Isu Palestina: Saatnya Islam Bersatu

Ilustrasi/ IST

DI SAAT dunia termasuk Uni Eropa (UE), sekutu utama Amerika Serikat, ikut menentang keputusan sepihak Presiden Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel, peluang emas bagi negara-negara Islam atau yang mayoritas berpenduduk Islam bersatu.

Ketidakterpihakan UE pada Israel tampak jelas dari sikap yang mereka tunjukkan di tengah lawatan diplomatik PM Israel Benyamin Netanyahu ke Markas Besar UE di Brussel, Belgia akhir pekan lalu dalam upaya membujuk UE mengikuti jejak AS.

PM Belgia Charles Michel dan Presiden Perancis Emmanuel Macron bahkan mengambil prakarsa untuk mengajukan inisiatif bersama dalam forum pertemuan UE yang menegaskan, Jerusalem adalah ibukota bagi Israel dan Palestina.

Sikap UE seperti yang ditegaskan lagi oleh Ketua Dewan Eropa Donald Tusk di Brussel (15/12) tetap tidak berubah yakni mendukung solusi dua negara (Israel dan Palestina) atau berarti menolak untuk mengikuti jejak Trump.

Nada lebih lunak dilontarkan Trump, setidaknya pasca pernyataan sepihak untuk mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel dan segera akan memindahkan kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem yang disampaikannya 6 Desember lalu.

Melunaknya sikap Trump – kemungkinan akibat tekanan internasional – tercermin dari pernyataan Jubir Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert (harian al-Hayat, 15/12) yang menyebutkan, Trump tetap berkomitmen dalam proses perdamaian dan mendukung solusi dua negara (Israel dan Palestina-red).

Bagaimana dengan negara-negara Arab sendiri yang mewakili arus utama ummat Islam?

Di forum KTT Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang juga dihadiri Presiden RI Joko Widodo (13/12), nuansa kubu-kubuan di kalangan negara Arab tampak jelas walau deklarasi pertemuan memuat pernyataan  OKI menentang ulah sepihak AS.

Aroma perebutan hegemoni di kawasan Timur Tengah antara Iran dan Arab Saudi juga mewarnai KTT Luar Biasa OKI, dilihat dari level petinggi yang mewakili negara masing-masing dalam isu terkait status Yerusalem tersebut.

Seluruh anggota kubu Iran diwakili pimpinan tertinggi masing-masing termasuk Iran yang diwakili Presiden  Hassan Rouhani, Turki sebagai tuan rumah diwakili Presiden Recep Tayyip Erdogan, Presiden Lebanon Michel Aoun, Presiden Irak Fuad Masum dan Emir Qatar Sheikh Tamim.

Sementara kubu Arab Saudi beranggotakan Bahrain, Mesir dan Uni Emirat Arab hanya menghadirkan pejabat tingkat menteri.

Walau tetap berada di jalur OKI, agaknya kubu Arab Saudi tidak rela sepenuhnya persoalan Jerusalem didominasi kubu Iran yang pada gilirannya juga bisa mendorong bangkitnya kembali kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Sudah menjadi rahasia umum, Iran yang menganut aliran Syiah dan Arab Saudi yang berpaham Sunni berseberangan di sejumlah isu di kawasan Timur Tengah.

Iran mendukung Qatar yang dikucilkan Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir, dan dalam konflik Yaman, mendukung rezim Ali Abdullah Saleh dan milisi Houthi  melawan pengikut mantan Presiden Abdurrabuh Mansour Hadi dukungan Arab Saudi.

Di kancah perang saudara di Suriah, Iran mendukung rezim petahana pimpinan Presiden Bashar al-Assad, sementara Arab Saudi berada di belakang pasukan perlawanan Suriah.

Terkait Palestina, sejumlah negara Arab mencurigai manuver Arab Saudi   mengundang Presiden Palestina Mahmoud Abbas November lalu, diduga untuk membujuknya agar berpihak pada keputusan Trump.

Saat itu disebutkan bahwa Putera Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman menawarkan Abu Dis di  pinggiran Yerusalem Timur yang dibatasi tembok Israel sebagai ibukota Palestina, namun ditolak Presiden Abbas.

Gelombang aksi menolak keputusan Trump berlangsung di berbagai kota di dunia  termasuk di Jakarta, Minggu pagi yang digelar MUI dan diikuti ratusan ribu massa dari berbagai kalangan dan ormas.

Aksi sepihak Trump seharusnya menjadi peluang emas bagi dunia Islam untuk menyingkirkan perbedaan, bersatu dan bahu-membahu melawan hegemoni AS. (AP/AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement