
RASA empati dan duka mendalam agaknya memang pantas diberikan pada almarhum Ahmad Budi Cahyono, guru honorer SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura yang tewas di tempat kejadian perkara di kelas akibat dipukuli siswanya.
Ahmad, sosok guru teladan itu menghembuskan nafas yang terakhir, Kamis (1/2) setelah dianiaya oleh MH (17), siswa kelas XII saat mengajar pelajaran melukis, karena pelaku tidak bisa menerima teguran yang disampaikan gurunya itu.
MH yang memang sering bermasalah dengan guru-guru lainnya, saat itu, bukannya megikuti pelajaran, malah menganggu teman-teman sekelasnya, bahkan tidak mengindahkan beberapa kali peringatan dari korban.
Penganiayaan terjadi akibat korban memoleskan cat berwarna di pipi pelaku yang langsung dibalas dengan beberapa kali pemukulan ke bagian kepala,tengkuk dan leher gurunya yang tidak berusaha melawan.
Aksi pemululan terhadap Ahmad berhenti setelah dilerai oleh siswa lainnya dan Ahmad minta izin pulang pada kepala sekolah tanpa melaporkan penganiayaan yang dialaminya, kemungkinan masih berusaha melindungi MH agar tidak ditegur oleh pihak sekolah.
Guru naas itu pingsan setelah beberapa saat berada di rumahnya di desa Jrengik, Kec. Jrengik, sehingga dilarikan ke RSUD Sampang dan kemudian dirujuk ke RS Soetomo, Surabaya.
“Nyawa korban tak tertolong akibat pendarahan otak dan saat divisum, batang otaknya sudah tidak berfungsi, “ kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangera.
Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof Akhmad Muzakki menilai, peristiwa itu terjadi a.l. karena lemahnya hubungan sosial siswa – guru yang layaknya seimbang, namun faktanya, posisi siswa, apalagi anak tokoh masyarakat atau pejabat, sering merasa lebih kuat hingga bisa berbuat semaunya.
Sedangkan Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi menganggap kasus tersebut sangat memilukan dan memprihatinkan sehingga ia meminta agar terus dilacak tuntas dan meminta agar guru, pihak sekolah dan orang tua membina hubungan baik serta bersama-sama mengatasi persoalan pendidikan.
Berbagai modus aksi kekerasan di dunia pendidikan bagaikan fenomena gunung es yang sebagian kecil saja muncul di permukaan, persoalan besarnya mengendap di balik berbagai persoalan bangsa lainnya.
Kasus-kasus lainnya, mungkin dengan derajat kekerasan lebih rendah, penganiayaan ringan, ancaman atau penganiayaan verbal terhadap guru mestinya banyak terjadi, namun tidak dilaporkan.
Orang tua melabrak guru, perkelahian di kelas atau tawuran antarsiswa atau sekolah di ruang-ruang publik, ada juga guru yang sewenang-wenang pada muridnya merupakan persoalan yang harus ditangani dan dicegah secara sistemik.
Dunia pendidikan selayaknya merupakan kawah candradimuka kader-kader penerus bangsa, tempat berkumpulnya anak-anak patuh, santun dan memiliki ‘unggah-ungguh’ dan beretika, bukan tempat untuk melampiaskan aksi-aksi biadab dan mengumbar angkara murka.
Jika cuma diributkan saat ada kejadian atau diramaikan di medsos, kejadian serupa niscaya bakal terulang dan korban berjatuhan lagi.




