang sebetulnya masih dititipkan di tukang fotokopi, tapi belum sempat diambil. Usut punya usut, ternyata kios fotokopi itu sudah berganti pemilik ke Burisrawa. Jelas sudah, Raden Burisrawalah yang bermain.
”Jadi Betari Durga jangan salahkan saya. Gua mah tokoh bersih.” kata Betara Penyarikan.
”Bersih tapi berlepotan! Itu kan dokumen penting, kenapa difotokopi di ngercapada? Payah lu ah…..” omel Betari Durga dan terus meluncur ke ngercapada.
Ternyata di jalan ditemukan Burisrawa – Prabu Dewasrani tengah berperang, memperebutkan dokumen wahyu Satria Lananging Jagad. Betari Durga dan Betara Narada mencoba menengahi. Ketimbang bikin gaduh, solusinya adalah: wahyu itu dibagi dua, menjadi ”Satria Lananging Jagad” II tapi seri A dan B. Resikonya, hak perempuan yang bisa dinikahi masing-masing tinggal 50 wayang cantik. Ketimbang tidak dapat sama sekali, Burisrawa dan Dewasrani menerima. Cuma soal pencurian dokumen tersebut, tetap akan diproses sebagaimana mustinya. (Ki Guna Watoncarita)



