
PRESIDEN petahana Mesir Abdel Fatah el-Sisi hampir dipastikan bakal melenggang dengan mulus dalam pilpres yang akan digelar pada 26 – 28 Maret setelah para pesaingnya mengundurkan diri.
Ketua Partai Pembangunan dan Pembaruan, Mohammed Anwar dan penggiat HAM, Khaled Ali yang diperkirakan menjadi pesaing utama el-Sisi, dilaporkan telah memutuskan untuk mundur dari bursa capres.
Bos klub sepakbola Zamalek, Mortada Mansour juga telah menyatakan pembatalan rencana pencalonannya, begitu pula dengan Ketua Partai El-Wafd, Moh. Fouad Seraguldin yang malah menyatakan dukungannya bagi el-Sisi.
Selain para capres dari kalangan sipil tersebut, rezim el-Sisi dengan dalih demi menciptakan stabilitas politik, menahan tiga capres berasal dari militer yakni mantan Kastaf AB Letjen (Purn) Sami Annan, Ahmad Safiq (mantan PM dan KASAU era Presiden Hosni Mubarak), serta Kolonel Ahmed Konsowa.
El-Sisi yang menjadi presiden saat menjabat menteri pertahanan dengan menggulingkan presiden terpilih dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) pada 3 Juli 2013 agaknya tidak memberikan ruang sekecil apa pun pada kelompok oposisi untuk bermanuver.
Sejauh ini, el-Sisi juga dinilai berhasil meredam kekuatan kubu oposisi, baik dari kelompok Islamis termasuk dari IM maupun dari kubu yang beraliran liberal.
Berdasarkan ketentuan Komisi Pemilihan Umum Mesir, Senin ini (29/1) merupakan batas akhir pendaftaran para bakal capres.
Aturannya, tokoh yang berniat maju dalam bursa capres harus mengantongi dukungan paling tidak dari 20 anggota parlemen, 25.000 pemilih terdaftar dan masing-masing 1.000 tanda tangan pemilih di 15 provinsi.
Jika el-Sisi maju sebagai calon tunggal, apakah ia harus mampu mengumpulkan paling tidak 50 persen + 1 suara atau melawan kotak suara kosong? (AFP/ns)




